Setidaknya terpisah sejauh 6 dekade, generasi baby boomer nan lahir di rentang tahun 1946-1964 dan generasi alpha nan lahir di rentang tahun 2010-2014, sekarang hidup berdampingan. Tumbuh dan besar dengan situasi, lingkungan, nilai dan teknologi nan berbeda, bisa menyebabkan adanya kesalahpahaman antara kedua generasi ini. Tidak peduli apakah di tempat kerja, di sekolah alias kampus, dan apalagi dalam family nan tinggal serumah sekalipun.
Baby Boomer: Si Mesin Ketik
Generasi baby boomer, tumbuh pada waktu setelah perang dan di masa-masa awal orang mulai membangun, era di mana mesin ketik tetap merupakan sesuatu nan dianggap mewah. Suatu masa nan penuh dengan tantangan dan kesulitan. Di Indonesia sendiri, masa-masa itu juga adalah masa-masa nan susah dan kehidupan begitu keras dan terbatas. Baby boomer terbentuk dengan tempaan, kerja keras dan disiplin.
Generasi ini sangat menghargai pengalaman dan proses nan panjang. Bayangkan saja, untuk mendapatkan informasi, generasi baby boomer kudu berupaya keras untuk bisa mengakses kitab melalui perpustakaan, alias mendapatkan info melalui surat kabar, nan memerlukan waktu untuk pengiriman setelah di cetak. Keterbatasan menjadi sesuatu nan biasa bagi generasi ini. Teknologi memang belum semasif saat ini.
Generasi baby boomer juga lebih suka jika berkomunikasi secara langsung. Tatap muka bukan hanya soal memandang secara langsung, tapi juga bagian penilaian lantaran generasi baby boomer juga mempertimbangkan upaya dan pengorbanan dari seseorang untuk menghargai orang lain.
Cara berpakaian, karakter dan pembawaan, termasuk langkah berkomunikasi dan tata bahasa, adalah sesuatu nan berbobot bagi generasi ini. Komunikasi dengan tata bahasa nan “gaul”, hanya untuk situasi nan non umum dan kudu sudah berkawan terlebih dahulu, sehingga berkomunikasi secara umum serta keahlian dalam memilih dan mengolah kata, merupakan salah satu poin tambah bagi mereka.
Alpha: Si Mesin nan Belajar
Berbeda dengan generasi baby boomer, generasi alpha sejak lahir sudah berkawan dengan teknologi. Internet, smartphone dan kepintaran buatan bukan sesuatu nan asing bagi mereka. Kemudahan nan diperoleh dari teknologi ini membikin mereka mempunyai style hidup nan serba instan.
Ketika mencari sesuatu seperti informasi, mereka mendapatkannya dengan segera. Ketika mencari pengetahuan pengetahuan maupun untuk mendapatkan info terbaru, cukup dengan menggunakan smartphone dan akses internet nan sudah ada dalam genggaman. Dengan kemudahan-kemudahan nan dimiliki, generasi alpha condong lebih menghargai kecepatan dan fleksibilitas. Sangat berbeda dengan generasi baby boomer.
Generasi ini juga tidak nyaman dengan sesuatu nan durasinya panjang. Generasi alpha lebih menyukai video pendek. Selama menurut mereka isi video itu masuk dalam nalar, maka mereka bakal menganggapnya sebagai sesuatu nan betul tanpa mencari tahu lebih jauh tentang kebenarannya. Dalam berkomunikasi pun generasi ini lebih memilih untuk menggunakan aplikasi daripada bertatap muka lantaran jauh lebih sigap dan nyaman menurut mereka. Penampilan bukan sesuatu nan menjadi tolok ukur buat mereka. Kehadiran cukup direpresentasikan dengan status “Online”. Tanpa upaya nan banyak, tanpa membuang waktu, nan krusial pesannya tersampaikan. Kemahiran dalam menggunakan teknologi adalah satu perihal nan menjadi kebanggaan.
Jembatan 2 Generasi
Perbedaan ini sangat wajar, lantaran memang kondisi, situasi, dan teknologi nan ada di masing-masing era berbeda. Namun tidak berfaedah kedua generasi ini bakal selamanya terpisah oleh pemahaman dan perspektif pandang masing-masing.
Bagi generasi baby boomer nan sangat menghargai proses , bisa dipertimbangkan bahwa ini sebenarnya adalah proses nan kudu dijalani oleh generasi alpha sesuai dengan kondisi dan situasi saat ini. Bentuk kedisiplinan nan diajarkan menjadi berbeda. Jika generasi baby boomer lebih memperhatikan penampilan, dan kudu memberikan upaya lebih dalam perihal teknologi, maka saat ini mungkin generasi alpha berada dalam posisi sebaliknya.
Mereka unggul dalam perihal penggunaan teknologi, namun tidak aktif dalam kehidupan nan sebenarnya. Tidak suka berolahraga, tidak menjaga kesehatan, tidak suka aktivitas bentuk nan dianggap melelahkan. Maka, sejatinya generasi ini juga memerlukan dorongan hanya dengan arah nan berbeda. Sama-sama butuh belajar tentang proses. Sama-sama butuh belajar untuk disiplin.
Hanya bentuknya kali ini nan berbeda. Generasi alpha pun perlu diajarkan untuk menjaga keseimbangan hidup, bahwa kehidupan nyata juga sama pentingnya, tidak hanya bumi maya saja. Karena generasi baby boomer pun pernah muda, dan proseslah nan membentuk mereka sampai bisa menjadi seperti sekarang ini. Di sini diperlukan kedewasaan dari generasi baby boomer untuk mau menjalin komunikasi dengan generasi alpha.
Pengalaman nan dimiliki oleh baby boomer bisa menjadi modal untuk berbagi dengan generasi alpha bahwa hidup tidak semata-mata terbatas pada layar smartphone. Tentu dengan bahasa nan disesuaikan dengan generasi alpha. Jika perlu, masuki dulu sedikit bumi generasi alpha agar lebih bisa diterima oleh mereka, namun jangan melupakan tujuan awalnya. Tetap kudu waspada, jangan sampai malah ikut terjebak dalam bumi generasi alpha. Hehehehe.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·