Presiden AS Donald Trump(dok.White House)
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump disebut-sebut mulai melonggarkan sikapnya mengenai program nuklir Iran di tengah proses perdamaian nan sedang dirintis kedua negara. Trump menyatakan Iran dapat melakukan pengayaan uranium pada tingkat rendah.
Pernyataan itu berbeda dari tuntutan sebelumnya nan menghendaki penghentian total. Kepada New York Times, Trump mengatakan Iran hanya boleh mengolah uranium bukan untuk kepentingan militer.
Selama tiga bulan perundingan nan dipimpin utusan unik Presiden AS Steve Witkoff dan menantu Donald Trump, Jared Kushner, Iran tetap bersikeras tidak bakal melepaskan haknya untuk melakukan pengayaan uranium sebagaimana dijamin dalam perjanjian internasional. Trump mengungkapkan hingga sekarang kedua pihak tetap membahas kemungkinan Iran menghentikan aktivitas pengayaan uranium untuk jangka waktu tertentu.
Awalnya, Washington mendorong penangguhan selama 20 tahun namun Trump memberi sinyal dapat menerima masa jarak nan lebih pendek sekitar 15 tahun. Meski demikian, Trump menegaskan tidak mau merundingkan perincian kesepakatan tersebut melalui media.
Presiden AS itu juga menyatakan Iran nantinya hanya bakal diizinkan melakukan pengayaan uranium pada tingkat rendah nan menurutnya tidak dapat dimanfaatkan untuk militer. “Mereka tidak boleh melampaui pemisah tertentu,” kata Trump.
Meski begitu, Trump tidak memberikan nomor spesifik. Sementara itu, ketentuan dalam kesepakatan nuklir era Presiden Barack Obama membatasi pengayaan uranium hingga 3,67%. Level tersebut dapat digunakan untuk pembangkit listrik namun tidak cukup untuk senjata nuklir.
Trump hanya menegaskan kesepakatan baru bakal memastikan Iran hanya dapat melakukan pengayaan untuk tujuan nonmiliter selamanya. Meski demikian, menurut laporan instansi buletin Tasnim, rumor nuklir dilaporkan belum masuk ke dalam nota kesepahaman (MoU). Adapun rancangannya dalam finalisasi. Dokumen tersebut lebih berfokus pada penghentian bentrok bersenjata dan pembukaan jalan menuju perundingan lanjutan.
Perkembangan diplomasi terus bergerak. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) mengonfirmasi MoU nan dicapai melalui mediasi Pakistan dan Qatar bakal mengakhiri operasi militer di seluruh front konflik, termasuk di Libanon.
Dalam pernyataannya, SNSC menyebut naskah nota kesepahaman tengah dirampungkan dan dijadwalkan ditandatangani secara resmi pada 19 Juni di Swiss. Iran juga menegaskan pembicaraan menuju kesepakatan final belum bakal dimulai sebelum pihak musuh melaksanakan seluruh komitmen nan tercantum dalam MoU tersebut.
Langkah itu menunjukkan Teheran tetap berhati-hati terhadap Washington. Pengalaman keluarnya Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir terdahulu membikin Iran menuntut agunan konkret sebelum melangkah ke tahap berikutnya.
Meski jalan menuju kesepakatan permanen tetap butuh proses, sinyal pelunakan dari Trump dan tercapainya nota kesepahaman menjadi perkembangan krusial dalam upaya meredakan ketegangan nan selama berbulan-bulan mengguncang area Timur Tengah. (Dhk/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·