Upin & Ipin Digemari, Teuku Riefky Bidik Pasar Malaysia

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Upin & Ipin Digemari, Teuku Riefky Bidik Pasar Malaysia Teuku Riefky Harsya.(Antara/Rivan Awal Lingga)

SERIAL animasi asal Malaysia, Upin & Ipin, tetap menjadi primadona bagi anak-anak di Indonesia sejak pertama kali mengudara pada 2008. Popularitas serupa juga dinikmati oleh Papa Zola, karakter ikonik dari seri BoBoiBoy. Fenomena ini membuktikan bahwa karya imajinatif mempunyai kekuatan untuk melintasi pemisah negara tanpa halangan berarti.

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, memandang kesuksesan animasi Malaysia di Indonesia sebagai pintu masuk strategis untuk mempererat kerja sama bilateral. Fokus utamanya adalah memperluas pasar ekonomi imajinatif kedua negara, mencakup sektor animasi, film, hingga musik.

"Kita memandang karya-karya imajinatif dari kedua negara kita sudah melintasi pemisah negara. Upin & Ipin serta Papa Zola sukses di pasar Indonesia dan digemari oleh anak-anak kita," ujar Teuku Riefky saat menerima kunjungan Menteri Komunikasi Malaysia, Datuk Ahmad Fahmi Bin Mohamed Fadzil, di sela-sela 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (21/10).

Peluang Insentif dan Kolaborasi Strategis

Teuku Riefky menekankan pentingnya menerjemahkan kedekatan budaya menjadi kesempatan konkret bagi pelaku industri kreatif. Malaysia memiliki ekosistem nan mapan melalui MyCreative Ventures dan Perbadanan Kemajuan Filem Nasional Malaysia (FINAS) yang dinilai sejalan dengan agenda penguatan industri imajinatif nasional Indonesia.

Salah satu poin krusial nan dibahas adalah skema Concerts and Events in Malaysia Incentive (CEMI). Insentif ini dipandang sebagai kesempatan emas bagi musisi dan penyelenggara aktivitas Indonesia untuk merambah panggung Malaysia, sekaligus menjadikan pagelaran langsung sebagai motor ekonomi imajinatif di Asia Tenggara.

Langkah umum juga telah diambil melalui penandatanganan MoU antara Indonesia dengan Sunway University Malaysia pada April 2026, nan secara unik menyasar pengembangan sektor musik.

Mendorong Musisi Indonesia Melintas Batas

Sejarah mencatat bahwa musik Indonesia mempunyai akar nan kuat di Malaysia. Sejak era Nike Ardilla dengan album Duri Terlindung (1994), hingga gelombang pop-rock awal 2000-an seperti Sheila on 7, Peterpan (kini Noah), Padi, dan Dewa 19, musisi Tanah Air selalu mendapat tempat di hati penduduk Negeri Jiran.

Bahkan, lagu Cintaku Tertinggal di Malaysia milik Dewa 19 menjadi bukti nyata kedekatan emosional tersebut. Kini, di era digital, tantangan baru muncul namun dibarengi dengan kesempatan nan lebih luas. Musisi muda seperti Nadhif Basalamah telah membuktikannya lewat kerjasama lintas negara nan sukses memuncaki tangga lagu Billboard Malaysia Songs.

Ke depan, Kementerian Ekonomi Kreatif berkomitmen untuk melakukan kurasi terhadap musisi-musisi baru berbakat agar dapat berpromosi secara efektif di pasar Malaysia. "Kami berambisi lebih banyak lagi musisi-musisi Indonesia nan potensial sukses mempromosikan karya imajinatif mereka tembus Malaysia," pungkas Teuku Riefky. (I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