Trump 'Contra Mundum'

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato nan disiarkan televisi mengenai bentrok Timur Tengah dari Cross Hall, White House (1/4/2026). Foto: Alex Brandon / POOL/AFP

Deklinasi kekuatan Amerika Serikat bukan pembahasan nan baru sama sekali. Kemunduran supremasi kekuatan AS sudah diperdebatkan, apalagi sejak Ronald Reagan menghuni Gedung Putih. Namun, setelah menjadi pilar penopang tatanan dunia selama delapan dekade, susah membayangkan AS bisa menjadi entitas ‘pengganggu’ nan memicu resistensi global.

Donald Trump sukses menghadirkan situasi itu. Alih-alih dipandang sebagai ‘negara nan sangat diperlukan’ sebagaimana dikatakan oleh Madeleine Albright, AS justru menghimpun banyak antipati, apalagi dari penguasa Takhta Suci. Trump membawa AS untuk melawan dunia. Trump Contra Mundum! — dalam konteks nan negatif.

Trump dan Dunia

Dalam wawancara dengan New York Times pada Januari lalu, Trump mengatakan bahwa dia tidak memerlukan norma internasional, dan menegaskan bahwa hanya moralitasnya lah nan membatasi kekuasaannya.

Sungguh ironis bahwa itu disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat. Manusia perlu menyaksikan kengerian dua perang bumi untuk mengakui pentingnya norma internasional. Bahkan jika ditarik lebih jauh, buahpikiran Hugo Grotius tentang norma internasional lahir ketika berkecamuknya Perang Tiga Puluh Tahun nan mengerikan di Eropa Abad ke-17.

Cara Trump memandang bumi adalah campuran dari arogansi, kegoblokan nan tiada obatnya, hawkisme, dan ilusi bakal supremasi. Tatanan dan ketertiban internasional tak mendapat tempat dalam kamus kebijakan Trump. Ancaman dan ancaman melalui media sosial adalah rumusan kebijakannya. Itu semua dia gunakan untuk ‘melawan dunia’.

Dimulai dengan ambisinya untuk mengakuisisi Greenland. Atas dalih kepentingan nasional AS, dia menakut-nakuti untuk mempunyai Greenland secara paksa dan tentu saja ilegal. Belum lagi hubungan dengan Kanada sebagai tetangga kontinental juga memburuk, lantaran kesombongan Trump nan sesumbar bakal menjadikan negara itu sebagai negara bagian ke-51. Trump apalagi menyebut Justin Trudeau dan suksesornya, Mark Carney, sebagai ‘governor’.

Hubungan aliansi dengan Eropa Barat juga tidak kalah mengkhawatirkan. Dimulai sejak pidato Wakil Presiden JD Vance di Munich Security Conference (MSC) pada Februari tahun lalu, nan dengan berani mengkritik negara-negara Eropa, terutama menyangkut kerakyatan dan kebijakan imigrasi. Dilanjutkan dengan kebijakan Trump tentang tarif perdagangan hingga beberapa kali melontarkan ancaman untuk meninggalkan NATO, membikin AS perlahan menjauh — atau dijauhi — oleh sekutunya di Eropa Barat.

Wakil Presiden AS JD Vance melambaikan tangan saat naik ke pesawat Air Force Two setelah menghadiri pembicaraan tentang Iran di Islamabad, Pakistan, Minggu (12/4/2026). Foto: Jacquelyn MARTIN/POOL/AFP

Di forum Majelis Umum PBB pada September 2025, Trump juga mengkritik PBB dengan mempertanyakan efektivitas dan relevansinya. Kemudian dia menginisiasi Board of Peace (BoP) nan dalihnya adalah untuk menghadirkan perdamaian, khususnya di Palestina dan di dunia. Dalih nan tidak hanya mengundang banyak skeptisisme, tetapi juga kontradiktif dengan apa nan dilakukannya kemudian.

Kurang dari satu bulan sebelum penandatanganan Piagam BOP di Davos, pada awal Januari, Trump menangkap Presiden Nicolas Maduro dari Venezuela. Presiden negara berdaulat itu ditangkap dan dibawa ke AS—sebuah pagelaran terbuka dari pencemaran terhadap norma internasional dan kedaulatan negara.

Terbaru adalah serangannya ke Iran. Melalui koordinasi dengan Israel, AS menyerang Teheran pada 28 Februari lampau dan menewaskan banyak pemimpin Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Implikasinya terasa ke seluruh penjuru dunia, terutama sejak ditutupnya Selat Hormuz. Perang berjalan lebih dari sebulan, hingga gencatan senjata sementara dan upaya perundingan di Islamabad nan berbuah kegagalan.

Hawkisme Trump mendapat kritikan, apalagi dari penguasa Takhta Suci Vatikan, Paus Leo XIV nan senantiasa menyerukan perdamaian. Trump justru membalasnya dengan lontaran kritik, apalagi condong melontarkan hinaan nan meremehkan kepada Paus. Trump sudah melampaui batas-batas wajar dalam sopan santun diplomasi dan hubungan internasional. Ia sedang melawan dunia. Trump Contra Mundum.

Amerika Kehilangan Dunia?

Istilah ‘contra mundum' lazimnya dilekatkan dengan keteguhan dalam memegang prinsip luhur di tengah kebimbangan, distraksi, dan kesemrawutan keadaan. Istilah ini dilekatkan pada Santo Athanasius di Abad ke-4 nan gigih dan kukuh pendirian memihak aliran Kristus. Lahirlah istilah Athanasius Contra Mundum.

Namun dalam konteks ini, Trump melakukan hal-hal nan sama sekali kontradiktif. Ia memang melawan dunia, tapi bukan lantaran idealismenya nan luhur, melainkan lantaran perilakunya nan penuh arogansi dan kebencian. Pikirannya dipenuhi ilusi bakal supremasi nan tak pernah datang dalam dekapannya. Superioritas tanpa tanding itu hanya datang di bayang-bayangnya.

Dampak dari kebijakan Contra Mundum Trump justru perlahan bakal membawa Amerika pada suatu keadaan nan tidak hanya menyulitkannya, tetapi juga bisa mengasingkan, apalagi mengisolasinya.

Presiden AS Donald Trump menghadiri pertemuan perdana "Dewan Perdamaian" di Institut Perdamaian AS di Washington, DC, pada 19 Februari 2026. Foto: Saul Loeb/AFP

Pertama, Trump memutus tali erat aliansi. Trump nan selalu terobsesi terhadap relasi kekuasaan AS dan menuntut sikap submisif dari negara lain, termasuk aliansinya, hanya bakal membikin aliansi itu pudar dan apalagi hancur sama sekali.

Kepercayaan nan mengikat aliansi perlahan terkikis dan raib, seiring dengan pameran arogansi AS dan beberapa ancaman kosong bahwa AS bakal meninggalkan aliansi. Ini bakal berakibat pada keadaan nan sesuai dengan titel tulisan Margaret MacMillan di Foreign Affairs pada Juli 2025, “Make America Alone Again”. Amerika akan — kembali — sendirian.

Kedua, akhir Kekaisaran Amerika adalah kepastian nan tak terelakkan. Era kekuasaan AS nan berjalan kurang lebih delapan dekade, nan juga sering dinamakan Abad Amerika (the American Century), sedang berderap dalam langkah menuju akhir.

Dependensi terhadap AS perlahan bakal berkurang, kepercayaan bakal sirna, pemujaan terhadap keagungan sejarah dan prinsip nan selama ini melekat dengan AS hanya bakal menjadi lelucon. Sebagaimana ditulis oleh ahli filsafat Inggris John Gray di The New Statesman, beragam dinamika terbaru menjadi pertanda dari “The End of America Empire.”

Ketiga, peta geopolitik nan berubah. Momentum kedigdayaan AS nan perlahan memudar membikin rivalnya di ujung Timur bagian bumi, ialah Tiongkok, semakin memancarkan pengaruhnya. Bahkan, para pemimpin Eropa mulai melakukan pendekatan nan lebih intens dengan Beijing.

Ini bisa menjadikan Tiongkok semakin mempunyai ruang nan lebih besar dalam mengepakkan sayap pengaruhnya di dunia. Di saat kepercayaan kepada Washington DC tak lagi hadir, tidak menutup kemungkinan jika kita bakal segera memasuki era Pax Sinica, era di mana Tiongkok bakal menguasai dunia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan