Walkot Surabaya Minta Pengelola Mal Tak Tinggikan Pagar: Orang Merasa Takut

Sedang Trending 55 menit yang lalu
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi di TPS Rangka, Simokerto, Surabaya, Rabu (1/4/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi berkoordinasi dengan pengelola mal di Kota Surabaya. Ia meminta pengelola mal untuk tidak meninggikan pagar.

Eri mengatakan, jika pagar ditinggikan, maka bakal mengurangi estetika. Selain itu, dia memastikan soal keamanan dan kenyamanan visitor mal di Kota Surabaya.

"Jadi insyaallah kelak kami koordinasikan, nan saya mau ketika ada pagar itu ada, orang jalan itu semakin terang, tidak terlalu tinggi nan mencerminkan orang itu merasa takut gitu. Padahal kota Surabaya ini aman," kata Eri lewat keterangannya, Rabu (5/8).

Namun, dia tidak meminta untuk membongkar pagar mal, namun hanya menurunkan ketinggian pagar.

Pemasangan pagar di salah satu mal di area Surabaya Tengah, Jumat (31/7/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

"Kenapa kami tidak menyampaikan itu (pembongkaran pagar) lantaran tidak semua mal di Surabaya begitu. Hanya dua alias tiga mal saja," ucapnya.

Eri menyampaikan, pembangunan pagar mal ini bukan untuk mengantisipasi adanya massa aksi. Namun, untuk estetika dan keamanan visitor mal.

Ia mencontohkan seperti di Tunjungan Plaza Mal. Pengunjung seringkali menyeberang sembarangan ketika melewati Jalan Basuki Rahmat.

Hal itu bisa membahayakan visitor mal dan pengendara nan melintas. Bahkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sering menegur pejalan kaki nan menyeberang sembarangan, baik nan masuk alias keluar dari Tunjungan Plaza Mal.

"Kalau orang menyeberang kan langsung di depan itu, jadi orang loncat menyeberangi. Kami juga sering tegur, agar orang tidak menyeberang di depan Tunjungan Plaza, lantaran sudah ada JPO (Jembatan Penyeberangan Orang). Mereka (pemilik mal) menyampaikan, diberi pagar sehingga bisa keluar ke kanan alias kiri dan bisa dipantau. Tapi saya bilang pagarnya jangan terlalu tinggi, dipikir kelak ada apa-apa alias rasa kekhawatiran, padahal tidak seperti itu," ungkap Eri.

Pemkot Surabaya juga telah memasang barrier alias pembatas beton di Jalan Basuki Rahmat. Hal itu dilakukan agar visitor mal alias pejalan kaki tidak langsung menyeberang, sehingga haru melewati JPO.

Makanya jika dilihat dulu (barrier plastik) itu kan miring-miring nggak karuan. Maka mari saling menjaga Surabaya dan saya berambisi dijaga lah, jika ada tanda larangan parkir jangan parkir (sembarangan), jika sudah ditutup barrier jangan belok memotong jalan, agar apa? Nggak ada kecelakaan," kata dia.

Setidaknya dua mal di Kota Surabaya dipasangi pagar di laman depannya. Satu tetap proses pembangunan, satunya lagi sudah selesai.

Pantauan kumparan, pada Jumat (31/7), salah satu mal di area Surabaya Selatan, tepatnya Jalan Ahmad Yani, telah dipasang pagar besi. Pagar itu terpasang mengelilingi area laman depan mal.

Pagar dengan cat berwarna hijau itu menjulang sekitar 2 meter. Ujung atas pagar besi tersebut berbentuk runcing dan terdapat besi berukuran 10 cm nan menjorok ke depan.

Pagar di mal area Surabaya Selatan itu, di beberapa sisinya, dipasang di atas pagar beton dengan tinggi sekitar 60 sentimeter.

Sementara, mal di area Surabaya Tengah, tepatnya di Jalan Basuki Rahmat, juga tampak terpasang pagar besi nan sama persis seperti di mal area Surabaya Selatan.

Namun, di mal tersebut, pagar besi tidak dipasang di atas pagar beton. Saat ini sebagian tetap dalam proses pemasangan pagar.

Tampak terdapat tumpukan pasir di salah satu area di mal area Surabaya Tengah nan digunakan untuk memasang pagar. Terlihat juga beberapa pekerja sedang membangun dan memasang pagar.

Belum ada penjelasan dari pihak mal mengenai pemasangan pagar tersebut.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan