Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKP) Sakti Wahyu Trenggono memastikan program Kampung Nelayan Merah Putih tetap dibangun hingga menjangkau pulau-pulau mini dan wilayah terpencil. Bahkan, sejumlah letak nan berada di pulau terluar dengan akses logistik nan sulit, sekarang tengah dalam proses pembangunan.
Trenggono mengatakan, salah satu contoh pembangunan tersebut berada di Pulau Enggano, Bengkulu, nan masuk dalam sasaran 100 Kampung Nelayan Merah Putih tahap pertama.
"(Pulau terkecil dan teluar) dibangun (Kampung Nelayan Merah Putih). Ini contoh saya tunjukin saja. Nanti Anda sekali waktu bisa cek. Ini, pulau-pulau kayak gini nih (pulau kecil). Ini ada penduduknya semua ini, nelayan semua. Ini kita bangun. Akses untuk menuju ke sini kan duh separuh meninggal untuk membawa barang-barang untuk membangunnya," kata Trenggono saat ditemui di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Ia menegaskan, pembangunan tetap dilakukan meskipun berada di wilayah nan aksesnya terbatas.
"Terus kayak di sini ya. Contoh ini.. Ini kan di Sumatra. Nah, ini contoh nih Pulau Enggano. Ini kita lagi membangun di sini," ujarnya.
Saat ditanya apakah Pulau Enggano masuk dalam sasaran penyelesaian 100 kampung nelayan pertama nan ditargetkan rampung pada akhir Juni 2026, Trenggono membenarkannya.
"Masuk. Masuk, sekarang lagi pembangunan," ucap dia.
Trenggono menjelaskan, penentuan letak pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih tidak didasarkan pada luas pulau, melainkan jumlah masyarakat dan aktivitas perikanan nan ada di wilayah tersebut.
"Kita ambil dari jumlah penduduknya. Jumlah penduduknya dan jumlah kapal," jelasnya.
Ia mengatakan, syarat minimal sebuah wilayah dapat masuk program tersebut adalah mempunyai sekitar 50 kapal nelayan dengan ukuran di bawah 10 gross ton (GT). Sementara jumlah penduduknya bervariasi, ialah di antara 200-400 masyarakat sekalipun, pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih bisa dilakukan.
"Minimal ada 50 kapal. (Penduduknya minimal) ada nan 200, ada nan 400," kata Trenggono.
Menurut Trenggono, wilayah-wilayah terpencil nan dimaksud kebanyakan merupakan pulau-pulau mini berpenghuni nan selama ini menggantungkan hidup dari sektor perikanan.
"Pulau, kayak Pulau Enggano itu satu pulau. Pulau, aksesnya itu tetap susah. Mereka hidup di situ," ujarnya.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih tahap pertama nyaris selesai. Dari sasaran 100 lokasi, sebagian besar telah rampung dan sisanya ditargetkan selesai pada akhir bulan ini.
"Yang 100 pertama kan mau final. 35 titik lagi kira-kira selesai di bulan ini. Jadi 100. Terus, rencana ada 1.269 lagi (hingga akhir tahun), sekarang lagi proses," ujarnya.
Sehingga jika ditotal, sasaran pembangunan hingga akhir tahun mencapai 1.369 kampung nelayan.
"Akhir tahun. Sampai akhir tahun ini total nan sudah jadi kudu mencapai 1.369," kata dia.
Meski demikian, Trenggono mengakui pembangunan program tersebut menghadapi sejumlah tantangan, terutama lantaran banyak letak berada di wilayah terpencil dan mempunyai kebutuhan nan berbeda-beda.
"Di pembangunannya itu lantaran daerahnya remote-remote ya. Terus kemudian nan kedua, kan itu tematik. Jadi ada nan misalnya, 'oh di sini nan dibutuhkan tuh es, SPBN, sama bengkel kapal' misalnya gitu. Terus ada juga nan dia butuh juga kudu ada logistiknya gitu. Tapi setidaknya nyaris semua," jelasnya.
Terkait support operasional nelayan, Trenggono memastikan skema subsidi bahan bakar minyak (BBM) bagi nelayan di Kampung Nelayan Merah Putih tetap tetap bertindak dan belum mengalami perubahan.
"Subsidinya tetap sama seperti nan lama. Tapi unik nan kampung nelayan ya, Rp7.000 per liter," kata Trenggono.
Ia menegaskan nilai subsidi tersebut tetap bertindak hingga saat ini. "Masih, itu tetap belum ada perubahan," pungkasnya.
Rapat Kerja Komisi IV DPR RI berbareng Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKP) Sakti Wahyu Trenggono di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (11/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Rapat Kerja Komisi IV DPR RI berbareng Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKP) Sakti Wahyu Trenggono di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (11/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
(dce/dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·