Trump Remehkan Kabar Batalnya Perundingan Damai dengan Iran

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Trump Remehkan Kabar Batalnya Perundingan Damai dengan Iran Donald Trump.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump berupaya meremehkan potensi kegagalan perundingan tenteram dengan Iran. Dalam wawancara dengan CNBC pada Senin, 1 Juni 2026, Trump menyebut proses negosiasi tersebut mulai terasa sangat membosankan dan mengaku tidak peduli jika pembicaraan tersebut betul-betul berakhir.

Pernyataan ini muncul menyusul laporan dari media pemerintah Iran, instansi buletin Tasnim, nan menyatakan bahwa tim negosiasi Teheran menghentikan komunikasi dengan Washington melalui mediator. Langkah tersebut diambil sebagai corak protes atas intensifikasi kampanye militer Israel di Libanon yang menargetkan golongan Hizbullah nan didukung Iran.

"Sejujurnya, saya tidak peduli jika perundingan itu berakhir. Saya betul-betul tidak peduli," ujar Trump. "Jika berakhir, ya berakhir. Jika tidak, menurut saya mereka sudah membuang terlalu banyak waktu."

Konteks Konflik: Perang Iran-AS pecah pada 28 Februari 2026 melalui serangan udara campuran AS dan Israel nan dikenal sebagai Operation Epic Fury. Serangan ini menargetkan situs militer dan pemerintahan Iran.

Kontradiksi Pernyataan dan Stabilitas Pasar

Meskipun Trump menunjukkan sikap acuh tak acuh di televisi, dia kemudian mengeluarkan pernyataan nan bertolak belakang melalui unggahan di Truth Social. Trump mengeklaim bahwa pembicaraan terus bersambung dengan kecepatan tinggi dengan Republik Islam Iran.

Kabar mengenai penghentian negosiasi ini sempat memicu kenaikan nilai minyak dunia. Namun, Trump menyatakan keyakinannya bahwa nilai komoditas tersebut bakal segera turun drastis dalam waktu dekat. Ketidakpastian ini juga menjadi perhatian pelaku pasar global.

Klaim Gencatan Senjata di Libanon

Di tengah kebuntuan dengan Teheran, Trump mengeklaim telah mencapai kemajuan di front Libanon. Ia menyatakan telah berkomunikasi dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menurutnya setuju untuk membatalkan operasi militer di pinggiran kota Beirut.

"Saya melakukan panggilan telepon nan sangat produktif dengan PM Bibi Netanyahu. Tidak bakal ada pasukan nan masuk ke Beirut dan pasukan nan sedang dalam perjalanan telah diperintahkan kembali ke Israel," tulis Trump. Ia juga menambahkan telah menjalin kontak dengan perwakilan Hizbullah dan mengeklaim kedua belah pihak setuju untuk menghentikan baku tembak.

Hambatan Utama: Program Nuklir

Wakil Presiden JD Vance sebelumnya mengungkapkan bahwa titik buntu utama dalam negosiasi adalah program nuklir Iran dan pengayaan uranium tingkat tinggi. Trump bersikeras bahwa Iran kudu membuang seluruh persediaan uranium nan diperkaya dan mengakhiri program nuklirnya sebagai syarat kesepakatan apa pun.

Di sisi lain, para pemimpin Iran secara konsisten menegaskan bahwa kewenangan mereka untuk melakukan pengayaan uranium adalah perihal nan tidak dapat dinegosiasikan. Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah jarak komunikasi nan dilaporkan Tasnim berkarakter permanen alias sekadar strategi tekanan diplomatik di tengah invasi darat Israel nan meluas di Libanon. (USA Today/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia