Pernah kepikiran enggak, gimana tim pemugar mengetahui sebuah batu candi nan sudah berumur ratusan tahun kudu dikembalikan ke bagian mana?
Ternyata, prosesnya tak sesederhana mencari corak nan terlihat cocok. Setiap batu perlu ditelusuri, dicocokkan dengan bagian lain, lampau dipastikan posisinya sebelum dipasang kembali.
Proses itu sekarang berjalan dalam pemugaran Candi Plaosan di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Salah satu tahap pentingnya ditandai dengan peletakan batu tutup sungkup Candi Perwara Deret 1 Nomor 2 nan dilaksanakan pada Rabu, 9 September 2026.
Pemugaran dilakukan lantaran sejumlah candi perwara di kompleks tersebut sudah tidak lagi berdiri utuh. Batu-batu penyusunnya runtuh dan tersebar, sementara beberapa bagian struktur bawah juga mengalami kerusakan.
Padahal, Candi Plaosan menyimpan jejak peradaban dari masa Mataram Kuno nan telah memperkuat lebih dari seribu tahun. Karena itu, memugar candi bukan sekadar membikin bangunannya kembali berdiri. Setiap bagian kudu ditempatkan dengan dasar nan dapat dipertanggungjawabkan.
Seperti Menyusun Puzzle nan Rusak
Staf Museum dan Cagar Budaya Bambang Kasatrianto menjelaskan, letak ditemukannya batu menjadi salah satu petunjuk awal untuk menentukan dari struktur mana batu tersebut berasal.
“Paling mudah itu memandang letak batu dulu ditemukan. Itu menjadi salah satu penentu di mana letak nan paling dekat,” ujar Bambang.
Dalam prosesnya, ada tenaga unik nan disebut suker untuk mencari batu, dan steller yang mencocokkan lampau menentukan penempatannya.
Batu nan ditemukan kemudian dikelompokkan dan melalui proses anastilosis alias susun coba. Tim menyusun batu lapis demi lapis untuk memandang sambungan dan keterkaitan antara satu bagian dengan bagian lainnya.
“Setiap lapis ketemu, kelak lapis berikutnya ketemu. Misal di situ belum ketemu, kita mencoba mencari di letak lain nan mempunyai ciri-ciri alias kesamaan alias sambungan, misal dari motif reliefnya,” jelas Bambang.
Jadi, corak bukan satu-satunya petunjuk. Lokasi penemuan, sambungan antarbatu, motif relief, hingga catatan mengenai batu nan pernah dipindahkan ikut membantu tim menentukan asalnya.
Pekerjaan itu kurang lebih seperti menyusun puzzle. Bedanya, sebagian kepingnya sudah berpindah, rusak, tertimbun, apalagi tidak lagi ditemukan.
Setelah susun coba, tim melakukan ekskavasi di bagian bawah candi. Dari penggalian itu, batu nan dulunya menjadi bagian tubuh hingga genting candi juga bisa ditemukan dalam kondisi tertimbun. Batu tersebut kemudian kembali dicocokkan sebelum dipasang.
Namun, tidak semua batu nan terlihat cocok langsung digunakan. Bambang mencontohkan proses pada Candi Perwara Nomor 50. Ada sejumlah batu nan diduga menjadi bagian dari gedung tersebut, tetapi tim steller belum mempunyai dasar nan cukup untuk memastikan posisinya.
“Steller ini enggak berani untuk menentukan, ini betul nomor 50 alias enggak. Akibatnya, unik di nomor 50 itu kita menggunakan batu baru,” katanya.
Batu baru digunakan untuk menggantikan bagian nan dibutuhkan struktur ketika batu aslinya tidak ditemukan. Bagian pengganti dibuat polos agar tetap dapat dibedakan dari batu asli.
Sebelum candi disusun kembali, bagian bawah gedung juga diperkuat. Setelah struktur dinilai cukup stabil, batu dipasang perlahan mulai dari kaki, tubuh, hingga atap.
Satu candi perwara dapat dikerjakan sekitar 30 orang dengan tugas masing-masing. Kelima perwara nan saat ini dipugar mempunyai tim berbeda sehingga prosesnya dapat melangkah bersamaan.
Perwara Nomor 2 Mulai Masuk Tahap Akhir
Setelah melewati pencarian batu, susun coba, ekskavasi, dan penguatan struktur, pemugaran Candi Perwara Deret 1 Nomor 2 sekarang telah mencapai bagian atas bangunan.
Salah satu tahapnya adalah pemasangan batu tutup sungkup. Bambang menjelaskan, batu tersebut berfaedah sebagai penutup sekaligus salah satu bagian pengunci struktur atas candi.
“Ibaratnya jika puzzle-puzzle terakhir, nan di tengah itu malah jadi kuncinya,” ujarnya.
