Jakarta -
Harga minyak bumi meroket usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menakut-nakuti menyerang Iran mengenai belum dibukanya Selat Hormuz.
Ancaman Trump tersebut ialah Iran bakal "dihancurkan dalam satu malam" jika tidak segera membuka Selat Hormuz.
Dikutip dari CNBC, Selasa (7/4/2026), perjanjian berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik lebih dari 2,9% ke level US$ 115,63 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni juga menguat sekitar 1,5% ke posisi US$ 111,43 per barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan nilai minyak ini terjadi lantaran gangguan pasokan dunia setelah jalur pelayaran di Selat Hormuz nan menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman sejak perang pecah pada 28 Februari.
Adapun pada Senin kemarin, Trump mengulangi ancamannya AS bakal menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz sebelum pukul 8 malam waktu setempat pada hari Selasa.
Trump juga menyebut Iran sedang bermusyawarah dengan sungguh-sungguh dengan AS.
"Mereka punya waktu sampai besok," Trump.
"Sekarang kita bakal lihat apa nan terjadi. Saya bisa memberi tahu Anda, mereka sedang bernegosiasi, kami pikir dengan itikad baik, kita bakal segera mengetahuinya. Kami mendapatkan support dari beberapa negara luar biasa nan mau ini diakhiri, lantaran ini juga memengaruhi mereka," sambung Trump.
Berdasarkan laporan Reuters, AS dan Iran sedang membahas upaya mengakhiri perang nan telah berjalan selama 5 minggu.
Namun, Iran menolak usulan gencatan senjata dari AS. Usulan Iran adalah penghentian permanen konflik, jalur kondusif di Selat Hormuz, hingga pencabutan sanksi.
Trump menanggapi usulan tersebut dengan mengatakan bahwa usualan itu cukup signifikan dan dia pun sebenarnya belum mengambil langkah apa-apa.
"Mereka mengusulkan usulan nan signifikan. Belum cukup baik, tetapi mereka telah mengambil langkah nan sangat signifikan. Kita bakal lihat apa nan terjadi," kata Trump.
Di sisi lain, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai menunjukkan tanda pemulihan. Tercatat delapan kapal tanker melintas pada awal pekan ini, naik dari rata-rata kurang dari dua kapal per hari pada Maret.
Namun, nomor tersebut tetap jauh di bawah kondisi normal, di mana sekitar 20 juta barel minyak per hari biasanya melewati jalur tersebut pada tahun 2025.
Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni mengatakan lantaran hasil dari perundingan perdamaian tetap belum jelas membikin penanammodal tetap waspada dan terjebak di antara memperkirakan berakhirnya bentrok dalam waktu dekat alias peningkatan eskalasi lebih lanjut.
"Tidak ada langkah untuk memprediksi hasilnya. Kita tidak bisa mengesampingkan kemungkinan Iran menyerah. Atau, Trump mungkin menunda tenggat waktu lagi, dengan menjelaskan bahwa negosiasi mengalami kemajuan. Atau perang bakal meningkat," kata Yardeni.
Simak Video 'Iran soal Ancaman Trump: Arogansi dari Presiden Gangguan Mental':
(hrp/hns)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·