Tuna hingga Gurita Laris, Boga Bahari RI Raup Rp 3,49 T di JISTE 2026 Jepang

Sedang Trending 50 menit yang lalu
Pekerja memeriksa kualitas daging ikan tuna kualitas ekspor hasil tangkapan nelayan di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Lampulo, Banda Aceh, Aceh, Selasa (5/11/2024). Foto: ANTARA FOTO /Irwansyah Putra

Pelaku upaya boga bahari Indonesia mencatatkan potensi transaksi sebesar USD 198,33 juta alias sekitar Rp 3,49 triliun (kurs Rp 17.632 per dolar AS) pada gelaran The 28th Japan International Seafood & Technology Expo (JISTE) 2026 di Jepang.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, membeberkan bahwa komoditas nan menyumbang potensi transaksi terbesar adalah ikan tuna corak dan olahannya, gurita, ikan kisu, ebi fry, cakalang, rajungan, cumi-cumi, sotong, chirimen, tobiko, uni, serta beragam produk hasil laut olahan lainnya.

“Potensi transaksi pada JISTE 2026 menunjukkan tingginya daya saing produk perikanan Indonesia di Jepang,” kata Puntodewi dalam keterangan resminya, Selasa (8/9).

Puntodewi mengimbau para eksportir boga bahari Indonesia untuk terus mengoptimalkan penerapan Protokol Perubahan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) guna menembus pasar ikan olahan di Negeri Sakura. Melalui kerja sama tersebut, akses pasar semakin terbuka lewat kebijakan tarif nol persen untuk produk ikan olahan asal Indonesia.

Duta Besar RI untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir, menambahkan bahwa sektor perikanan merupakan pilar krusial dalam hubungan ekonomi kedua negara. Ia mengingatkan para pelaku upaya untuk menjaga komitmen, konsistensi, dan kontinuitas pasokan guna mempertahankan kepercayaan mitra Jepang.

“Kepercayaan dari mitra Jepang dibangun tidak hanya dari kualitas produk, tetapi juga dari keandalan dan transparansi dalam memenuhi komitmen,” tutur Kartini.

Pameran JISTE 2026 berjalan pada 19–21 Agustus 2026 di Tokyo Big Sight, diikuti oleh 700 perusahaan dari 19 negara dan menarik 30.091 pengunjung. Paviliun Indonesia menempati area seluas 72 meter persegi nan diisi 14 perusahaan hasil kerjasama Kemendag, KBRI Tokyo, BNI, BRI, serta ASEAN-Japan Centre.

Adapun 14 perusahaan tersebut meliputi PT Unimitra Andalan Sejati, PT Bahari Biru Nusantara, CV Karimun Mina Sejahtera, PT Sinar Surya Alam, PT Kilau Marine International, PT Berkat Matsya Nusantara, PT Amy Pasifik Morotai, PT Nirvana Niaga Sejahtera, PT Empat Berkah Milioner, PT Edmar Mandiri Jaya, PT Makan Udangnya Indonesia, PT Buana Laut Nusantara, PT United Oceans Worldwide, dan PT FLX International Group.

Ajang ini juga membuahkan penandatanganan MoU antara PT Nirvana Niaga Sejahtera dan Godai Co., Ltd. asal Jepang untuk kerja sama pengembangan produk sashimi-grade yellowfin tuna loin berbobot potensi transaksi USD 9,6 juta alias sekitar Rp 169,25 miliar.

Manajer Pengembangan Bisnis PT Nirvana Niaga Sejahtera, Andi Faisal, menilai keikutsertaan ini sangat efektif memperkuat penetrasi pasar di Jepang, baik melalui kesepakatan MoU maupun penjajakan dengan calon pembeli baru.

Berdasarkan info Kemendag, nilai ekspor produk perikanan Indonesia ke Jepang pada periode Januari–Juni mencapai USD 173,00 juta. Dari jumlah tersebut, ekspor unik produk olahan perikanan tercatat sebesar USD 45,81 juta nan ditopang oleh komoditas olahan tuna, cakalang, cumi-cumi, dan gurita.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan