Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC dan OPEC+ di Tengah Perang Iran

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Bendera UAE. Foto: frantic00/Shutterstock

Uni Emirat Arab (UEA) bakal resmi keluar dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan OPEC+ mulai 1 Mei 2026. UEA telah berasosiasi lebih dari enam dasawarsa keanggotaannya di OPEC.

OPEC merupakan organisasi produsen minyak nan berdiri sejak 1960, beranggotakan negara-negara eksportir minyak utama seperti Arab Saudi, Irak, Iran, Kuwait, dan UEA.

OPEC+ adalah koalisi nan lebih luas, dibentuk pada akhir 2016, nan menggabungkan personil OPEC dengan 10 negara produsen minyak non-OPEC besar, dipimpin oleh Rusia. OPEC+ mewakili sekitar 40–41 persen produksi minyak dunia.

Mengutip Bloomberg pada Rabu (29/4), perihal ini menjadi pukulan signifikan bagi organisasi produsen minyak, sekaligus memunculkan pertanyaan besar mengenai masa depan OPEC di tengah gejolak pasar daya dunia akibat perang dengan Iran.

Keputusan UEA ini merupakan puncak dari ketegangan panjang dengan pemimpin de facto OPEC, Arab Saudi, terutama mengenai kebijakan produksi minyak serta persaingan pengaruh politik di area Teluk.

Konflik nan melibatkan Iran disebut menjadi momentum nan dianggap tepat oleh Abu Dhabi untuk mengambil langkah strategis tersebut.

Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (20/4/2026). Foto: REUTERS

Menteri Energi UEA, Suhail Al Mazrouei, mengungkap keputusan ini diambil setelah melalui kajian panjang dan matang.

“Ini adalah keputusan nan kami ambil setelah tinjauan nan sangat jeli dan panjang terhadap seluruh strategi kami,” ujar Suhail.

“Kami menilai ini waktu nan tepat lantaran tidak bakal berakibat besar terhadap pasar, saat ini pasar justru mengalami kekurangan pasokan,” sambungnya.

Kata Suhail, gangguan pasokan akibat perang menuntut elastisitas nan lebih tinggi dalam merespons kebutuhan pasar, tanpa kudu terikat pada sistem pengambilan keputusan kolektif OPEC. Ia juga menegaskan bahwa UEA tetap bakal menjadi produsen nan bertanggung jawab.

Sebagai salah satu negara dengan kapabilitas persediaan produksi terbesar, UEA selama ini kerap merasa terbatasi oleh kebijakan pembatasan produksi OPEC.

Sebelum bentrok pecah, UEA merupakan produsen terbesar ketiga di dalam OPEC, menyumbang sekitar 12 persen dari total pasokan golongan tersebut.

Analis geopolitik daya dari Rystad Energy, Jorge Leon, menilai langkah ini berpotensi melemahkan struktur OPEC dalam jangka panjang.

Logo Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) di Aljir, Aljazair Foto: Ramzi Boudina/REUTERS

“Implikasi jangka panjangnya adalah OPEC nan secara struktural lebih lemah,” katanya.

“Di luar organisasi, UEA mempunyai insentif dan keahlian untuk meningkatkan produksi, nan memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan peran Arab Saudi sebagai penstabil utama pasar,” lanjut dia.

Dalam jangka pendek, akibat keluarnya UEA diperkirakan terbatas. Hal ini lantaran perang antara AS dan Iran telah menekan ekspor minyak dari area Teluk Persia, memaksa negara-negara seperti UEA, Arab Saudi, dan Irak justru menurunkan produksi. Saat ini, nilai minyak mentah berada di kisaran USD 111 per barel di London.

Para pelaku pasar memperkirakan sekitar satu miliar barel pasokan minyak telah lenyap akibat konflik, dan pemulihannya diperkirakan menyantap waktu bertahun-tahun.

Ketegangan antara UEA dan Arab Saudi sebelumnya juga terlihat dalam beragam pertemuan OPEC+, di mana UEA mau meningkatkan kapabilitas produksinya, sementara Riyadh mendorong pembatasan suplai.

Perselisihan serupa apalagi sempat membawa UEA nyaris keluar dari OPEC, meski akhirnya urung dilakukan. Selain itu, rivalitas politik juga mencuat dalam bentrok di Yaman, di mana kedua negara mendukung pihak nan berbeda.

Ketegangan semakin meningkat setelah perang antara AS dan Israel melawan Iran pecah pada akhir Februari 2026, nan diikuti serangan jawaban Teheran berupa ribuan rudal dan drone ke negara-negara Teluk.

UEA juga merasa kecewa lantaran kurangnya support regional terhadap upayanya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mendapatkan mandat penggunaan kekuatan guna membuka kembali Selat Hormuz nan tetap tertutup akibat konflik.

Di luar sektor energi, persaingan ekonomi antara UEA dan Arab Saudi juga semakin tajam. Riyadh tengah berupaya menjadi pusat finansial regional untuk menyaingi Dubai.

Sejumlah negara sebelumnya telah lebih dulu keluar dari OPEC. Angola hengkang pada akhir 2023, disusul Ekuador pada 2020, dan Qatar pada 2018 nan memilih konsentrasi pada sektor gas alam. Sementara itu, Iran tetap menjadi anggota.

Menurut survei Bloomberg, UEA memproduksi sekitar 3,6 juta barel per hari pada Februari, sebelum turun hingga 40 persen pada Maret akibat gangguan produksi lantaran perang.

Meski demikian, perusahaan minyak nasionalnya, ADNOC, menyatakan kapabilitas produksi bisa mencapai 4,85 juta barel per hari, mendekati sasaran 5 juta barel.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan