Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM menyampaikan konklusi final penelitan di kasus kebakaran misterius nan terjadi 125 kali di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.
Tim peneliti menyimpulkan tidak ada temuan gas alam dalam kasus kebakaran misterius tersebut.
"Berdasarkan hasil penelitian Tim PKPE-FT UGM dan merujuk pada Prinsip Teori Segitiga Api menyimpulkan bahwa medan elektromagnetik terukur pada level kondusif nan berfaedah bukan pemantik nyala api," kata Koordinator Tim PKPE Fakultas Teknik UGM, Alva Edy Tontowi, saat konvensi pers di kantornya, Sabtu (13/6)
"Sumber api bukan dari rembesan gas alam dari bawah permukaan (lantai)," katanya.
Lanjutnya tak ditemukan gas alam nan bisa terbakar sendiri di rumah tersebut.
Hasil pemetaan bawah permukaan menggunakan teknologi Georadar dan Geolistrik tidak ditemukan lapisan di bawah permukaan sebagai sumber gas alam, dan retakan nan ditemukan dinterpretasi tidak mengandung gas alam.
"Tidak ada anomali termal dan tidak ditemukan gas nan dapat menyala sendiri secara alami (self-ignition) pada suhu kamar," tegasnya.
Dari temuan tim peneliti, api nan membakar material dalam kasus tersebut kemungkinan berasosiasi dengan adanya resin poly vinyl chloride alias PVC.
PVC ini mudah terbakar jika berjumpa sumber api (ignition).
"Resin ini telah ditemukan pada residu pembakaran berasas pengetesan metoda FTIR," kata Alva.
PVC ini dijumpai dari residu kebakaran di tembok keramik maupun kayu alias tripleks.
"Saat PVC terbakar, bakal muncul gas hidrogen klorida," katanya.
Gas tersebut bisa terbaca sebagai gas hidrogen oleh detektor gas nan mempunyai sensor membran H2, seperti pada temuan pertama UGM beberapa waktu lalu.
"Fenomena ini disebut cross sensitivity. Gas hidrogen klorida nan mempunyai atom hidrogen di dalam molekulnya bakal membikin elektroda sensor hidrogen bereaksi dan perangkat seolah membaca ada gas hidrogen," katanya.
Penelitian ini dinyatakan sudah selesai. Hasil bakal diserahkan kepada BPBD Sleman.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·