Jakarta, CNBC Indonesia - Gerak upaya sektor industri di Indonesia mengalami pertumbuhan pada kuartal II-2026, seiring dengan terjaganya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 sebesar 5,29% secara tahunan alias year on year (yoy).
Hanya satu industri nan justru mengalami kontraksi pada kuartal II-2026, ialah pertambangan dengan kemerosotan hingga minus 1,64% yoy.
"Lapangan upaya pertambangan kontraksi 1,64% disebabkan bijih logam turun 9,4% dan belum pulihnya tambang Grasberg Blok F di provinsi Papua Tengah pasca aliran longsor di September 2025," kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud saat konvensi pers di instansi pusat BPS, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Laju pertumbuhan sektor industri tertinggi tercatat untuk pengadaan listrik dan gas mencapai 10,815 dengan kontribusi hanya sebesar 0,99%. Dipicu oleh peningkatan penjualan listrik untuk nyaris seluruh segmen konsumen, utamanya segmen rumah tangga, bisnis, dan industri.
BPS mencatat, industri nan bisa tumbuh tinggi pada kuartal II-2026 selanjutnya adalah akomodasi dan makan minum dengan pertumbuhan 10,80%, meski kontribusinya ke PDB 2,77%.
Tumbuh tingginya sektor penyedia akomodasi dan makan minum didorong oleh peningkatan okupansi hotel dan peningkatan keahlian jasa boga sejalan dengan semakin luasnya jangkauan penerima faedah program makan bergizi cuma-cuma (MBG).
Ketiga, pertumbuhan tertinggi selanjutnya adalah info dan komunikasi alias infokom sebesar 6,97%. Didorong oleh semakin luasnya pemanfaatan jasa telekomunikasi di beragam sektor, seperti kesehatan, pendidikan, perdagangan, dan lainnya.
Laju pertumbuhan sektor lain nan tumbuh di atas level 5% di antaranya manajemen pemerintahan sebesar 6,89%, jasa kesehatan 6,88%, bangunan 6,68%, perdagangan 6,39%, jasa lainnnya 6,36%, dan jasa pendidikan 5,92%.
(arj/arj)
[Gambas:Video CNBC]
59 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·