Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai membangun kembali kebijakan tarif impor dengan pendekatan baru setelah Mahkamah Agung AS memutuskan tarif dunia nan sebelumnya diterapkan tidak sah secara hukum.
Pemerintahan Trump sekarang menggunakan penyelidikan berasas Section 301 Trade Act 1974 untuk mengenakan tarif kepada sejumlah negara nan dinilai melakukan praktik perdagangan tidak adil. Investigasi tersebut terutama mengenai dugaan penggunaan tenaga kerja paksa dan kelebihan kapabilitas industri.
Dikutip dari Bloomberg, Senin (22/6), langkah ini membikin sejumlah negara berpotensi memperoleh keuntungan, sementara negara lain justru menghadapi beban tarif nan lebih tinggi dibanding sebelumnya.
Filipina Jadi Salah Satu Pihak nan Diuntungkan
Filipina menjadi salah satu negara nan diperkirakan memperoleh untung dari kebijakan baru tersebut. Jika pada April 2025 negara itu dikenai tarif 19%, tarifnya sekarang diperkirakan turun menjadi 12,5%.
Penurunan tarif tersebut berpotensi meningkatkan daya saing produk Filipina di pasar AS. Impor peralatan AS dari Filipina pada empat bulan pertama tahun ini mencapai US$ 7,7 miliar alias melonjak 51% dibanding periode nan sama tahun lalu.
Selain Filipina, Afrika Selatan juga diperkirakan menikmati penurunan tarif dari sebelumnya 30% menjadi 12,5%. Sejumlah negara dengan volume perdagangan lebih mini seperti Pakistan, Myanmar, Laos, dan Lesotho juga berpotensi memperoleh tarif nan lebih rendah.
Singapura Berisiko Dirugikan
Di sisi lain, Singapura diperkirakan menjadi salah satu negara nan terdampak negatif. Negara tersebut sebelumnya hanya dikenai tarif umum sebesar 10%, namun sekarang menghadapi potensi tarif tambahan dari investigasi tenaga kerja paksa dan kelebihan kapabilitas industri.
Kepala Kebijakan Perdagangan Hinrich Foundation, Deborah Elms, mengatakan masyarakat Singapura menyadari bahwa kebijakan baru tersebut dapat memperburuk posisi mereka.
"Mereka sebelumnya berada pada posisi nan nyaman dengan tarif 10%. Namun sekarang, ada akibat Singapura terdorong ke posisi nan lebih buruk," kata Deborah Elms.
Singapura merupakan salah satu pusat transshipment terbesar di dunia, sehingga kenaikan tarif berpotensi mempersulit arus perdagangan dan meningkatkan biaya bagi importir Amerika Serikat.
Nasib China dan Uni Eropa Masih Belum Jelas
Sementara itu, akibat bagi China, Uni Eropa, Kanada, dan Meksiko tetap belum dapat dipastikan. China saat ini berada pada posisi nan lebih baik dibanding awal masa kedudukan kedua Trump. Tarif efektif nan dikenakan terhadap produk China saat ini sekitar 21%, jauh di bawah ancaman tarif 60% nan pernah dijanjikan Trump saat kampanye pemilu 2024.
Meski demikian, AS dan China dijadwalkan kembali melakukan pembahasan mengenai gencatan perang tarif pada musim gugur tahun ini.
Adapun Uni Eropa tetap berada di bawah tekanan untuk segera meratifikasi kesepakatan jual beli dengan AS. Trump menakut-nakuti bakal meningkatkan tarif mobil Eropa menjadi 25% dari sebelumnya 15% andaikan kesepakatan tersebut tidak rampung sesuai tenggat waktu nan ditetapkan.
Menteri Perdagangan dan Industri India Piyush Goyal juga menegaskan negaranya menginginkan tarif nan lebih rendah dibanding negara pesaing.
"Isu nan saat ini tetap dibahas adalah gimana tarif nan dikenakan kepada India bisa lebih rendah dibanding negara-negara pesaing," ujar Piyush Goyal.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·