Usai Muktamar ke-35 NU, Kiai Situbondo Ingatkan Esensi Ber-NU Ada di Akar Rumput

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Usai Muktamar ke-35 NU, Kiai Situbondo Ingatkan Esensi Ber-NU Ada di Akar Rumput HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy(Istimewa)

WARGA Nahdlatul Ulama sekaligus ustad kampung asal Situbondo, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, memberikan catatan atas hasil Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama nan baru saja diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Khalilur menilai terpilihnya KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031 bukan lantaran memenangkan pertarungan pendapat secara murni, melainkan tidak adanya kejuaraan nan setara serta adanya pengubahan patokan di tengah forum.

"Banyak nan mengira penguasa telah memenangkan pertarungan. Saya mau mengatakan: tidak. Mereka tidak menang, tetapi mereka dimenangkan lantaran tidak ada pertarungan," kata Khalilur di Jakarta, Senin (31/8).

Dalam analisisnya mengenai dinamika internal Muktamar Ke-35, Khalilur mencetuskan istilah "Papi Umba Pakocir" (Panglima pergi umrah tiba-tiba, pasukan kocar-kacir). Akronim ini dia sematkan untuk menggambarkan melemahnya kekuatan pendukung perubahan di malam krusial penentuan ketua PBNU.

Khalilur menyoroti keberadaan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar nan mendadak melakukan ibadah umrah pada malam pemungutan suara. Ia menilai perihal ini memicu pecahnya konsolidasi support untuk KH Said Aqil Siradj, meski mantan Ketum PBNU tersebut sebelumnya telah masuk dalam sembilan besar Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dengan raihan 273 suara.

Khalilur kemudian memberi catatan soal perubahan Tata Tertib di periode kontestasi. Ia mengatakan Sidang Pleno III menetapkan sistem baru di mana Ketua Umum PBNU tidak lagi dipilih langsung oleh peserta muktamirin, melainkan ditetapkan oleh AHWA dari lima nama hasil penjaringan. Keputusan ini disetujui oleh 401 dari 552 pemilik suara, sementara 150 menolak dan 1 bunyi tidak sah.

Meski memberikan catatan kritis, Khalilur tetap menyampaikan ucapan selamat atas kepemimpinan KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin, seraya mengingatkan bahwa prinsip ber-NU berada di akar rumput.

"Kantor boleh berganti penghuni, langkah berakidah tidak boleh berganti pemilik. NU itu hidup di langgar-langgar, majelis tahlil, dan pengajian selepas maghrib oleh para ustad kampung nan tidak pernah masuk daftar datang muktamar," pungkasnya. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia