Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan Ashaf membujuk pelaku upaya di sektor perikanan untuk menerapkan Sistem Ketertelusuran dan Logistik Ikan Nasional (Stelina). Sistem ini dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat daya saing produk perikanan Indonesia sekaligus memperluas jangkauan pasar, khususnya di tingkat global.
Penerapan sistem tersebut juga sejalan dengan upaya pengembangan sektor perikanan nan berkelanjutan. Selain memastikan transparansi rantai pasok, Stelina turut mendorong pemanfaatan sumber daya perikanan nan tetap memperhatikan daya dukung ekosistem.
“Produk perikanan nan dibutuhkan saat ini bukan lagi sekadar produk nan berkualitas, tetapi juga nan berasal dari rantai pasok nan legal, transparan, tertelusur, serta menjunjung tinggi prinsip keberlanjutan dan tanggung jawab sosial,” kata Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Didit Herdiawan Ashaf, di Jakarta, Jumat (10/4).
Menurutnya, tren pasar dunia menunjukkan konsumen semakin meletakkan perhatian pada asal-usul produk perikanan nan mereka konsumsi. Informasi mengenai metode penangkapan, praktik budi daya, hingga dampaknya terhadap lingkungan sekarang menjadi aspek krusial dalam menentukan pilihan produk. Karena itu, sistem ketertelusuran tidak lagi sekadar nilai tambah, tetapi telah menjadi kebutuhan pasar.
KKP Dorong Industri Perikanan Pahami Sistem Ketertelusuran
Sebagai bagian dari upaya tersebut, KKP pada 8 April 2026 telah menyelenggarakan Seafood Traceability Technical Alignment and Industry Engagement Workshop untuk meningkatkan pemahaman pelaku upaya perikanan mengenai pentingnya penerapan sistem ketertelusuran. “Kebutuhan pasar tersebut kita jawab dengan Stelina,” tegasnya.
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan juga memastikan bahwa program prioritas Presiden Prabowo, ialah pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih, diarahkan untuk meningkatkan produktivitas hasil perikanan melalui support sistem ketertelusuran nan jelas. Dengan demikian, Kampung Nelayan Merah Putih tidak hanya menjadi sentra produksi, tetapi juga bisa terhubung dengan pasar global.
Peran serta dan support seluruh pemangku kepentingan, baik nasional maupun internasional, dinilai sangat krusial dalam mendorong penguatan sistem ketertelusuran nasional. Karena itu, workshop berjudul Seafood Traceability Technical Alignment and Industry Engagement menjadi momentum strategis untuk memperkuat sinergi dalam membangun sistem ketertelusuran nasional nan semakin baik.
“Saya percaya langkah berbareng nan kita lakukan hari ini menjadi sumbangsih nyata dalam mewujudkan sektor kelautan dan perikanan nan berkelanjutan,” ujarnya.
Teknologi QR Code Integrasikan Rantai Pasok Perikanan
Senada, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Machmud, menyebut Stelina sebagai solusi kolaboratif berbasis interoperabilitas antarsistem, dengan luaran berupa teknologi QR code nan bakal memperkuat integrasi sistem dari hulu hingga hilir. Menurutnya, sistem ini memberikan gambaran nan menyeluruh mengenai ketertelusuran produk perikanan kepada konsumen.
Melalui sistem tersebut, setiap tahapan perjalanan ikan, mulai dari hasil budi daya alias tangkap hingga sampai ke tangan konsumen, dapat direkam beserta info dan informasinya secara transparan. Pengembangan ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat kepercayaan pembeli terhadap produk perikanan Indonesia.
“Sistem ini juga menepis rumor bahwa produk perikanan Indonesia berasal dari praktik illegal fishing maupun diproduksi dengan langkah nan tidak ramah lingkungan,” terang Machmud.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan komitmen KKP dalam menjalankan program ekonomi biru untuk menjaga keberlanjutan ekologi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu langkah nyata KKP adalah memastikan aktivitas penangkapan dan budi daya perikanan di Indonesia dilaksanakan secara berkepanjangan dan ramah lingkungan.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·