Wall Street Menguat di Tengah Sinyal Damai Perang Iran

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
New York Stock Exchange (NYSE) di Wall Street, New York City. Foto: Angela Weiss / AFP

Tiga indeks utama bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup sedikit menguat pada perdagangan Kamis (21/5) setelah bergerak fluktuatif, seiring nilai minyak mulai turun di tengah sinyal tenteram antara AS dan Iran. Meski demikian, kedua negara tetap berbeda mengenai stok uranium Teheran dan kendali atas Selat Hormuz.

Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 276,31 poin alias 0,55 persen menjadi 50.285,66, sekaligus mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa. Indeks S&P 500 naik 12,75 poin alias 0,17 persen ke level 7.445,72, sedangkan Nasdaq Composite menguat 22,74 poin alias 0,09 persen menjadi 26.293,10.

Setelah sempat bergerak di area merah pada pagi hari, saham-saham AS sukses berbalik menguat pada sesi perdagangan sore. Sementara itu, nilai minyak nan sebelumnya reli justru kembali turun.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada wartawan bahwa terdapat “beberapa tanda positif” dalam pembicaraan dengan Iran. Namun, dia juga menegaskan kesepakatan diplomatik antara AS dan Iran bakal susah tercapai andaikan Teheran tetap menerapkan sistem pungutan di Selat Hormuz, jalur krusial pengiriman minyak dunia.

Sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters belum ada kesepakatan dengan AS, meskipun perbedaan di antara kedua pihak mulai menyempit. Pengayaan uranium Iran dan kendali Teheran atas Selat Hormuz tetap menjadi poin utama nan belum terselesaikan.

Pekerja memandang pergerakan saham dari layar monitor di Wall Street di New York City. Foto: Eisele / AFP

Chief of Investment Strategy and Research Glenmede, Jason Pride, menilai volatilitas perdagangan Kamis dipicu reaksi penanammodal terhadap spekulasi geopolitik.

“Kita berada di level valuasi nan tinggi nan sebagian didorong oleh keahlian untung perusahaan. Hal itu sebelumnya menutupi kekhawatiran mengenai Iran, tetapi sekarang musim laporan finansial nyaris selesai. Pasar tidak bakal lagi mendapatkan kejutan positif dari untung perusahaan, sehingga perhatian penanammodal kembali tertuju ke Iran,” ujarnya.

Chief Investment Officer Huntington Wealth Management, Marc Dizard, mengatakan sentimen pasar dan nilai minyak sangat sensitif terhadap setiap perkembangan buletin mengenai Iran.

“Sisi positifnya, dari perspektif pasar, gencatan senjata nan rentan tetap bertahan. Ini positif lantaran tetap ada kemungkinan jalan keluar berasas laporan berita,” ujarnya.

Namun, dia menambahkan tidak ada pihak nan betul-betul mengetahui sejauh mana kemajuan negosiasi selain lingkaran dalam pemerintah Iran dan AS.

Investor juga mencermati laporan finansial terbaru perusahaan-perusahaan besar AS. Saham Walmart ambruk 7,3 persen setelah perusahaan ritel terbesar bumi itu memperkirakan untung kuartal kedua di bawah ekspektasi dan mempertahankan sasaran tahunan.

Chief Financial Officer Walmart, John David Rainey, mengatakan konsumen mulai tertekan oleh tingginya nilai bahan bakar. Ia memperingatkan andaikan kondisi biaya tinggi terus berlanjut, inflasi nilai ritel kemungkinan meningkat pada kuartal kedua dan paruh kedua tahun ini.

Di antara 11 sektor utama S&P 500, sektor consumer staples memimpin pelemahan dengan turun 1,6 persen akibat tekanan dari Walmart serta saham ritel lain seperti Casey’s General Stores nan turun 3,3 persen dan Costco Wholesale nan melemah 2,2 persen.

Ilustrasi Nasdaq. Foto: Shutterstock AI/Shutterstock

Saham Nvidia turun 1,8 persen akibat tindakan ambil untung penanammodal setelah perusahaan AI tersebut memberikan proyeksi pendapatan kuartal kedua nan optimistis serta mengumumkan program buyback saham senilai USD 80 miliar. Meski begitu, Philadelphia Semiconductor Index justru naik 1,3 persen lantaran penanammodal memandang hasil Nvidia sebagai sinyal positif bagi sektor semikonduktor.

Dari info ekonomi, klaim pengangguran AS turun pada pekan lalu, menandakan pasar tenaga kerja tetap solid dan memberi ruang bagi Federal Reserve untuk tetap konsentrasi terhadap akibat inflasi.

Aktivitas manufaktur AS juga naik ke level tertinggi dalam empat tahun pada Mei, seiring perusahaan meningkatkan persediaan untuk mengantisipasi potensi kelangkaan peralatan dan kenaikan nilai akibat perang Iran.

Di sisi lain, saham IBM melonjak 12,4 persen setelah pemerintahan Presiden Donald Trump mengumumkan pendanaan bagi sejumlah perusahaan komputasi kuantum, termasuk perusahaan baru milik IBM, dengan hadiah kepemilikan saham di beberapa perusahaan tersebut.

Saham GlobalFoundries naik 14,9 persen, D-Wave Quantum melesat 33,4 persen, Rigetti Computing naik 30,6 persen, dan Infleqtion menguat 31,5 persen.

Sementara itu, saham Intuit merosot 20 persen setelah perusahaan perangkat lunak tersebut memangkas proyeksi pendapatan tahunan TurboTax dan mengumumkan pemutusan hubungan kerja terhadap 17 persen tenaga kerja tetapnya. Saham H&R Block juga turun 4,8 persen.

Di Bursa New York (NYSE), jumlah saham nan naik melampaui saham nan turun dengan rasio 1,51 banding 1. Tercatat terdapat 234 saham mencetak level tertinggi baru dan 106 saham menyentuh level terendah baru.

Sementara di Nasdaq, sebanyak 2.985 saham menguat dan 1.798 saham melemah, dengan rasio saham naik dibanding turun sebesar 1,66 banding 1. Volume transaksi di bursa AS mencapai 17,67 miliar saham, dibanding rata-rata 18,57 miliar saham dalam 20 sesi terakhir.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan