Jakarta, CNBC Indonesia - Perang di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran melontarkan ancaman baru kepada Amerika Serikat (AS). Ketegangan meningkat di tengah serangan kedua pihak dan tekanan ekonomi akibat hukuman Washington.
Teheran memperingatkan bahwa setiap serangan berikutnya terhadap kepentingan Iran bakal dibalas dengan respons nan lebih sigap dan menyakitkan. Peringatan tersebut ditegaskan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf nan menyebut patokan main dalam bentrok dengan Amerika Serikat (AS) telah berubah.
"Mulai sekarang, setiap serangan terhadap kepentingan dan keamanan Iran bakal mendapat tanggapan nan lebih cepat, lebih berat, dan lebih menyakitkan," ujarnya dalam pidato nan dipublikasikan melalui kanal Telegram miliknya, seperti dikutip Reuters, Senin (7/8/2026).
Peringatan itu muncul setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah menyerang tiga kapal tanker Iran pada Sabtu. Serangan tersebut disebut sebagai respons terhadap Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) nan meluncurkan rudal balistik ke arah dua kapal Angkatan Laut AS di area Timur Tengah.
IRGC kemudian menakut-nakuti bakal meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal militer AS di area tersebut. Di sisi lain, Angkatan Laut IRGC memperingatkan kapal nan melintasi jalur perairan tanpa izin dapat menjadi sasaran.
"Jika kalian menembaki dua kapal kami, kami bakal membebankan biaya ekonomi nan jauh lebih tinggi, dengan melumpuhkan tiga kapal kalian," kata Kepala CENTCOM Laksamana Brad Cooper.
Ketegangan juga terjadi di sekitar Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran. Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengatakan pulau tersebut telah diserang sekitar 550 kali dalam beberapa bulan terakhir, tetapi aktivitasnya tetap berjalan. Sebelum perang, sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran dikirim melalui Kharg.
Di tengah eskalasi militer, tekanan terhadap perekonomian Iran juga semakin berat akibat blokade ekspor minyak dan upaya AS memperketat penegakan sanksi. Qalibaf mengatakan pertempuran Iran sekarang bukan hanya terjadi di medan perang, tetapi juga menyangkut produksi dan kehidupan masyarakat, termasuk menghadapi inflasi, pengangguran, gejolak mata uang, dan pengelolaan pasar.
Sementara itu, Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh mengatakan pemerintah bakal merespons tekanan tersebut melalui reformasi ekonomi. Wakil Menteri Ekonomi Morteza Zamanian juga menyebut "Markas Besar Perang Ekonomi" kementeriannya tengah meningkatkan upaya untuk mengatasi akibat perang.
"Tanggung jawab untuk mereformasi ekonomi Iran berada di tangan pemerintah dan rakyatnya, bukan pada Departemen Keuangan AS," kata Madanizadeh, seperti dikutip media pemerintah Iran.
Iran sebelumnya juga memberlakukan blokade di Selat Hormuz, jalur strategis nan sebelum bentrok membawa sekitar seperlima pasokan minyak global. Langkah tersebut berpotensi semakin menekan pasar daya bumi di tengah eskalasi konflik.
Sementara itu, Tasnim melaporkan empat rudal AS menghantam sebuah kapal tanker di area berlabuh Kharg tanpa menimbulkan korban jiwa. Pada Minggu, IRGC juga menyatakan menembak jatuh balon pengintai AS di atas Erbil, Irak utara, menandakan bentrok kedua negara berpotensi kembali memasuki fase nan semakin intens.
(tfa/tfa)
[Gambas:Video CNBC]
33 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·