Trauma Healing Polda Jateng untuk Anak Terdampak Gempa NTT yang Masih Ketakutan

Sedang Trending 11 menit yang lalu
Anak-anak korban terdampak gempa bermain saat sesi trauma healing di posko pengungsian, Manggarai Barat, NTT, Sabtu (22/8/2026). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

Polda Jawa Tengah memberikan pendampingan psikologis kepada anak-anak terdampak gempa NTT di Asrama SMK Yosepha, Manggarai Barat, Sabtu (22/8). Trauma healing dilakukan lantaran sejumlah anak tetap takut berada di dalam gedung setelah gempa akibat munculnya sejumlah gempa susulan.

Pendampingan dilakukan melalui aktivitas Psychological First Aid (PFA), bermain bersama, hingga sesi berbagi mengenai kondisi nan mereka rasakan setelah bencana.

“Sore ini melakukan Psychological First Aid untuk adik-adik nan tinggal di pondok SMK Yosefa. Jadi adik-adik ini ada trauma tinggal di dalam gedung, jadi untuk sementara mereka tinggal di tenda,” kata Ipda Nina, Bagpsikologi Biro SDM Polda Jawa Tengah saat ditemui di Manggarai Barat, Sabtu (22/8).

Nina mengatakan aktivitas tersebut juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan ketakutan dan kekhawatiran nan tetap dirasakan. Mereka diajak bermain agar suasana lebih rileks sekaligus membantu proses pemulihan psikologis.

“Kita sedikit memberikan tadi bermain bersama-sama begitu, dan mungkin ada sharing session dari apa nan mereka rasakan bisa disampaikan ke kita,” jelasnya

Selain bermain dan berbagi cerita, tim ilmu jiwa Polda Jateng juga mengajarkan teknik sederhana nan dapat dilakukan anak-anak ketika merasa cemas.

“Iya, jika kelak bakal kita ajarkan sedikit tapping alias pernapasan, itu bisa adik-adik praktekkan di kala kelak jika untuk kosong gitu di lapangan untuk mengurangi kekhawatiran nan mereka rasakan. Kalau mungkin itu efeknya tidak secara langsung hanya itu bisa mengurangi resah alias trauma nan mereka rasakan atas gempa nan kemarin, apalagi setelah terjadi gempa susulan,” jelasnya

Menurut Nina, ketakutan terhadap gedung tetap menjadi keluhan nan disampaikan anak-anak. Mereka memilih berada di luar lantaran tetap cemas merasakan getaran gempa ketika berada di dalam gedung.

“Kalau adik-adik tadi menyampaikan tetap takut jika berada di dalam gedung lantaran beberapa hari nan lampau memang tetap terasa getaran-getaran, jadi mereka memilih untuk memang tinggal di luar begitu. Jadi tetap ada rasa takut untuk tinggal di dalam gedung,” ujarnya

Anak-anak penunggu pondok tersebut sebelumnya tinggal di tenda sejak hari kedua setelah gempa. Dari sekitar 94 anak, sekarang sekitar 20 anak tetap berada di letak dan didampingi empat suster serta satu karyawan.

Sebagian anak lainnya telah dipulangkan atas permintaan orang tua. Kegiatan belajar mengajar di sekolah juga sementara dilakukan secara daring.

Kondisi gedung pondok tetap menjadi perhatian lantaran terdapat sejumlah keretakan, termasuk pada bagian kamar, serta genting nan mengalami kemiringan. Meski demikian, gedung tersebut tidak sampai roboh.

Pendampingan psikologis ini dilakukan untuk membantu anak-anak mengurangi kekhawatiran dan perlahan kembali beraktivitas setelah mengalami musibah gempa.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan