Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia politik India mendadak diguncang oleh gelombang protes tak biasa setelah komentar kontroversial dari Ketua Mahkamah Agung (MA) India memicu lahirnya aktivitas politik satir massal berjulukan "Cockroach Janta Party" alias Partai Rakyat Kecoa. Gerakan nan awalnya bermulai dari sebuah lelucon spontan di media sosial sekarang dengan sigap beralih bentuk menjadi sebuah aktivitas perlawanan politik nyata nan digerakkan oleh ratusan ribu pemuda generasi Z (Gen Z).
Mengutip laporan Al Jazeera pada Rabu, aktivitas ini diinisiasi oleh seorang pemuda berumur 30 tahun lulusan hubungan masyarakat dari Boston University Amerika Serikat berjulukan Abhijeet Dipke. Dipke merespons kemarahan publik setelah Ketua MA India, Surya Kant, dalam persidangan terbuka pada hari Jumat lampau menyamakan para aktivis muda dan wartawan media sosial nan menganggur seperti (benih)penyakit kecoa nan menyerang sistem.
"Ada anak muda seperti kecoa, nan tidak mendapatkan pekerjaan alias tempat dalam profesi," ujar Surya Kant, dilansir Kamis (21/5/2026).
"Beberapa dari mereka menjadi media, beberapa menjadi media sosial, aktivis RTI dan aktivis lainnya, dan mereka mulai menyerang semua orang," tambahnya.
Meskipun Kant kemudian memberikan penjelasan bahwa komentarnya tersebut hanya ditujukan kepada oknum pemilik piagam tiruan dan bukan untuk menghina seluruh pemuda India, ucapan tersebut terlanjur memicu kemarahan masif. Komunitas Gen Z di India nan tengah menghadapi krisis lapangan kerja, inflasi tinggi, serta polarisasi kepercayaan nan tajam di bawah 12 tahun pemerintahan nasionalis Hindu ketua Perdana Menteri Narendra Modi merasa sangat terhina.
Sebagai corak perlawanan, Dipke mendirikan situs resmi serta akun media sosial Cockroach Janta Party nan pelesatannya menyindir partai penguasa, Bharatiya Janata Party (BJP). Hanya dalam waktu tiga hari, akun IG partai satir tersebut melesat melampaui 3 juta pengikut, dan lebih dari 350.000 orang termasuk politisi oposisi senior seperti Mahua Moitra dan pensiunan birokrat federal telah mendaftar menjadi anggota.
"Mereka nan berkuasa mengira penduduk negara adalah kecoa dan parasit," kata Abhijeet Dipke.
"Mereka kudu tahu bahwa kecoa berkembang biak di tempat nan busuk dan seperti itulah kondisi India saat ini," lanjut Dipke.
Mantan birokrat federal India, Ashish Joshi, menjadi salah satu tokoh nan langsung mendaftarkan diri lantaran merasa negara telah dilingkupi rasa takut nan luar biasa selama satu dasawarsa terakhir untuk bersuara. Ini akibat tindakan keras pemerintah terhadap para pengkritik.
Joshi menilai bahwa di tengah atmosfer politik India nan penuh kebencian saat ini, kehadiran partai kecoa satir ini terasa seperti angin segar. Partai itu, tambahnya, memberi ruang kebebasan baru bagi masyarakat.
"Dalam dasawarsa terakhir, ada banyak ketakutan di negara ini dan orang-orang takut untuk berbicara," tutur Ashish Joshi.
"Kecoa adalah serangga nan tangguh, mereka memperkuat hidup dan tampaknya mereka bisa membentuk sebuah partai lampau merayap di atas sistem Anda," tegas Joshi.
Kondisi sosiopolitik India sendiri memang sedang membara. Di mana nomor pengangguran di tingkat lulusan sarjana menyentuh nomor tragis 29,1% alias sembilan kali lipat lebih tinggi dibanding penduduk nan tidak bersekolah.
Sementara itu, pengacara terkemuka MA India, Prashant Bhushan, menilai bahwa komentar merendahkan dari sang pengadil agung mencerminkan prasangka mendalam serta antipati dari otoritas norma dan pemerintah saat ini terhadap aktivitas anak muda.
"Komentar Ketua Mahkamah Agung mencerminkan prasangka jelek nan mengakar dan antipati terhadap aktivis dan pemuda secara umum," jelas Prashant Bhushan.
"Ini juga merupakan mentalitas nan tepat dari pemerintahan saat ini," pungkas Bhushan.
(tps/șef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·