Pekerjaan belum sepenuhnya selesai setelah batu tutup sungkup terpasang. Tim tetap perlu memasang bagian atas lainnya, termasuk mercu. Namun, sejumlah batu untuk tahap tersebut sudah lebih dulu dicari dan melalui proses susun coba.
Peletakan batu tutup sungkup nan dilakukan pada Rabu, 9 September 2026 pun menjadi penanda bahwa pemugaran Perwara Nomor 2 mulai mendekati tahap akhir.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon nan datang dalam prosesi itu turut menggambarkan rumitnya pekerjaan para pemugar. Menurutnya, sebagian batu telah hilang, sementara batu lainnya mengalami pelapukan.
“Kita bisa saksikan batu-batu ini seperti puzzle. Sebagian batu ini banyak nan sudah tidak ada alias hilang,” kata Fadli.
Karena itu, teknologi juga mulai dilihat sebagai salah satu langkah untuk membantu proses pemugaran. Fadli mengatakan teknologi dan langkah kerja baru dapat membantu tim menyusun kembali batu-batu candi nan kondisinya sudah tidak lagi utuh.
“Sekarang dengan adanya teknologi kita bisa menyusun puzzle dari batu-batu ini,” kata Fadli.
Meski demikian, pekerjaan di lapangan tetap memerlukan keahlian tim pemugar. Suker bekerja mencari batu, sementara steller mencocokkan dan menentukan penempatannya sebelum batu kembali dipasang ke struktur.
Lima candi nan sedang dipugar, ialah Perwara Deret 1 Nomor 1, 2, 3, 10, dan 50, baru sebagian dari kompleks Plaosan. Kompleks tersebut mempunyai 72 candi perwara dan 268 stupa.
Staf Museum dan Cagar Budaya Febri Wijanarko menjelaskan, berasas kajian prasasti dan paleografi, pembangunan Candi Plaosan diperkirakan berjalan sejak akhir abad ke-8 hingga pertengahan abad ke-9 Masehi.
Plaosan merupakan kompleks percandian berlatar Buddha dengan dua candi induk nan bentuknya nyaris serupa, serta dikelilingi candi perwara dan stupa. Sejumlah komponen arsitekturnya juga menunjukkan pengaruh Hindu.
Peninggalan dari masa itu tetap dapat ditelusuri lewat perincian bangunannya, mulai dari relief, kalamakara, sulur-suluran, hingga mercu.
“Kalau kita mau belajar soal reliefnya sendiri kan banyak motif-motif nan ada di situ. Kemudian bicara ornamen candinya, ada kalamakara, sulur-suluran, ada mercu nan punya pemaknaan sendiri-sendiri,” kata Bambang.
Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin mengatakan nilai keberagaman menjadi salah satu perihal nan mau diangkat dari Candi Plaosan.
Bukan hanya bangunannya nan mau dipertahankan. Plaosan juga diharapkan tetap menjadi living heritage yang hidup dan memberi faedah bagi masyarakat di sekitarnya.
Kolaborasi dengan Djarum Foundation
Pemugaran lima candi perwara Plaosan dilakukan melalui kerjasama Museum dan Cagar Budaya dengan Djarum Foundation.
Director Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, mengatakan pemugaran candi mempunyai proses nan jauh berbeda dari memperbaiki gedung pada umumnya.
“Prosesnya memang bukan proses seperti gedung kemudian dicat. Kita turunkan satu per satu, kemudian kita bongkar layer paling akhir, kita perkuat fondasinya, kemudian baru kita bangun kembali,” ujarnya.
Menurut Mutiara, pekerjaan tersebut melibatkan banyak pihak dengan skill berbeda, mulai dari arkeolog hingga tenaga pemugar nan bekerja langsung mencari dan mencocokkan batu.
Dalam kesempatan nan sama, Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin, mengatakan keterlibatan pihak swasta menjadi salah satu langkah untuk memperluas upaya pelestarian, mengingat banyaknya warisan budaya Indonesia nan perlu dirawat.
Pekerjaan menjaga Plaosan juga tidak berakhir ketika pemugaran selesai. Mutiara mengatakan pengelolaan lingkungan di sekitar candi perlu diperhatikan, mulai dari sampah hingga pemilihan jenis tanaman agar tidak mengganggu struktur bangunan.
“Menjaga gedung candi itu seperti merawat sejarah kita. Kita kudu ingat dari mana asal kita dan gimana kita bakal memberikan estafet ini kepada generasi muda,” tuturnya.
Batu tutup sungkup di Perwara Nomor 2 mungkin hanya satu bagian dari Kompleks Candi Plaosan. Namun, untuk mengembalikannya ke tempat semula, batu-batu lain kudu dicari, dicocokkan, dan diperiksa satu per satu.
Sebab, dalam pemugaran candi, nan dijaga bukan hanya bangunannya, tetapi juga jejak sejarah nan tersimpan di dalamnya.
(kS)
55 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·