Transaksi Timah di JFX Tembus Rp4 Triliun Sepanjang Agustus

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Transaksi Timah di JFX Tembus Rp4 Triliun Sepanjang Agustus Direktur Utama JFX Yazid Kanca Surya(Istimewa)

AKTIVITAS perdagangan timah melalui Jakarta Futures Exchange (JFX) mencatatkan keahlian positif sepanjang Agustus 2026. Volume perdagangan timah ekspor melalui JFX mencapai 4.210 lot dengan nilai transaksi sekitar Rp4,06 triliun. Aktivitas tertinggi tercatat pada 23–29 Agustus dengan volume 1.405 lot senilai Rp1,34 triliun. 

Capaian tersebut melanjutkan perkembangan pasar bentuk timah nan telah dibangun melalui bursa sejak 2019. Dalam lima tahun pertama penyelenggaraannya, lebih dari 95% transaksi timah nasional telah tercatat melalui JFX. Perdagangan melalui bursa juga telah melibatkan lebih dari 60 pelaku upaya aktif, termasuk pembeli dari beragam negara. 

Direktur Utama JFX Yazid Kanca Surya menilai perkembangan pasar timah menunjukkan bahwa Indonesia telah mempunyai fondasi nan dapat dimanfaatkan dalam mempersiapkan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS). Pemerintah menargetkan BMKS mulai beraksi pada 1 Januari 2027. 

“Sepanjang 2025, sekitar 99% transaksi timah nasional sudah dilakukan melalui JFX. Artinya, untuk timah kita sudah mempunyai pasar nan berjalan, pelaku nan aktif, serta sistem perdagangan nan digunakan oleh industri. Fondasi seperti ini nan menurut kami dapat dimanfaatkan dan diperkuat untuk mempercepat kesiapan BMKS,” ujar Kanca. 

Pada pekan terakhir Agustus, aktivitas perdagangan timah meningkat di tengah koreksi harga. Volume transaksi pada 23–29 Agustus mencapai 1.405 lot, naik 65,29% dibandingkan 850 lot pada pekan sebelumnya. Nilai transaksi meningkat 62,76%, dari Rp824,35 miliar menjadi Rp1,34 triliun. Pada periode nan sama, nilai rata-rata transaksi timah di JFX terkoreksi 1,54%, sejalan dengan nilai rata-rata Tin Ingot di London Metal Exchange (LME) nan turun sekitar 1,20% dari US$55.891 menjadi US$55.223 per ton. 

Bagi JFX, aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa sejumlah kegunaan nan dibutuhkan dalam perdagangan komoditas strategis melalui bursa telah melangkah di Indonesia. Pada perdagangan timah, sistem perdagangan telah terhubung dengan proses kliring dan penyelesaian transaksi, pengawasan, serta pelaporan. Ekosistemnya juga telah mempertemukan produsen dan penjual Indonesia dengan pembeli domestik maupun internasional. 

Menurut Kanca, keberadaan prasarana dan ekosistem JFX nan sudah melangkah bisa dimanfaatkan oleh BMKS, kemudian dilakukan penyesuaian dengan karakter komoditas nan bakal diperdagangkan. 

“Dengan sasaran BMKS beraksi pada 2027, menurut kami nan terpenting adalah gimana kapabilitas nan sudah dimiliki Indonesia dapat langsung dimanfaatkan. Sistem, mekanisme, dan pelaku pasarnya sudah ada. Untuk timah apalagi sudah melangkah dalam skala nan sangat besar. Jadi JFX mempunyai pedoman nan kuat untuk bergerak lebih cepat,” kata Kanca. 

Pengalaman perdagangan timah juga memberikan gambaran mengenai peran bursa dalam membangun info pasar domestik. Transaksi nan berjalan melalui bursa menghasilkan rekam jejak harga, volume, serta aktivitas pelaku nan dapat menjadi pedoman dalam memperkuat proses pembentukan nilai di Indonesia. 

Hal tersebut menjadi relevan dengan salah satu tujuan pengembangan BMKS, ialah memperkuat posisi Indonesia dalam pembentukan nilai komoditas strategis. Sebagai produsen utama sejumlah komoditas dunia, Indonesia mempunyai kepentingan agar kondisi supply dan demand di dalam negeri semakin tercermin dalam proses pembentukan harga. 

“Untuk timah, proses itu sebenarnya sudah mulai berjalan. Harga JFX sudah menjadi salah satu aspek nan diperhatikan ketika pembeli melakukan transaksi timah Indonesia. Dengan pasar nan semakin dalam dan transaksi nan semakin kuat, pedoman kita untuk membangun nilai referensi dari Indonesia juga bakal semakin kuat,” ujar Kanca. 

Selain timah, aktivitas perdagangan komoditas multilateral di JFX tetap terjaga sepanjang Agustus. Pada periode 1–29 Agustus 2026, total volume transaksi multilateral tercatat sekitar 105.686 lot dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp22,09 triliun. 

Olein menjadi salah satu kontributor utama dengan volume transaksi mencapai 77.533 lot dan nilai transaksi sekitar Rp8,64 triliun sepanjang periode tersebut. Pada pekan terakhir Agustus, nilai rata-rata transaksi Olein di JFX meningkat 3,39% dibandingkan pekan sebelumnya, sejalan dengan kenaikan nilai referensi FPOL Bursa Malaysia Derivatives (BMD) sekitar 4,51%, dari US$1.175 menjadi US$1.228 per ton. 

Sementara itu, perdagangan emas digital on-exchange mengalami peningkatan aktivitas pada 23–29 Agustus. Volume transaksi meningkat 191,25% dibandingkan pekan sebelumnya, dari 0,80 menjadi 2,33, sedangkan nilai transaksi meningkat 195,14%, dari sekitar Rp2,02 juta menjadi Rp5,97 juta. 

Perbedaan pergerakan transaksi dan nilai pada masing-masing komoditas menunjukkan karakter pasar nan berbeda-beda. Menurut Kanca, pengalaman JFX mengembangkan perdagangan beragam komoditas dapat menjadi modal dalam menentukan sistem nan sesuai untuk setiap komoditas nan nantinya dikembangkan melalui BMKS. 

“Setiap komoditas punya karakter nan berbeda. Mekanisme nan sukses untuk satu komoditas belum tentu bisa diterapkan dengan langkah nan sama pada komoditas lainnya. Kita kudu memahami apa nan dibutuhkan penjual dan pembeli, kemudian membangun sistem nan sesuai dengan karakter pasar tersebut,” tutup Kanca. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia