Tren Wisata Indonesia 2026: Pergeseran ke Destinasi Non-Kota Besar

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
 Pergeseran ke Destinasi Non-Kota Besar Sejumlah turis asing bermain bola voli di pantai Tanjung Aan, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Desa Kuta, Praya, Lombok Tengah, NTB, Senin (25/5/2026).(ANTARA/Ahmad Subaidi)

PETA pariwisata Indonesia tengah mengalami transformasi signifikan. Wisatawan sekarang condong meninggalkan hiruk-pikuk kota besar demi mencari ketenangan, keelokan alam, dan pengalaman budaya nan lebih autentik di pelosok Nusantara. Fenomena ini terungkap dalam laporan terbaru Airbnb berjudul "Beyond the Beaten Track: Unlocking Tourism Growth Across Asia Pacific".

Pergeseran preferensi ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sinyal kuat tumbuhnya pariwisata inklusif. Data internal menunjukkan bahwa nyaris satu dari lima penginapan di Indonesia sekarang berlokasi di luar kota besar. Menariknya, lama menginap visitor di destinasi-destinasi ini meningkat lebih dari 15% sepanjang 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.

Lombok dan Nabire Jadi Primadona Baru

Lombok muncul sebagai salah satu destinasi dengan pertumbuhan tercepat di area Asia Pasifik, mencatatkan kenaikan periode menginap hingga 68%.

Sementara itu, wilayah timur Indonesia mulai menunjukkan taringnya dengan tercatatnya pemesanan pertama di Kabupaten Nabire, Papua, pada 2025. Hal ini menandakan bahwa pengedaran perjalanan mulai merata hingga ke wilayah nan sebelumnya jarang terjamah.

Berikut adalah ringkasan info pertumbuhan dan preferensi visitor berasas laporan tersebut:

Indikator Wisata Data / Statistik
Kenaikan lama menginap di Lombok (YoY) 68%
Persentase tamu mancanegara di luar kota besar 90%
Wisatawan nan mengunjungi destinasi non-kota besar (1 tahun terakhir) 92%
Peningkatan lama menginap nasional (2025) > 15%

Dampak Nyata bagi Ekonomi Lokal

Wisatawan modern sekarang lebih sadar bakal akibat sosial dari perjalanan mereka. Survei menunjukkan bahwa 95% visitor menganggap krusial untuk mengunjungi destinasi nan mendukung masyarakat setempat.

Kehadiran platform akomodasi pengganti membantu menjembatani kesenjangan prasarana di wilayah terpencil, memungkinkan penduduk lokal berperan-serta langsung dalam ekosistem pariwisata.

Amanpreet Bajaj, Country Head Airbnb untuk Asia Tenggara & India, menyatakan bahwa pergeseran ini membantu mendorong penyebaran faedah ekonomi secara lebih adil.

"Wisatawan beranjak ke destinasi nan menawarkan ritme lebih lambat dan hubungan personal. Ini membuka kesempatan ekonomi baru bagi tuan rumah dan pelaku upaya lokal di seluruh Indonesia," ujarnya.

Sentimen Wisatawan Indonesia Persentase
Pentingnya mendukung masyarakat lokal 95%
Tertarik ke luar kota besar jika ada akomodasi alternatif 85%
Rekomendasi tuan rumah pengaruhi pengeluaran belanja 100%

Dengan meningkatnya minat terhadap hidden gems alias permata tersembunyi di beragam daerah, masa depan pariwisata Indonesia diprediksi bakal lebih handal dan berkelanjutan. Pola perjalanan nan merata ini tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga menjadi motor penggerak kesejahteraan bagi organisasi nan selama ini belum tersentuh arus utama pariwisata. (Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia