Wall Street Melemah Usai The Fed Masih Tahan Suku Bunga Acuan

Sedang Trending 46 menit yang lalu
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Indeks Saham Amerika Serikat (AS) Wall Street berhujung lebih rendah pada Rabu (29/7), lantaran kekhawatiran inflasi mendorong imbal hasil obligasi jangka panjang ke level tertinggi dalam nyaris dua dasawarsa setelah The Fed membiarkan suku kembang stabil meskipun ada kenaikan nilai minyak. Dikutip dari Bloomberg, Kamis (30/7), S&P 500 turun 1,5 persen pada pukul 4 sore. Waktu New York. Nasdaq 100 jatuh 2,1 persen, Dow Jones Industrial Average turun 2,2 persen, dan Indeks Dunia MSCI turun 1 persen. Imbal hasil 30 tahun Treasury mencapai tertinggi sejak 2007. Ketua The Fed Kevin Warsh bersikeras keputusan kreator kebijakan untuk membiarkan suku kembang tidak berubah bukanlah tanda inersia di bank sentral, nan dia ulangi berkomitmen untuk mengatasi tekanan harga. Menurutnya, pasar bakal lebih bebas untuk memetakan arah mereka sendiri berasas sinyal ekonomi. Tidak adanya perkiraan definitif dan anggukan Warsh terhadap otonomi pasar mungkin telah memacu volatilitas dalam suku kembang obligasi. Analis Apollo Global Management, Torsten Slok, mengatakan pengabaian pedoman The Fed memicu volatilitas pasar obligasi bersejarah, membikin imbal hasil Treasury berayun naik dan turun seperti yo-yo.

Kevin Warsh. Foto: Ann Saphir/REUTERS

"Sangat sedikit nan bisa Anda tunggulkan di pasar. Itu juga sedikit rumit untuk mencari tahu apa nan menjadi dasar keputusan hari ini,” kata Slok.. Menurut Tiffany Wilding di Pacific Investment Management Co, pernyataan konvensi pers Warsh, nan menekankan komitmen The Fed terhadap stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi nan handal dan inflasi nan terus-menerus di atas target, menunjukkan beberapa pengerasan kebijakan mungkin tetap dijamin, meskipun mungkin tidak begitu dekat seperti nilai pasar. “Warsh tidak mengatakan apa pun untuk menandakan bahwa kenaikan bisa terjadi segera setelah September," tambahnya. Warsh mengindikasikan salah satu pertanyaan kunci nan diperdebatkan adalah seberapa efektif perubahan suku kembang dalam memerangi guncangan ekonomi, dan juga gimana guncangan ekonomi diterjemahkan menjadi tekanan inflasi jangka menengah, menurut Josh Jamner dari ClearBridge Investments. "Namun, konsisten dengan preferensi nan dinyatakannya untuk memberikan lebih sedikit pedoman ke pasar keuangan, Warsh menawarkan beberapa petunjuk berbobot mengenai pemikirannya saat ini tentang pertanyaan-pertanyaan kunci ini," katanya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan