Jakarta, CNBC Indonesia - Gencatan senjata Amerika Serikat (AS) dan Iran dimulai hari ini, Jumat (10/4/2026). Utusan Iran dan AS bersiap untuk mengadakan pembicaraan di Islamabad, Pakistan, guna mengakhiri perang Timur Tengah.
Namun, sumber resmi dan para mahir mengatakan China membantu membuka jalan bagi negosiasi. Ini bakal menjadi komponen krusial dalam mengamankan gencatan senjata permanen.
Perlu diketahui, Pakistan telah menerima pujian di panggung dunia atas upaya terakhirnya untuk mencapai gencatan senjata sementara antara pihak-pihak nan bertikai. Namun, para pejabat Pakistan mengatakan peran Beijing nan "lebih tenang" terbukti sama pentingnya.
Dikatakan gimana kesepakatan gencatan Selasa itu sebenarnya nyaris batal. Namun kehadiran China membikin kesepakatan tercapai di menit-menit terakhir nan tampaknya bakal kandas pada Selasa malam.
"Pada malam gencatan senjata, angan mulai pudar, tetapi China turun tangan dan meyakinkan Iran untuk menyetujui gencatan senjata sementara," kata seorang sumber pejabat senior Pakistan nan mengetahui negosiasi tersebut, dikutip AFP, Jumat (10/4/2026).
"Meskipun upaya kami sangat penting, kami kandas mencapai terobosan, nan akhirnya tercapai setelah Beijing membujuk Iran," ujar sumber tersebut, nan meminta anonimitas untuk berbincang secara terbuka tentang masalah diplomatik nan sensitif.
Hal itu menggemakan pernyataan Presiden Donald Trump, nan tak lama setelah mengumumkan gencatan senjata dua minggu di media sosial. Ia mengatakan kepada AFP bahwa China telah menjadi kunci untuk membawa Iran ke meja perundingan.
Pembicaraan gencatan senjata nan direncanakan telah membangkitkan angan bakal berakhirnya perang nan telah merenggut ribuan nyawa dan mengguncang ekonomi dunia ini. Perang sendiri terjadi sejak Israel dan AS melancarkan serangan pada 28 Februari dan Iran menanggapi dengan serangan di Teluk serta kota-kota Israel.
China Jadi Penjamin
Sementara itu, Pakistan sendiri -yang mempunyai ikatan budaya dan kepercayaan dengan Iran dan para pemimpinnya- bakal membentuk tim ahli. Ini untuk memfasilitasi kedua belah pihak.
"Pakistan telah membentuk tim mahir untuk memfasilitasi kedua pihak dalam negosiasi, mengenai navigasi, nuklir, dan hal-hal mengenai lainnya," kata sumber diplomatik kedua nan mengetahui masalah tersebut.
Namun, dikatakan bahwa China bakal menjadi penjamin. Hal ini diminta langsung Iran.
"China diminta untuk menjadi penjamin. Iran menginginkan penjamin," kata sumber tersebut.
Sebenarnya nama Rusia juga muncul. Namun perang dengan Ukraina tidak bakal diterima Barat, terutama Uni Eropa.
"Yang berfaedah China berada pada posisi terbaik," tambahnya.
"Saudara Seperkasa"
Sama seperti Pakistan, China mempunyai hubungan dekat dengan Teheran. Bahkan telah menjadi mitra jual beli terbesar Iran selama bertahun-tahun di bawah hukuman nan dipimpin AS.
China juga telah menginvestasikan miliaran dolar ke dalam proyek prasarana di Pakistan sebagai bagian dari inisiatif Sabuk dan Jalan Presiden Xi Jinping. Kedua pemerintah menyebut diri mereka "saudara seperkasa."
"Sebagai mitra dan tetangga dekat, Pakistan dan China telah berkoordinasi erat sejak hari pertama untuk mengakhiri permusuhan," kata mantan senator Pakistan dan kepala komite pertahanan dan luar negeri majelis tinggi, Mushahid Hussain Sayed.
"Peran China bakal tetap sangat diperlukan dalam mencapai kesepakatan perdamaian akhir sebagai penjamin utama, mengingat kebenaran bahwa Iran tidak mempercayai duet Trump alias Netanyahu," tambahnya merujuk pada perdana menteri (PM) Israel.
Masih merujuk laman nan sama, sebenarnya Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi telah melakukan 26 panggilan telepon dengan rekan-rekannya dari negara-negara mengenai sementara utusan Timur Tengah Beijing telah "bolak-balik" ke wilayah nan dilanda perang, kata ahli bicara kementerian luar negeri.
Para analis dan pejabat mengatakan prospek Tiongkok secara terbuka mengambil peran penjamin umum dalam beberapa minggu mendatang juga tidak pasti.
"Mereka mempunyai pertimbangan sendiri, mereka tidak mau terseret ke dalam bentrok ini secara terbuka," kata sumber kedua kepada AFP, sebagai isyarat terhadap peran kuat Beijing di kembali layar.
Perundingan menghadapi tantangan berat dalam menyelesaikan perbedaan nan sangat besar.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·