Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperkenalkan Air Force One alias pesawat kepresidenan nan baru di Joint Base Andrews, Maryland, AS beberapa waktu lalu.
Pesawat Boeing 747 tersebut menjadi sorotan lantaran merupakan bingkisan dari Qatar nan nilainya mencapai USD 400 juta alias sekitar Rp 7,13 triliun (dengan kurs Rp 17.826 per dolar AS).
Dikutip dari The Guardian pada Sabtu (20/6), nilai pemberian nan besar tersebut sempat dikritik lantaran jauh melampaui pemisah bingkisan nan dapat diterima pejabat federal AS, ialah USD 50 per tahun dari satu sumber nan sama.
Walau begitu, kritik tersebut direspons oleh Trump nan menyebut ‘bodoh’ jika menolak tawaran tersebut. Sementara itu, ahli bicara Pentagon Sean Parnell menyatakan bahwa Menteri Pertahanan AS menerima Boeing 747 dari Qatar sesuai dengan seluruh patokan dan izin federal nan berlaku.
Trump juga mengapresiasi Emir Qatar atas pemberian tersebut. Menurutnya, pesawat tersebut sebagai salah satu pesawat paling mewah di dunia.
"Dia laki-laki nan luar biasa. Dia telah melalui banyak perihal dalam beberapa bulan terakhir.
Ini dianggap sebagai pesawat paling mewah di dunia. Saat dibangun, kualitasnya dibuat pada tingkat nan mungkin tidak bakal pernah terlihat lagi," kata Trump.
Menurut Trump, Air Force One baru diperlukan agar AS dapat menyamai pesawat modern nan digunakan para pemimpin negara lain. Adapun Air Force One nan selama ini sudah ada ialah VC-25A memang sudah tua di mana pesawat tersebut mulai beraksi pada 1990 alias saat pemerintahan Presiden George H.W. Bush.
"Negara-negara lain sangat menghormati kita, tetapi mereka mempunyai pesawat nan jauh lebih baru dan lebih baik. Itu agak konyol," ujarnya.
Meski pemberian Qatar, Air Force One baru nan diberi kode VC-25B tersebut tetap menyantap biaya modifikasi alias konversi sebesar USD 1 miliar.
Maka dari itu, kritik terhadap pesawat bingkisan dari Qatar itu juga muncul lantaran biaya konversinya dinilai dapat mengalihkan anggaran dari program modernisasi rudal balistik antarbenua (ICBM) Sentinel nan saat ini juga mengalami keterlambatan bertahun-tahun.
Pesawat tersebut sebenarnya hanya bakal menjadi pesawat ‘interim’ alias sementara sembari menunggu dua Air Force One baru nan pengirimannya tertunda ke 2027 dan 2028. Terkait dua Air Force One baru nan dalam pesanan, nilai pengadaannya membengkak dari USD 3,7 miliar menjadi USD 5 miliar.
Adapun Air Force One lama dengan VC-25A bernomor ekor 29000 memang sedang dipensiunkan usai membawa pulang Trump dari Eropa. Sementara VC-25A lain bernomor ekor 28000 bakal tetap beraksi berbareng VC-25B baru hingga pesawat kepresidenan generasi berikutnya resmi dikirim.
Selain itu, VC-25B nan menjadi Air Force One interim tersebut juga mempunyai livery berbeda dengan Air Force One sebelumnya nan berwarna biru muda bercampur putih. Alih-alih sama dengan livery lama, pesawat baru tersebut menggunakan livery nan mirip dengan pesawat pribadi Trump.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·