Ilustrasi(Antara)
WAHANA Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Tengah memberikan peringatan keras mengenai peningkatan akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla) nan dipicu oleh Proyek Strategis Nasional (PSN). Program food estate, nan sekarang berganti nama menjadi program cetak sawah rakyat, dinilai menjadi salah satu aspek utama meningkatnya kerentanan ekosistem gambut di wilayah tersebut.
Direktur Eksekutif Daerah WALHI Kalimantan Tengah, Janang Firman Palanungkai, mengungkapkan bahwa kondisi karhutla di Kalimantan Tengah telah mencapai fase mengkhawatirkan. Sebagai respons, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah telah menetapkan status siaga darurat karhutla melalui Surat Keputusan Gubernur Nomor 142 Tahun 2026.
"Hari ini kasus kebakaran rimba dan lahan di Kalimantan Tengah sedang besar-besarnya. Luasan nan terbakar sudah mencapai lebih dari 2.000 hektare," ujar Janang dalam konvensi pers, Rabu (29/7/2026).
Sebaran Titik Api dan Dominasi Konsesi
Berdasarkan info WALHI, titik kebakaran terbanyak terkonsentrasi di beberapa wilayah kunci nan didominasi oleh ekosistem gambut. Wilayah-wilayah tersebut antara lain:
- Kota Palangka Raya
- Kabupaten Pulang Pisau
- Kabupaten Kapuas
- Kabupaten Kotawaringin Timur
- Kabupaten Kotawaringin Barat
Janang menyoroti bahwa penguasaan lahan di Kalimantan Tengah saat ini sangat timpang, di mana sekitar 60 persen wilayah telah dikuasai oleh konsesi. Dari total 2,55 juta hektare lahan gambut di provinsi tersebut, sebagian besar telah dialokasikan untuk aktivitas korporasi dan PSN.
| Luas Lahan Terbakar | > 2.000 Hektare |
| Total Luas Lahan Gambut Kalteng | ± 2,55 Juta Hektare |
| Persentase Wilayah Dikuasai Konsesi | Sekitar 60% |
| Status Hukum | Siaga Darurat (SK Gubernur No. 142/2026) |
Kritik Tata Kelola dan Ancaman Kemarau Ekstrem
WALHI menilai pembukaan lahan gambut untuk proyek pembangunan, termasuk pembuatan kanal-kanal baru, menyebabkan pengeringan lahan nan masif. Hal ini membikin area di sekitarnya kehilangan persediaan air alami dan menjadi sangat mudah terbakar saat musim kemarau.
"Negara sedang tidak bertobat dengan kesalahannya, malah mengulangi kesalahannya. Hari ini Kalimantan Tengah seperti neraka," tegas Janang. Ia membantah tudingan bahwa peladang tradisional merupakan penyebab utama karhutla, melainkan buruknya tata kelola lahan gambut nan sudah berjalan puluhan tahun.
Menghadapi puncak musim kemarau, WALHI mendesak pemerintah untuk segera mengevaluasi seluruh aktivitas korporasi dan PSN di atas lahan gambut. Janang memprediksi kebakaran tahun ini berpotensi lebih besar dibandingkan tragedi karhutla 2015 akibat kondisi cuaca panas nan jauh lebih ekstrem. (Ata/I-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·