Jakarta, CNBC Indonesia- Tenaga Ahli Profesional Sumber Kekayaan Alam LEMHANAS, Edi Permadi menyebut gejolak geopolitik Timur Tengah hingga perang Rusia vs Ukraina nan belum berhujung telah memberi akibat bagi industri pertambangan RI.
Ketidakpastian geopolitik telah mengerek nilai sejumlah komoditas daya termasuk batu bara, sehingga perbaikan RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) batu bara 2026 diharapkan dapat menjadi pendorong investasi dan pendapatan sektor batu bara.
Dari sektor nikel, Kenaikan nilai BBM hingga nilai masam sulfat dikhawatirkan dapat mengerek lonjakan biaya produksi utamanya pada proyek smelter nikel berbasis High Pressure Acid Leaching (HPAL). Sementara sektor timah dan tembaga dinilai tetap sangat baik menghadapi gejolak geopolitik dunia.
Lemhanas mendorong transformasi dan efisiensi sektor tambang dalam menghadapi gejolak pasar global. Selain itu didorong perbaikan komunikasi publik pemerintah kepada masyarakat terhadap dinamika dunia dan nasional di sektor pertambangan nan dapat dilakukan oleh Kemenko Perekonomian dan Danantara.
Sementara mengenai wacana pemerintah menerapkan skema production sharing contract (PSC) pada sektor migas ke minerba, Lemhanas menilai wacana ini tetap dalam tahap awal mengingat upaya model migas dan minerba sangat berbeda. Oleh lantaran itu dibutuhkan upaya jangka panjang untuk menarik penanammodal melakukan eksplorasi guna menjaga produksi dalam negeri.
Seperti apa Lemhanas memandang tantangan dan upaya meningkatkan pendapatan sektor minerba? Selengkapnya simak perbincangan Shafinaz Nachiar dengan Tenaga Ahli Profesional Sumber Kekayaan Alam LEMHANAS, Edi Permadi dalam Closing Bell, CNBC Indonesia (Senin, 18/05/2026)
Add
source on Google
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·