Upaya Kemlu RI Agar Selat Hormuz Terbuka untuk 2 Kapal Pertamina

Sedang Trending 5 bulan yang lalu
Jakarta -

Iran mengatakan bakal membuka Selat Hormuz selama dua pekan usai Amerika Serikat (AS) gencatan senjata disepakati. Kini, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengungkap dua kapal tanker milik Pertamina belum bisa melintas di Selat Hormuz.

Pemerintah tetap melakukan diplomasi untuk mengupayakan kapal pembawa minyak itu dapat melintas. Kemlu RI berbareng KBRI Teheran sudah berkoordinasi dengan pemerintah Iran. Mereka juga menjalin komunikasi dengan dengan kedutaan Iran di Jakarta.

"Intinya kita mengupayakan agar kapal Pertamina bisa melintasi dari Selat Hormuz," kata ahli bicara Kemlu Vahd Nabyl dalam bertemu pers di instansi Kemlu, Jakarta Pusat, Rabu (8/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dan termasuk dilakukan juga oleh Bapak Menlu dalam pertemuan dengan Dubes Iran dan juga oleh Dubes kita di Teheran dengan otoritas-otoritas di Iran," tambahnya.

Dia menyebut ada beberapa perihal teknis nan sedang diatasi agar kapal Pertamina bisa lewat. Katanya, pemerintah juga kudu memastikan keselamatan para kru nan melintas.

"Dan saat ini memang perkembangan nan berjalan adalah terdapat beberapa perihal nan cukup teknis nan memang sedang ditindaklanjuti untuk bisa memastikan keselamatan untuk melintas dari sana. Dan ini termasuk antara lain seperti hal-hal seperti asuransi dan juga kesiapan kru," ungkapnya.

Nabyl mengatakan semua pihak wajib mematuhi norma internasional. Pemerintah mau kebebasan navigasi dihormati.

"Dan kita dalam tadi seperti di awal disampaikan juga bahwa pada prinsipnya tentu kita mau meminta agar kebebasan navigasi itu dihormati dan sesuai dengan norma internasional dan UNCLOS," ucapnya.

Nabyl menyebut, saat ini ada dua kapal milik Pertamina nan tertahan di Selat Hormuz, kapal Pertamina Priden dan MT Gamsunoro. Pemerintah sedang mengupayakan agar kapal-kapal nan berangkaian dengan kepentingan nasional bisa diatasi.

Trump Klaim Menang

Presiden AS Donald Trump menyatakan AS telah meraih "kemenangan total dan penuh" setelah menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran. Trump meyakini gencatan senjata itu bakal berujung pada kesepakatan jangka panjang antara AS dan Iran, saat perundingan bersambung pekan ini.

Trump, seperti dilansir AFP, Rabu (8/4), tampak optimis soal gencatan senjata dengan Iran, nan diumumkannya menjelang berakhirnya tenggat waktu nan ditetapkan Presiden AS itu untuk serangan besar-besaran terhadap Teheran.

Dalam wawancara unik via telepon dengan AFP usai pengumuman itu, Trump juga melontarkan keyakinannya soal China telah membujuk Iran untuk bermusyawarah dan mengatakan bahwa uranium nan diperkaya milik Teheran bakal "ditangani secara sempurna".

"Kemenangan total dan sepenuhnya. 100 persen. Tidak ada keraguan tentang perihal itu," kata Trump dalam wawancara singkat dengan AFP, ketika ditanya apakah dia menyatakan kemenangan dengan gencatan senjata tersebut.

Trump, dalam pengumuman via Truth Social pada Selasa (7/4) malam, mengatakan dirinya "setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu". Namun dia memperingatkan bahwa perihal ini disertai syarat, ialah Iran kudu membuka kembali Selat Hormuz dengan "SEPENUHNYA, SEGERA, dan AMAN".

Dengan ketidakpastian mengenai pengaturan untuk pembukaan kembali Selat Hormuz untuk lampau lintas minyak khususnya, Trump bersikeras mengatakan ada kerangka kerja nan kuat untuk kesepakatan jangka panjang.

"Kita mempunyai transaksi 15 poin, nan sebagian besar telah disepakati. Kita lihat saja apa nan terjadi. Kita lihat apakah kesepakatan itu bakal tercapai," ucapnya.

Trump, dalam pernyataannya, menyebut proposal 10 poin nan diajukan Iran bisa menjadi dasar negosiasi lebih lanjut dan "dapat dilaksanakan".

Namun Trump tidak menjawab secara tegas saat ditanya apakah dia bakal kembali pada ancamannya untuk menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan sipil Iran, jika negosiasi lanjutan kandas mewujudkan kesepakatan.

"Anda kudu melihatnya sendiri," kata Trump kepada AFP.

Mojtaba: Bukan Akhir Perang

Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menginstruksikan semua unit militer negaranya untuk berakhir menyerang setelah gencatan senjata disepakati selama dua minggu dengan AS. Namun Mojtaba juga memperingatkan bahwa gencatan senjata itu "bukanlah akhir dari perang".

Pernyataan Khamenei itu, seperti dilansir NDTV dan Hindustan Times, Rabu (8/4), disampaikan oleh stasiun penyiaran milik negara, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), setelah AS dan Iran mengumumkan mereka menyetujui gencatan senjata selama dua minggu, dalam perundingan nan dimediasi Pakistan.

"Ini bukanlah akhir dari perang, tetapi semua bagian militer kudu mematuhi perintah Pemimpin Tertinggi dan menghentikan tembakan mereka," kata Mojtaba Khamenei dalam pernyataannya.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran secara terpisah menyampaikan peringatan serupa, dengan mengatakan bahwa "jari kami tetap berada di pelatuk" nan mengisyaratkan Teheran siap menyerang jika musuh bertindak dengan langkah apa pun.

"Ditekankan bahwa ini tidak menandakan berakhirnya perang," sebut Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dalam pernyataan nan dirilis usai pengumuman gencatan senjata dengan AS.

"Jari kita tetap berada di pelatuk, dan jika kesalahan sekecil apa pun dilakukan oleh musuh, itu bakal ditanggapi dengan kekuatan penuh," tegas Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Pernyataan Mojtaba, nan diangkat menjadi pemimpin tertinggi Iran menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, nan tewas dalam serangan AS dan Israel pada akhir Februari lalu, dirilis saat dia dilaporkan dalam kondisi tidak sadarkan diri dan sedang menjalani perawatan medis darurat di kota Qom, Iran.

Kondisinya memicu keraguan serius tentang siapa sebenarnya nan memimpin Iran saat perang berkecamuk melawan AS dan Israel beberapa pekan terakhir.

(azh/rfs)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News