Waka Komisi IX Dorong Ubah Model MBG Buntut Santri di Sidoarjo Keracunan

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Jakarta -

Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris merespons kasus 500 lebih santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim), diduga keracunan setelah menyantap menu makan bergizi cuma-cuma (MBG). Charles meminta BGN berbenah.

Charles memandang ada kesalahan model penyelenggaraan MBG nan terus dijalankan BGN. Dia menekankan ini bukan lagi masalah perseorangan SPPG.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena menerapkan satu model penyelenggaraan nan tidak ideal untuk dijalankan. Ini bukan lagi masalah perseorangan dapur lagi. Tetapi sudah menjadi masalah sistemik," ucap Charles, Kamis (3/9/2026).

Charles menegaskan tak ada pilihan lain selain merombak model MBG. "Maka tidak ada pilihan lain bagi pemerintah selain mengubah model pelaksanaan. Kalau tidak ya kasus keracunan bakal terus terjadi," imbuh dia.

Dia menegaskan sejak awal sudah menyuarakan bahwa ada persoalan mengenai model penyelenggaraan MBG. Dia menyebut persoalan keracunan ini sebetulnya sederhana.

"Persoalannya sederhana, makanan matang mempunyai pemisah waktu kondusif sebelum dikonsumsi. Ketika proses memasak, pengemasan, pengedaran hingga makanan dikonsumsi terlalu panjang dan melewati critical time sekitar 4 jam tanpa pengendalian suhu nan memadai, akibat pertumbuhan kuman meningkat signifikan," jelas dia.

"Karena itu jika kasus nan sama terus berulang, berfaedah nan kudu dievaluasi adalah modelnya. Saya sejak awal mendorong agar MBG beranjak ke model dapur berbasis sekolah alias sedekat mungkin dengan penerima manfaat, makanan dimasak lebih dekat dengan waktu dan tempat konsumsi sehingga rantai pengedaran jauh lebih pendek. Sekolah dan orang tua juga bisa dilibatkan dalam pengawasan," lanjut dia.

Menurutnya setelah lebih dari satu tahun melangkah dan kasus keracunan tetap terus berulang, berfaedah kudu ada nan diubah secara fundamental.

"Pemerintah kudu melakukan perubahan fundamental," imbuhnya.

Penjelasan BGN

Sebelumnya, Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN) Ketut Sumedana mengungkap penyebab ratusan santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim), keracunan setelah menyantap menu makan bergizi cuma-cuma (MBG). Ketut mengatakan ada kelalaian pada standar operasional prosedur (SOP) pendistribusian MBG.

"Itu lantaran ketidakdisiplinan dari pada SPPG dan pendistribusian. Jadi semestinya itu loading 4 jam selesai dari masak langsung dibagikan. Tapi faktanya di lapangan lebih dari 4 jam," kata Ketut kepada wartawan, Kamis (3/9).

"Nah itulah nan menyebabkan keracunan, lantaran MBG ini kan nggak pakai pengawet. Jadi mudah dia basi. Mudah bakterinya sigap berkembang," lanjutnya.

Ketut menuturkan BGN sudah membikin patokan pengawasan nan dilakukan sehari dua kali. Aturan itu pengawasan kudu dilakukan pada pukul 17.00 WIB pada saat bahan masakan masuk dan pukul 02.00 WIB pada saat proses masak.

"Kita setiap hari, dua kali sehari kita melakukan apel kesiagaan MBG, mulai dari jam 2 malam terus jam 5 sore. Karena waktu-waktu itu waktu krusial pemilihan bahan, jika jam 5 kan sampai, masak jam 2 pagi," ujarnya.

"Kenyataannya tetap ada di beberapa wilayah orang-orang ini, anak-anak kita ini, kepala-kepala SPPG ini, termasuk PIC-PIC, termasuk ada juga sekolah-sekolah nan tidak tepat waktu dalam membagikan MBG melampaui pemisah waktu nan ditetapkan," imbuhnya.

(maa/gbr)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News