Satu perihal ini membikin hidup Jet Li berubah. Momen itu terjadi ketika dia selamat dari musibah tsunami Samudra Hindia 2004.
Dilansir PEOPLE, tokoh laga berumur 63 tahun itu menceritakan perihal tersebut saat membahas kitab terbarunya berjudul Beyond Life and Death: The Way of True Freedom.
Saat musibah tsunami Samudra Hindia 2004, Jet Li dan keluarganya berada dalam kondisi bahaya. Kala itu, mereka sedang liburan berbareng di Maladewa.
Sebelum merasakan pengalaman tersebut, Li mengatakan banyak orang nan memberikan support terhadap karya-karyanya. Ia menghargai perihal tersebut.
Namun, di sisi lain, Li memikirkan gimana caranya membalas semua kebaikan mereka.
"Aku berpikir, ‘Oke, mungkin suatu hari kelak saat saya pensiun, saya bakal melakukan aktivitas amal. Aku bakal membantu orang miskin dan mengambil tanggung jawab itu’," kata Li kepada PEOPLE.
Ketika musibah tsunami terjadi, Li baru berumur 41 tahun dan sangat dekat dengan kematian. Situasi itu membuatnya tersadar bahwa tidak ada seorang pun nan tahu mengenai umur seseorang.
"Kamu mau pensiun? Bisa saja sebelum itu terjadi Anda sudah lebih dulu meninggal. Aku mungkin kuat, mahir kung fu, tapi di hadapan alam, ketika tsunami datang, Anda bukan apa-apa," tutur Li.
Begitu memastikan bahwa istri dan anak-anaknya selamat, Li menyadari sungguh besar tragedi nan baru saja mereka lewati. Momen itu mengubah langkah pandangnya tentang hidup.
“Aku berpikir, ‘Ini waktunya bagiku untuk berubah. Aku kudu melakukan sesuatu untuk membantu orang lain.’ Jadi, saya mendirikan sebuah yayasan di China dan membujuk semua orang untuk berdonasi satu Yuan setiap bulan. Kalau dikumpulkan bersama-sama, kita bisa menciptakan perubahan, langkah baru dalam beramal,” ucap Li.
Awalnya, buahpikiran Li untuk mendirikan One Foundation sempat diragukan banyak orang. Mereka menganggap itu bukan buahpikiran nan bagus.
Menurut Li, banyak nan merasa perusahaan besar alias orang kaya nan bisa menyumbang jutaan dolar jauh lebih berfaedah dibanding meminta masyarakat biasa menyumbang satu Yuan.
“Tapi rupanya kita bisa menciptakan perubahan. Kami berupaya keras dan setelah 15 tahun, seluruh family ikut berpartisipasi, mengumpulkan sedikit demi sedikit duit mereka. Kami sukses mengembalikan lebih dari sekitar USD 735 juta kepada masyarakat untuk membantu banyak orang. Jangan memandang jumlah kecilnya. Kalau semua orang mengumpulkan sedikit demi sedikit, kita bisa membangun gunung,” ucap Li.
Li juga menegaskan bahwa setiap orang kudu ikut mengambil peran dalam menciptakan perubahan.
“Itulah nan saya yakini, bahwa kita kudu berupaya semaksimal mungkin mengubah hidup kita. Kita tidak bisa hanya menunggu seseorang datang menyelamatkan kita. Kita kudu melakukan sesuatu. Itulah perubahan terbesar dalam hidupku setelah tsunami," kata Li.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·