Trump Kuras Cadangan Minyak Darurat AS Lampaui Rekor Biden

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Trump Kuras Cadangan Minyak Darurat AS Lampaui Rekor Biden Ilustrasi.(Magnific)

DI tengah meningkatnya frustrasi pemilih terhadap lonjakan nilai bahan bakar, Presiden Donald Trump sekarang mengambil langkah drastis dengan menguras cadangan minyak darurat Amerika Serikat (AS) pada tingkat nan lebih sigap dibandingkan pendahulunya, Joe Biden. Langkah ini menjadi ironi politik mengingat Trump sebelumnya sempat mengecam keras kebijakan serupa saat kampanye 2022.

Data terbaru menunjukkan bahwa pelepasan minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) di bawah pemerintahan Trump tidak hanya melampaui rekor sebelumnya, tetapi juga membikin stok minyak mentah nasional mendekati level terendah sejak awal 1980-an. Padahal, pada periode tersebut, ekonomi AS jauh lebih mini dan mengonsumsi daya nan lebih sedikit dibandingkan saat ini.

Dampak Perang Iran dan Penutupan Selat Hormuz

Langkah darurat nan diambil musim semi ini menggarisbawahi skala krisis minyak nan dipicu oleh perang dengan Iran. Penutupan efektif Selat Hormuz sejak akhir Februari--jalur pengedaran daya paling kritis di dunia--menghambat aliran lebih dari 1,2 miliar barel minyak mentah menurut info S&P Global Energy.

Untuk menutupi celah pasokan tersebut, SPR merilis rekor 9,9 juta barel (sekitar 2,6%) hanya dalam pekan nan berhujung pada 15 Mei. Sejak bentrok dengan Iran pecah, jumlah minyak di SPR merosot 10% menjadi 374 juta barel, level terendah sejak Juli 2024 berasas info US Energy Information Administration (EIA).

Analisis Ahli: "Ini bukan seperti toples kue. Barel-barel itu kudu dikembalikan pada suatu titik dan proses pengisian kembali tersebut bakal memicu permintaan serta nilai nan tetap tinggi di masa depan," ujar Matt Smith, analis minyak utama di firma intelijen daya Kpler.

AS sebagai Pemasok Terakhir Dunia

Menariknya, minyak darurat ini tidak hanya dialokasikan untuk kilang domestik AS. Estimasi Kpler menunjukkan sekitar separuh dari minyak mentah nan dirilis pada April dan Mei diekspor ke luar negeri. Negara-negara di Asia dan Eropa, nan terpukul keras oleh penutupan Selat Hormuz, sekarang berjuntai pada minyak mentah AS sebagai pengganti.

Helima Croft, kepala strategi komoditas dunia di RBC Capital Markets, memperingatkan bahwa krisis ini mungkin bakal berjalan lama. "Bahkan jika kesepakatan tenteram tercapai besok, butuh waktu sekitar enam minggu untuk membuka kembali halangan di selat tersebut. Eropa bisa saja menghadapi kebijakan penjatahan daya (rationing)," ungkapnya.

Stok Komersial di Ambang Batas Operasional

Selain persediaan darurat, stok minyak komersial AS di Cushing, Oklahoma--titik penentuan nilai perjanjian berjangka West Texas Intermediate (WTI)--juga menyusut tajam. Inventaris di Cushing turun dari 33 juta barel menjadi sekitar 24,5 juta barel dalam tujuh minggu terakhir.

Angka ini mendekati level rendah operasional sebesar 20 juta barel. "Anda tidak bisa mengurasnya hingga nol lantaran ada endapan di dasar tangki. Diperlukan volume tertentu agar akomodasi tetap bisa beroperasi," tambah Smith.

Meskipun ada tekanan untuk membatasi alias melarang ekspor guna menekan nilai domestik, Gedung Putih menegaskan bahwa opsi tersebut belum menjadi pertimbangan saat ini. Para analis memperingatkan bahwa pembatasan ekspor justru berisiko mengacaukan stabilitas sistem daya dunia dan merusak produsen serta kilang minyak di dalam negeri. (CNN/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia