Tolak Tarik Pasukan dari Libanon, Israel Perlumit Perundingan Damai AS-Iran

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Tolak Tarik Pasukan dari Libanon, Israel Perlumit Perundingan Damai AS-Iran Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz(Media Sosial X)

MENTERI Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan pasukan negaranya tidak bakal menarik diri dari wilayah Libanon Selatan. Pernyataan ini memperumit perundingan tenteram antara Amerika Serikat dan Iran, mengingat pertempuran di Libanon terus menjadi kerikil dalam mewujudkan perdamaian permanen di Timur Tengah.

Berbicara dalam sebuah wawancara di Tel Aviv, Katz menggemakan kembali sikap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengenai eksistensi militer mereka di perbatasan utara tersebut.

"IDF (pasukan pertahanan Israel) siap... dan kami tidak bakal mundur. Kami mengumumkan bahwa dalam kondisi apa pun kami tidak menarik diri, dan hingga saat ini, dan ini merupakan sebuah pencapaian politik, tidak ada tuntutan dari Amerika agar Israel menarik diri dari Lebanon," ujar Katz.

Langkah Israel ini langsung memicu reaksi keras dari Teheran. Iran, nan berupaya mengaitkan gencatan senjata dengan penghentian total pertempuran di Libanon, menilai penarikan pasukan Israel adalah nilai mati.

"Bagi kami, gencatan senjata di Libanon sama pentingnya dengan gencatan senjata di Iran. Lebih lanjut, diakhirinya perang di Libanon sama pentingnya dengan diakhirinya perang di Iran," tegas Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada Rabu.

Kunjungan Menlu AS ke Teluk dan Kekhawatiran Sekutu

Di tengah situasi nan memanas, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, tengah melakukan kunjungan kerja ke negara-negara Teluk Arab, termasuk Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Bahrain. Kunjungan ini bermaksud untuk meredakan kekhawatiran para sekutu bahwa kesepakatan awal (MOU) nan ditandatangani AS-Iran minggu lampau terlalu lenggang bagi Teheran.

Negara-negara Teluk mengkhawatirkan usulan biaya support senilai US$300 miliar serta pencabutan hukuman dapat digunakan Iran untuk membangun kembali militernya. Terlebih, negara-negara tersebut sempat dihantam serangan udara Iran selama perang empat bulan terakhir akibat menyediakannya pangkalan militer bagi AS.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Rubio memastikan bahwa AS berkomitmen penuh terhadap keamanan mitranya.

"Kami mau mendengar masukan dari para mitra kami," kata Rubio saat tiba di Abu Dhabi. "Kami mau memastikan pandangan mereka dipertimbangkan, dan kami memahami kekhawatiran keamanan serta kekhawatiran ekonomi regional mereka."

Sengketa Selat Hormuz dan Inspeksi Nuklir

Selain masalah Libanon, penerapan MOU juga terganjal masalah teknis operasional. Iran dilaporkan mendesak adanya biaya transit bagi kapal-kapal nan melewati Selat Hormuz. Namun, Presiden AS Donald Trump membantah perihal tersebut dan menyatakan tidak bakal ada biaya tol nan dikenakan.

Terkait rumor nuklir, Trump menyatakan Iran telah sepakat untuk mengizinkan inspeksi situs nuklir tanpa pemisah waktu. Klaim ini langsung ditepis oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi. Ia menegaskan tidak ada rencana untuk memberikan akses inspeksi ke akomodasi nuklir sampai kesepakatan final resmi ditandatangani oleh kedua belah pihak. (The Guardian/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia