Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Ekuador resmi mengumumkan pengenaan tarif impor sebesar 100% terhadap seluruh produk dari Kolombia nan bakal mulai bertindak pada Mei 2026 mendatang. Keputusan drastis ini diumumkan pada Kamis waktu setempat sebagai respons langsung atas perselisihan diplomatik nan melibatkan pemimpin kedua negara Amerika Selatan tersebut.
Langkah ini diambil setelah Quito memanggil pulang duta besarnya dari Bogota sebagai corak protes terhadap pernyataan Presiden Kolombia Gustavo Petro. Petro memicu kemarahan pemerintah Ekuador setelah menyebut mantan Wakil Presiden Ekuador nan sedang dipenjara sebagai seorang tahanan politik.
Sosok nan dimaksud oleh Petro adalah Jorge Glas, nan menjabat sebagai wakil presiden di bawah pemimpin sosialis Rafael Correa serta penerusnya, Lenin Moreno. Glas sendiri telah dijatuhi balasan 13 tahun penjara pada tahun lampau lantaran kasus korupsi, nan merupakan vonis keempatnya sejak tahun 2017.
Pernyataan Petro tersebut menyulut kemarahan pemerintahan Presiden Daniel Noboa nan bergolongan kanan dan merupakan sekutu dekat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Noboa menganggap pernyataan Petro sebagai kombinasi tangan terhadap sistem peradilan Ekuador.
Petro langsung bereaksi keras terhadap ancaman tarif 100% tersebut dan menyebut kebijakan itu sebagai sebuah monsteritas. Ia apalagi menakut-nakuti bakal membawa Kolombia keluar dari Komunitas Negara-Negara Andes, sebuah blok perdagangan nan juga beranggotakan Bolivia, Ekuador, dan Peru.
"Ini betul-betul sebuah monsteritas, namun ini menandakan akhir dari golongan tersebut, nan di dalamnya kita sebenarnya sudah tidak berperan-serta lagi," tegas pemimpin sayap kiri tersebut melalui akun resminya di media sosial X, dikutip AFP, Jumat (10/4/2026).
Sebelumnya, Noboa telah memulai perselisihan jual beli dengan Kolombia sejak Januari lampau lantaran menilai Bogota tidak kooperatif dalam memerangi perdagangan narkoba dan pertambangan terlarangan di perbatasan. Dari tarif awal sebesar 30%, Noboa kemudian meningkatkan tarif untuk produk Kolombia menjadi 50%.
Kolombia membalas langkah tersebut dengan menerapkan tarif 50% dan menghentikan penjualan listrik ke Ekuador. Hal ini memperparah kondisi Ekuador nan tengah mengalami krisis daya kronis.
Hingga buletin ini diturunkan, beragam upaya negosiasi antara kedua negara tersebut terus menemui jalan buntu tanpa ada kesepakatan nan tercapai. Pengenaan tarif 100% ini diprediksi bakal memutus total hubungan perdagangan antara dua negara bertetangga tersebut.
Sanksi tarif kerap dipakai Trump untuk menghukum negara-negara nan mempunyai neraca perdagangan positif dengan AS. Ini juga jadi senjata Trump menekan banyak negara untuk bekerja sama.
(tps/sef)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·