Tewas Massal Berlanjut-Tenaga Medis Berguguran, Virus Makin Ganas

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa pandemi Ebola nan melanda Republik Demokratik Kongo berkembang sangat serius dan menyebar dengan sangat cepat, meskipun beragam upaya penanganan sekarang terus ditingkatkan.

Direktur Kedaruratan WHO untuk Afrika, Marie Roseline Belizaire, menyatakan bahwa situasi pandemi saat ini menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan negara tersebut. Ia mengatakan pihaknya tetap berpacu untuk mengejar situasi nan memburuk di timur laut DRC nan menjadi pusat wabah.

WHO mencatat virus telah menyebar selama beberapa bulan sebelum pandemi resmi diumumkan pada 15 Mei 2026, sehingga banyak tenaga kesehatan terpapar tanpa perlindungan nan memadai.

"Wabah ini tetap serius dan berkembang sangat cepat. Namun, saya telah memandang respons nan semakin kuat setiap hari," kata Belizaire nan dikutip Channel New Asia, Sabtu (20/6/2026).

Wabah nan terdeteksi pada 15 Mei lampau ini disebabkan oleh virus Ebola jenis Bundibugyo, nan hingga sekarang belum mempunyai vaksin maupun terapi spesifik nan telah disetujui. Kondisi tersebut membikin pengendalian pandemi menjadi lebih susah dibandingkan pandemi Ebola jenis Zaire nan pernah terjadi sebelumnya.

Menurut info terbaru WHO, sejauh ini terdapat 896 kasus nan terkonfirmasi di DRC, termasuk 232 kematian nan terkonfirmasi, dengan 21 kasus baru dalam 24 jam terakhir.

Lebih dari 90 persen kasus nan diketahui di DRC terjadi di Ituri nan dilanda konflik.

Wabah ini juga telah menyebar ke provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan.

Belizaire mengatakan epidemi tersebut berkembang begitu sigap sehingga respons nan diberikan berupaya keras untuk mengimbangi penyebaran virus, nan menyebar melalui kontak dekat dan cairan tubuh nan terinfeksi.

"Jumlah tempat tidur perawatan nan tersedia untuk pasien Ebola telah meningkat dari nol menjadi lebih dari 500. Dan tim pengawasan sekarang sedang menyelidiki nyaris 400 peringatan dan bisa melakukan lebih dari 2.000 tes per hari, paparnya.

Belizaire juga menyoroti bahwa upaya untuk melacak kontak dari kasus Ebola nan diketahui telah meningkat, dengan 75 persen dari semua kontak sekarang telah dihubungi.

WHO telah menyatakan bahwa 95 persen kontak kudu dilacak untuk mengatasi pandemi tersebut.

Belizaire mengungkap beberapa orang nan jatuh sakit tinggal di rumah, kemudian pergi ke tabib tradisional, sebelum akhirnya pergi ke pusat kesehatan, sehingga menunda akses ke perawatan.

Di DRC, 78 orang telah pulih setelah tertular Ebola, nan disebutnya sebagai pengingat nan kuat bahwa pemeriksaan tepat waktu dan akses ke perawatan kesehatan berbobot dapat menyelamatkan nyawa.

Tenaga Kesehatan Gugur

Belizaire mengatakan tenaga kesehatan sangat terpukul pada tahap awal epidemi. Sejauh ini, 75 tenaga kesehatan telah terinfeksi Ebola, di antaranya 17 meninggal dunia.

"Di DRC, lantaran kita memandang pandemi organisasi nan besar, kita tidak dapat memastikan apakah mereka terinfeksi di akomodasi kesehatan. Ini adalah nilai nan sangat mahal nan kudu dibayar oleh sistem perawatan kesehatan," tambahnya.

Belizaire mengatakan tim medis China telah tiba di ibu kota Kinshasa dan bakal menuju Bunia.

Di negara tetangga Uganda, satu-satunya negara lain nan terkena dampak, terdapat 19 kasus nan dikonfirmasi termasuk dua kematian, dan 10 pasien nan sembuh.

Uganda tidak melaporkan kasus baru selama 12 hari.

Sementara itu, badan migrasi PBB mengatakan telah melakukan lebih dari satu juta pemeriksaan kesehatan di perbatasan dan koridor perjalanan sebagai bagian dari langkah-langkah pengawasan nan bermaksud untuk mendeteksi kasus potensial.

30 Pengungsi Tewas

Mengutip Reuters, setidaknya 30 orang telah meninggal sejak awal Mei di salah satu kamp pengungsi sipil di timur laut Kongo, tingkat kematian nan menurut pejabat kamp belum pernah terjadi sebelumnya, dan, lantaran gejalanya, dapat mengindikasikan Ebola menyebar dengan sigap di sana.

Penyebab kematian tidak dapat dipastikan lantaran pasien alias kerabat mereka di kamp Kigonze di Bunia - pusat pandemi Ebola di Republik Demokratik Kongo - hingga Kamis menolak untuk diuji, baik nan tetap hidup maupun nan sudah meninggal, kata ahli bicara kamp dan organisasi support Caritas.

Namun, semuanya menunjukkan indikasi termasuk sakit kepala, demam, dan muntah, nan mengenai dengan Ebola, kata seorang ahli bicara kamp, seorang ayah nan berduka, tiga sumber bantuan, dan seorang pemimpin masyarakat sipil kepada Reuters.

"Orang-orang tidak pernah meninggal seperti ini sebelumnya," kata Juru bicara kamp, Desire Grodya Bapi.

