Jakarta -
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita buka-bukaan soal adanya tren perusahaan dunia nan sedang mengatur ulang upaya dengan langkah merelokasi pabriknya. Hal ini terjadi lantaran terpecahnya perdagangan internasional, disrupsi rantai pasok, hingga dinamika geopolitik.
Bagi sebagian negara, kondisi ini menimbulkan resiko. Namun kata Agus, kondisi saat ini merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk menjadi salah satu pedoman produksi manufaktur di dunia.
Namun dia mengingatkan kesempatan tersebut tidak bakal datang selamanya dan dengan sendirinya. Menurutnya, perusahaan dunia nan saat ini tengah memindahkan pedoman produksinya tidak hanya memandang Indonesia sebagai tujuan investasi. Dalam perihal ini, perusahaan dunia tersebut juga tengah memandang Vietnam, Thailand, Malaysia, dan India, sebagai suatu tujuan untuk merelokasi pabriknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perusahaan nan hari ini sedang memindahkan produksinya dari satu negara ke negara lain tidak sedang menunggu Indonesia. Mereka nan tadi saya sampaikan sedang membandingkan kita Indonesia dengan Vietnam, sebut saja dengan Thailand, sebut saja dengan Malaysia, sebut saja dengan India, sebut saja dengan Meksiko," ujar Agus Gumiwang dalam Business Forum dan Rakernas XXV HKI di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Karena itu, Agus menegaskan momentum relokasi pabrik perusahaan dunia ini kudu dimanfaatkan secepat mungkin. Jika Indonesia tidak bisa meningkatkan daya saing dan memberikan kepastian investasi, kesempatan tersebut berpotensi direbut negara pesaing.
"Tadi saya sampaikan, nan pertama misalnya saya, jendela ini bakal tertutup, dia tidak bakal terbuka selama-lamanya. Dan dia bakal lebih sigap tertutup bagi negara-negara nan belum siap," ujar Agus.
Dalam konteks area industri, Agus Gumiwang mengatakan, sekarang nan dijual di area industri bukan hanya soal lahan, melainkan soal waktu. Artinya seberapa sigap komitmen investasi dapat direalisasikan menjadi aktivitas produksi.
"Yang mereka beli bukan lagi berapa lahan meter perseginya, nan mereka beli adalah waktu. Waktu artinya dalam berapa sigap sebuah komitmen investasi mudah berubah menjadi produksi," beber Agus Gumiwang.
"Dan waktu berfaedah seberapa mini ketidakpastian nan mereka kudu tanggung sepanjang perjalanan tersebut. Di situlah terletak nilai tambah sesungguhnya bagi kita, bagi kawasan-kawasan industri," ujarnya menutup.
(hrp/hal)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·