Liputan6.com, Jakarta - Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Rizal Irawan mengungkapkan, kebakaran rimba dan lahan (karhutla) tetap terus berlangsung, termasuk di enam provinsi prioritas penanganan. Menurut dia, kondisi saat ini memerlukan penanganan nan luar biasa serius dan cepat.
"Jadi situasi nan kita hadapi saat ini bukan lagi semata-mata mengenai dengan kondisi antisipasi dan mitigasi, kita sedang menghadapi kejadian karhutla nan memerlukan penanganan secara serius, cepat, dan juga terpadu," ujar Rizal dalam konvensi pers berbareng Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta, Senin (31/8/2026).
Rizal mengatakan, situasi dihadapi pemerintah dan masyarakat saat ini sudah bergeser. Menurut dia, pemerintah beserta masyarakat saat ini bergotong-royong mengendalikan kebakaran rimba dan lahan.
"Namun tentunya tetap juga ada beberapa kejadian nan melibatkan masyarakat dalam memantik api nan ada," ujar dia.
Rizal menjabarkan, KLH saat ini memfokuskan perhatian pada tiga perihal utama, ialah penanganan karhutla, penanggulangan pencemaran udara, serta pengawasan dan penegakan norma lingkungan. Hal ini juga mencakup upaya penanganan kabut asap lintas pemisah alias transboundary haze.
"Jadi perlu kami sampaikan bahwa mengenai dengan upaya-upaya nan sudah kami lakukan, baik itu preemtif, preventif, maupun represif bakal saya laporkan pada kesempatan ini," kata dia.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336869/original/043640700_1788188871-IMG_3494.jpg)
Perbesar
Fokus Perhatian
Dalam laporannya, Rizal memaparkan kesiapan operasi darat nan melibatkan peran aktif masyarakat. Hingga saat ini, menurut dia, KLH telah membentuk 95 golongan Masyarakat Peduli Api (MPA) nan tersebar di wilayah rawan.
Rinciannya, kata Rizal, terdapat 18 golongan di Sumatera Selatan, 15 di Riau, 9 di Jambi, 18 di Kalimantan Tengah, 15 di Kalimantan Barat, dan 20 di Kalimantan Selatan.
"Total ada 95 MPA dengan jumlah total personelnya itu sebanyak 1.425 orang. Ini tetap bakal kita teruskan lantaran kita ada rencana ke depan tetap bakal membentuk sekitar 35 MPA lagi di tahun 2026," terang dia.
Selain penguatan personel, menurut Rizal, pemerintah juga telah menghibahkan ribuan sarana dan prasarana kepada golongan masyarakat tersebut guna mendukung pemadaman api di jalur darat.
"Kami juga telah menghibahkan sarana dan prasarana nan telah diberikan kepada MPA, ialah 3.975 sarana prasarana nan telah dihibahkan," ucap dia.
Peralatan Dihibahkan
Rizal memaparkan, peralatan tersebut mencakup 500 unit fire rake, serta perangkat lainnya seperti fire beater, pompa jinjing, jet shooter, nozzle, hingga perlengkapan keamanan bagi para petugas di lapangan.
"Itu terdiri dari fire rake itu 500 unit, kemudian fire beater, pompa jinjing, kemudian pompa punggung ataupun jet shooter, kemudian selang pemadam ada 375 unit, nozzle ada 100 unit, Y-connector ada 75 unit, kemudian baju safety ada 1.125 unit, dan sepatu boot 1.125 unit," jelas dia.
Meski pemerintah dan masyarakat terus bekerja gotong-royong selama berbulan-bulan, Rizal menyayangkan tetap adanya oknum masyarakat nan memantik api, sehingga memicu terjadinya kebakaran baru di beberapa lokasi.
Rizal berambisi kesadaran berbareng dapat terus ditingkatkan demi menekan nomor karhutla dan akibat polusi udara nan ditimbulkannya.
Baca buletin terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
55 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·