Wall Street ditutup lebih rendah pada perdagangan Rabu, saat nilai minyak melonjak menembus USD 100 per barel. Saham Apple melemah dan imbal hasil (yield) Treasury AS naik menjelang rilis info inflasi krusial nan diperkirakan keluar akhir pekan ini.
Dikutip dari Reuters, Kamis (10/9), Indeks S&P 500 turun 0,48 persen menjadi 7.636,46 poin. Nasdaq turun 0,64 persen menjadi 26.253,34 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,77 persen menjadi 52.381,02 poin.
S&P 500 turun sekitar 2 persen dari rekor penutupan tertingginya pada 13 Agustus. Namun, indeks tersebut tetap menguat sekitar 12 persen sepanjang 2026.
Kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia dan meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah mendorong nilai minyak mentah Brent menembus USD 100 per barel, level sensitif bagi pasar saham.
Perang AS-Israel dengan Iran nan sekarang memasuki bulan ketujuh telah memicu kekhawatiran terhadap meluasnya bentrok di area tersebut. Harga minyak nan tinggi juga meningkatkan tekanan inflasi.
Indeks sektor daya S&P 500 naik 1,1 persen, sementara seluruh indeks sektor lainnya mengalami penurunan.
Saham Apple turun 0,3 persen setelah perusahaan menggelar peluncuran smartphone pertamanya di bawah CEO baru John Ternus.
Yield surat utang AS Treasury bertenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak November 2023 setelah Departemen Keuangan AS mengatakan bakal membeli obligasi pemerintah bertenor 10-20 tahun senilai hingga USD 6 miliar.
Sejumlah analis sebelumnya memperkirakan pembelian nan lebih besar, ialah sekitar USD 8 miliar hingga USD 10 miliar.
Kenaikan yield obligasi pemerintah nan dianggap sebagai aset bebas akibat membikin kepemilikan saham menjadi kurang menarik bagi investor.
“Hal itu membikin pasar sedikit khawatir, terutama lantaran kami belum mempunyai banyak referensi mengenai ekspektasi untung hingga kita mulai memasuki musim laporan finansial kuartal ketiga,” kata Rob Haworth, Senior Investment Strategist di U.S. Bank Wealth Management di Seattle.
Data Producer Price Index (PPI) AS pada Kamis dan info nilai konsumen pada Jumat bakal menjadi perhatian penanammodal untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah suku kembang Federal Reserve.
Pelaku pasar memperkirakan kesempatan sebesar 60 persen bahwa The Fed bakal meningkatkan suku kembang dalam pertemuan kebijakannya pekan depan.
Saham Meta melonjak lebih dari 6 persen dan membantu membatasi penurunan S&P 500 setelah perusahaan media sosial tersebut meluncurkan asisten AI nan telah lama dinantikan. Asisten tersebut dapat secara berdikari mengirim email, menjual mobil, alias melakukan pemesanan perjalanan atas nama pengguna.
Saham Alphabet turun 2,3 persen setelah perusahaan induk Google tersebut mengatakan bakal menginvestasikan sedikitnya USD 15,1 miliar untuk prasarana AI di Finlandia selama dua tahun ke depan. Investasi tersebut mencakup kesepakatan besar untuk pasokan listrik tenaga nuklir.
Indeks Philadelphia Semiconductor naik 0,37 persen, dengan saham Advanced Micro Devices (AMD) menguat 3 persen.
Saham Dow turun 0,6 persen setelah Bloomberg News melaporkan produsen bahan kimia tersebut tengah mempertimbangkan untuk keluar dari kerja sama senilai USD 20 miliar dengan Saudi Aramco.
Jumlah saham nan turun di S&P 500 lebih banyak dibandingkan saham nan naik dengan rasio 4,1 banding 1.
S&P 500 mencatat tujuh saham nan mencapai level tertinggi baru dan 25 saham nan mencatat level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq mencatat 41 saham nan mencapai level tertinggi baru dan 170 saham nan mencatat level terendah baru.
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·