Penawaran saham perdana alias initial public offering (IPO) senilai USD 75 miliar nan dilakukan Space Exploration Technologies Corp alias SpaceX mendorong valuasi perusahaan tersebut menembus USD 2 triliun pada Jumat (12/6), melampaui kapitalisasi pasar Tesla nan berada di kisaran USD 1,5 triliun.
Dalam golongan perusahaan nan saling terhubung milik Elon Musk, posisi dominan Tesla Inc sekarang mulai tergeser.
Sebelum pekan ini, Tesla pada dasarnya menjadi satu-satunya langkah bagi penanammodal ritel untuk berinvestasi pada beragam upaya nan dimiliki Musk. Kini, setelah SpaceX melantai di bursa, perusahaan tersebut beserta portofolio bisnisnya nan luas, mulai dari kepintaran buatan (AI) hingga perjalanan luar angkasa, langsung menjadi pengganti nan lebih menarik di saat Tesla tengah dibayangi esensial nan melemah dan penjualan mobil nan lesu.
Saham SpaceX melonjak 19 persen pada debut perdagangannya, menjadikan Musk sebagai triliuner pertama di dunia. Sebagai perbandingan, pada hari pertama perdagangan saham Tesla pada 2010, saham perusahaan itu sempat melonjak sekitar 41 persen.
Sejak saat itu, saham Tesla telah melesat sekitar 25.000 persen, jauh melampaui kenaikan 610 persen indeks S&P 500. Namun pada Jumat (12/6), kenaikan saham Tesla hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan pasar secara keseluruhan.
Menurut Viraj Patel dari Vanda Research, arus investasi ritel ke Tesla sempat kuat pada pagi hari, tetapi sejak SpaceX mulai diperdagangkan perhatian penanammodal ritel sekarang hanya tertuju pada satu saham.
“AI adalah EV (kendaraan listrik) nan baru,” kata Patel, seraya menyebut SpaceX sebagai “bintang baru nan paling bercahaya saat ini,” seperti dikutip dari Bloomberg, Sabtu (13/6).
Visi ambisius Musk serta kesuksesan saham Tesla selama 16 tahun terakhir telah membuatnya mempunyai pedoman penanammodal ritel nan sangat loyal. Analis BNP Paribas James Picariello memperkirakan pada April lampau bahwa penanammodal ritel menguasai sekitar 40 persen saham Tesla. Menjelang IPO, penanammodal ritel apalagi telah memasang pesanan pembelian saham SpaceX senilai USD 100 miliar.
Banyak fans Musk berambisi SpaceX dapat mencatat pertumbuhan nan setara alias apalagi melampaui Tesla mengingat luasnya ambisi upaya perusahaan tersebut. Namun, SpaceX juga berpotensi menghadapi kekhawatiran valuasi nan selama bertahun-tahun membayangi Tesla.
“Saat ini hanya ada sekitar 15 perusahaan di bumi nan mempunyai valuasi mencapai USD 1 triliun,” kata penasihat investasi Guardian Wealth Advisors, Rand Millwood.
“Jika memandang perusahaan-perusahaan tersebut, sebagian besar sudah berdiri sejak lama. Mereka sangat sukses, menghasilkan arus kas positif, dan mempunyai beragam aspek pendukung lainnya, sementara SpaceX belum berada pada posisi itu,” lanjut Millwood.
Untuk menghindari perebutan perhatian investor, sebagian analis apalagi menilai merger antara Tesla dan SpaceX mungkin saja terjadi di masa depan. Kedua perusahaan mempunyai irisan upaya di bagian AI, robotika dan mobilitas, serta dipimpin oleh sosok nan dikenal sering melakukan langkah korporasi nan tidak lazim.
Namun, Millwood menilai keberadaan beberapa perusahaan publik milik Musk justru bisa saling menguntungkan.
“Ada begitu banyak keterkaitan di antara seluruh perusahaan milik Elon Musk,” ujar Millwood.
“Banyak orang menganggap dia sebagai jenius pada era ini, dan mungkin memang demikian sampai pemisah tertentu. Karena itu, apa pun perusahaan nan melibatkan dirinya, orang-orang bakal mau menjadi bagian dari perusahaan tersebut,” imbuhnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·