Kematian di Kigonze, nan mempunyai lebih dari 15.000 penduduk, menimbulkan kekhawatiran bahwa Ebola mungkin beredar tanpa terdeteksi di antara lebih dari 5 juta pengungsi di Kongo timur, dengan penolakan terhadap pengetesan nan memperparah tantangan nan ditimbulkan oleh langkah-langkah sanitasi nan sangat terbatas.

Tolak Pemeriksaan Jenazah

Presiden kamp, Dz'djo Ndrutsi Etienne, menyebut sedikitnya 10 orang dimakamkan hanya dalam satu pekan terakhir. Sebelumnya, kamp tersebut biasanya hanya mencatat satu hingga tiga kematian setiap bulan.

Direktur organisasi support Katolik Caritas Justin Zanamuzi, nan membantu masyarakat Kigonze, mengatakan timnya pada hari Rabu memandang beberapa jenazah ditutupi kain, termasuk seorang wanita mengandung dan anak-anak.

Rekaman dari hari Kamis (18/6) nan dibagikan oleh pemimpin masyarakat sipil dan diverifikasi oleh Reuters menunjukkan tim kesehatan dengan busana pelindung (hazmat suit) mendisinfeksi lebih banyak jenazah dan menyiapkan peti meninggal mini di samping salib sementara para pelayat meratap.

"Tim kami mencoba membujuk orang-orang untuk menerima master memeriksa jenazah. Mereka menolak mentah-mentah," kata Zanamuzi.

Sementara itu Grodya mengatakan petugas kesehatan sekarang telah mengambil sampel dari lima korban dan sedang menunggu hasilnya. Kolera juga mempunyai indikasi seperti Ebola dan menyebar dengan sigap di organisasi miskin, meskipun condong tidak menular dari orang ke orang.

Warga kamp, Kato Lonu, 47 tahun, kehilangan dua anaknya, termasuk seorang bayi berumur 6 bulan.

"Ini adalah kondisi nan semestinya tidak dialami oleh manusia mana pun. Jika Anda memandang sekeliling, orang-orang meninggal satu demi satu," katanya.

Sanitasi Buruk Memperparah Risiko

Kondisi kamp nan padat dan minim akomodasi sanitasi turut memperbesar akibat penyebaran penyakit. Banyak family tinggal berdempetan dalam tenda-tenda plastik dengan jarak sangat dekat.

Toilet umum nan tersedia tidak mencukupi dan sering meluap, sehingga penunggu terpaksa membersihkannya sendiri tanpa perlindungan memadai.

Sejumlah organisasi kemanusiaan menyebut berkurangnya pendanaan untuk program air bersih, sanitasi, dan kebersihan dalam beberapa tahun terakhir telah membikin organisasi pengungsi semakin rentan terhadap pandemi penyakit menular, termasuk Ebola.

Data nan dikumpulkan oleh PBB menunjukkan bahwa pendanaan untuk toilet dan tempat cuci tangan di Kongo berkurang lebih dari setengahnya antara tahun 2024 dan 2025, menjadi sekitar $38 juta, dan permohonan biaya sebesar $80 juta tahun ini baru didanai 21%.

Kongo mempunyai ratusan kamp untuk penduduk sipil nan melarikan diri dari perang, beberapa di antaranya menampung 100.000 orang. Kematian akibat Ebola telah tercatat di kamp lain di provinsi Ituri nan sama, nan mempunyai lebih dari 90% dari nyaris 900 kasus nan dikonfirmasi.

Di Kigonze, family besar berbagi tenda plastik nan sama dengan jarak kurang dari satu meter dan anak-anak berkeliaran di lorong-lorong tanahnya tanpa dasar kaki.

Terdapat toilet bercap USAID ialah badan support internasional Washington nan dibubarkan oleh Trump dan sebuah sumber support mengatakan bahwa badan tersebut membantu mendanai pembangunannya.

"Toilet-toilet itu sigap sekali penuh, dan orang-orang kudu mengosongkannya sendiri, dengan tangan kosong," kata Grodya.

Bantuan AS Untuk Melawan Ebola

Washington telah menjadi pendukung utama jasa WASH di Kongo, dan menyediakan lebih dari US$ 60 juta untuk jasa WASH pada tahun 2024 untuk mengurangi penyebaran penyakit, sebuah ringkasan nan dibagikan oleh mantan pejabat USAID menunjukkan.

Pemerintahan Trump memihak pemotongan tersebut, dengan mengatakan bahwa mereka mau konsentrasi pada "bantuan kemanusiaan penyelamat jiwa nan sangat diprioritaskan". Washington telah berkomitmen lebih dari US$ 375 juta dalam pendanaan langsung untuk Ebola.

Hingga saat, belum ada respon langsung dari Departemen Luar Negeri AS.

Reuters tidak dapat memastikan berapa banyak, jika ada, nan sekarang diberikan Washington kepada Kigonze.

Namun empat golongan support - Mercy Corps, Danish Refugee Council, CARE International, dan Oxfam - mengatakan proyek WASH nan didanai AS untuk pengungsi di tiga provinsi nan terkena akibat Ebola telah dikurangi alias dihentikan sejak pemotongan tahun lalu.

Mercy Corps membangun 82 keran air dan lebih dari 400 toilet umum nan melayani lebih dari 125.000 pengungsi pada tahun 2024. Tahun ini, pemotongan biaya berfaedah bahwa kurang dari 19.000 orang dilayani oleh enam keran air dan tidak ada toilet umum, kata golongan support tersebut.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News