Jakarta, CNBC Indonesia - Tumpahan minyak besar terdeteksi dari luar angkasa setelah serangan antara Iran dan aliansi AS-Israel menghantam akomodasi daya dan kapal di area Teluk Persia. Para mahir memperingatkan kejadian ini berpotensi memicu musibah lingkungan nan luas dan berkepanjangan.
Citra satelit menunjukkan kerusakan signifikan di sejumlah titik, termasuk area dengan keanekaragaman hayati nan rentan. Tumpahan minyak tersebut menakut-nakuti kehidupan laut sekaligus mata pencaharian masyarakat pesisir di sepanjang Teluk Persia.
Salah satu gambaran nan diambil pada 7 April memperlihatkan tumpahan minyak membentang lebih dari 8 kilometer di Selat Hormuz, dekat Pulau Qeshm, Iran. Juru bicara Greenpeace Jerman, Nina Noelle, mengatakan kebocoran terjadi dari kapal Iran Shahid Bagheri nan sebelumnya diserang pasukan AS pada 28 Februari.
"Dampaknya bisa sangat luas, memengaruhi seluruh ekosistem, dari mikroorganisme hingga ikan, burung, dan penyu laut," ujar Noelle, seperti dikutip CNN International, Rabu (22/4/2026).
Gambar lain menunjukkan tumpahan minyak di sekitar Pulau Lavan, menyusul serangan nan oleh media pemerintah Iran disebut sebagai tindakan "musuh" terhadap akomodasi minyak di wilayah tersebut. Rekaman video nan beredar juga memperlihatkan kebakaran besar di kilang minyak Iran.
Wim Zwijnenburg, pemimpin proyek di organisasi perdamaian Belanda PAX, menyebut serangan di Lavan sebagai "darurat lingkungan nan besar." Ia mengungkapkan sedikitnya lima letak di pulau itu mengalami kerusakan parah, memicu kebocoran minyak ke laut.
"Tumpahan ini sekarang apalagi mencapai Pulau Shidvar, nan merupakan area lindung dengan beragam jenis dilindungi," ujarnya.
Pulau Shidvar dikenal sebagai kediaman krusial bagi penyu dan burung laut. Meluasnya tumpahan ke area tersebut meningkatkan akibat kerusakan ekosistem nan lebih dalam.
Tak hanya di Iran, gambaran satelit juga menunjukkan tumpahan minyak di lepas pantai Kuwait pada 6 April. Garda Revolusi Iran menyatakan serangan ke akomodasi daya di area Teluk, termasuk Kuwait, sebagai jawaban atas serangan terhadap kompleks petrokimia mereka.
Dalam skenario terburuk, ribuan penduduk pesisir berpotensi terdampak, terutama dari sisi ekonomi dan ketahanan pangan. Pencemaran laut bisa merusak stok ikan nan menjadi sumber utama penghidupan masyarakat.
Selain itu, tumpahan minyak juga menakut-nakuti satwa laut seperti penyu, lumba-lumba, hingga paus. Minyak dapat tertelan alias menjebak hewan-hewan tersebut, meningkatkan akibat kematian.
Foto: Tumpahan minyak di lepas pantai Kuwait, seperti terlihat dalam gambar dari tanggal 6 April 2026. (Dok. Sentinel-2/Badan Antariksa Eropa)
Dampak lain nan tak kalah serius adalah potensi gangguan pada akomodasi desalinasi. Sekitar 100 juta orang di area Teluk berjuntai pada instalasi ini untuk mendapatkan air bersih.
Hingga kini, skala kerusakan tetap susah diukur. Namun, akibat membesar tetap tinggi, terutama jika bentrok terus bersambung dan lebih banyak kapal tanker terdampak. Greenpeace mencatat, sekitar 75 kapal tanker besar berada di area tersebut dengan muatan nyaris 19 miliar liter minyak mentah.
Noelle menegaskan, upaya pembersihan tumpahan minyak di wilayah bentrok menjadi tantangan besar. "Kompleksitas struktur, akses terbatas, dan kondisi kerja nan rawan membikin penanganan nyaris mustahil dilakukan saat bentrok tetap berlangsung," katanya.
(tfa/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·