UEM Gelar Konser Harmoni Peringati Tiga Dekade Transformasi Historis

Sedang Trending 1 jam yang lalu
UEM Gelar Konser Harmoni Peringati Tiga Dekade Transformasi Historis Ilustrasi(Dok. Istimewa)

Tiga dasawarsa silam, sebuah perubahan radikal terjadi dalam peta misi kekristenan global. United Evangelical Mission (UEM) – Communion of Churches in Three Continents melakukan rekonstruksi struktural nan meruntuhkan tembok paternalistik antara "gereja pengutus" di Eropa dan "gereja penerima" di Asia serta Afrika. Momentum berhistoris nan bermulai pada Sidang Raya 1996 di Bielefeld-Bethel, Jerman tersebut, sekarang diperingati melalui seremoni akbar berjudul Konser Harmoni: “Faith beyond Fear — 30 Years and Forward”.

Digelar di Smesco Convention Hall, Jakarta, pada Sabtu (20/6), aktivitas ini menjadi simbol keberhasilan transformasi UEM dari model Rhenische Mission Gesselschaft (RMG) abad ke-19 menjadi persekutuan internasional nan setara. Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) bertindak sebagai tuan rumah dalam perhelatan nan dihadiri lebih dari 1.500 delegasi, ketua gereja, hingga tokoh nasional.

Dekonstruksi Model Misi: Dari Objek Menjadi Subjek

Inti dari internasionalisasi UEM adalah pergeseran paradigma teologis. Jika sebelumnya Eropa bertindak sebagai subjek tunggal, sekarang UEM menerapkan prinsip: “setiap orang memberi, menerima, dan mengambil keputusan bersama”. Transformasi ini diwujudkan melalui lima pilar utama:

  • Advokasi: Fokus pada keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.
  • Diakonia: Pelayanan sosial bagi masyarakat nan membutuhkan.
  • Pembangunan: Pemberdayaan organisasi personil di tiga benua.
  • Penginjilan: Penyebaran berita baik secara holistik.
  • Kemitraan: Kolaborasi lintas pemisah nan setara.

Saat ini, UEM memayungi 39 anggota, dengan 17 sinode berada di Asia, di mana 8 di antaranya berpusat di Pulau Sumatera, Indonesia.

Catatan Historis: Internasionalisasi UEM pada 1996 menghapus sekat antara "gereja tua" dan "gereja muda", memberikan kewenangan bunyi dan kepemimpinan nan setara bagi gereja-gereja di bagian bumi selatan (Global South).

Faith Beyond Fear: Keberanian di Tengah Krisis

Tema "Faith Beyond Fear" nan diambil dari teks 2 Timotius 1:7 bukan sekadar slogan. Menurut Ketua Panitia, Pdt. Dr. Jenny Rossy Christine Purba, tema ini merupakan respons profetis terhadap polarisasi politik dan gejolak ekonomi dunia saat ini. "UEM membuktikan bahwa pemisah geografis tidak bisa menyekat spirit oikumene," tegasnya.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal UEM, Pdt. Dr. Andar Parlindungan Pasaribu—putra Indonesia pertama nan memimpin lembaga internasional ini—menyoroti pentingnya kemandirian. Meski kepemimpinan sekarang telah inklusif, tantangan finansial membayangi seiring menurunnya kontribusi dari Eropa. Momentum 30 tahun ini diharapkan memantik kemandirian teologis dan finansial gereja-gereja di Asia.

Sinergi Budaya dan Filantropi

Konser Harmoni ini tidak hanya menampilkan orkestra dan narasi visual sejarah 17 sinode Asia, tetapi juga menjadi arena penggalangan biaya kemanusiaan. Fokus utama filantropi ini meliputi:

  1. Perlindungan dan pemenuhan kewenangan anak-anak nan membutuhkan.
  2. Dukungan edukasi berkepanjangan bagi penerima danasiwa (scholarship holders) UEM di wilayah Asia.
  3. Kolaborasi strategis antara gereja, pemerintah, dan sektor swasta untuk kesejahteraan publik.

Kehadiran pejabat negara dalam aktivitas ini menegaskan bahwa misi UEM dalam merawat kemanusiaan senantiasa beririsan dengan agenda pembangunan nasional. Dengan semangat "30 Years and Forward", UEM berkomitmen terus melangkah melampaui rasa takut untuk menjadi saksi nan hidup di tiga benua.

FAQ: Mengenai 30 Tahun Internasionalisasi UEM

Apa itu UEM? United Evangelical Mission adalah persekutuan internasional gereja-gereja di Asia, Afrika, dan Jerman nan mengedepankan kesetaraan misi.
Mengapa tahun 1996 dianggap krusial? Karena pada tahun tersebut UEM resmi berubah dari organisasi misi Jerman menjadi organisasi internasional nan setara.
Siapa tuan rumah seremoni 30 tahun di Jakarta? Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS).
Apa makna tema "Faith Beyond Fear"? Keberanian eksistensial untuk terus melayani dan berasosiasi di tengah krisis dunia dan ketidakpastian.
Apa tantangan utama UEM ke depan? Membangun kemandirian finansial dan teologis gereja-gereja di Asia dan Afrika.
Apa tujuan penggalangan biaya dalam konser ini? Untuk program perlindungan anak, danasiwa pendidikan, dan tindakan diakonia lainnya.
Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia