Wilayah Kampung Sawah di Kota Bekasi, Jawa Barat (Jabar) terkenal dengan budaya toleransinya nan begitu kental. Di sini, ada tiga rumah ibadah nan berdiri saling berdekatan dan antarumat beragamanya pun bisa hidup berdampingan tanpa ada bentrok ataupun gesekan mengenai kepercayaan.
Tiga rumah ibadah nan di sini mulai dari Gereta Santo Servatius bagi umat Katolik, Gereja Kristen Pasundan untuk umat Protestan, serta masjid sebagai tempat ibadah umat islam. Menariknya, mereka nan berakidah Katolik, Protestan maupun Islam, merupakan orang-orang Betawi original setempat.
Pada momen peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus tahun ini, detikcom berkesempatan untuk mengunjungi Gereja Santo Servatius nan menjadi tempat ibadah bagi penduduk Betawi pemeluk kepercayaan Katolik. detikcom pun berjumpa dengan salah satu tokoh Betawi Katolik berjulukan Ricardus Jacobus Napiun namalain Jacob.
Jacob, nan usianya sudah 70 tahun lebih menceritakan awal mula hadirnya umat Katolik di wilayah Kampung Sawah, nan notabene merupakan tahan orang-orang betawi. Jacob menjelaskan, lahirnya umat Katolik kalangan Betawi di area ini diawali dari 18 orang nan dibaptis pada tahun 1896.
"Kami lahir sejak 1896, sementara Kristen nan Protestan itu lahir lebih tua, 1874. Sudah lebih tua dari kita 22 tahun. Nah, sementara orang-orang Katolik nan Betawi Kampung Sawah itu lahir sejak 1896 ditandai dengan pembaptisan secara Katolik 18 orang Kampung Sawah," kata Jacob saat ditemui, Kamis (14/5/2026).
Jacob menerangkan, pembaptisan terhadap 18 orang itu dilakukan pada 6 Oktober 1896. Pembaptisan secara Katolik dilakukan oleh Pastor Bernardus Schweitz. Salah satunya nan dibaptis merupakan leluhur dari Jacob.
Aalah satu tokoh betawi Katolik berjulukan Ricardus Jacobus Napiun namalain Jacob (Kurniawan/detikcom)
"Beliau-beliau ini, termasuk di antaranya ada leluhur saya namanya Sam Napiun. Nama saya Yakob Napiun, lengkapnya Ricardus Jacobus Napiun, biasa dipanggil Jacob. Nah, ini salah satu cucu-cicit dari leluhur nan ada di sini, Bapak Sam Napiun namanya," terang Jacob.
Dia mengatakan ke-18 leluhur tersebut mempunyai marga nan unik seperti nama-nama nan dimiliki orang Betawi seperti Noron, Miman, serta Rikin. Namun dirinya mengaku lupa dengan daftar komplit nama marga Betawi dari ke-18 leluhur tersebut.
"Kenapa bisa seperti itu? Jadi pada era kolonial dulu, barangkali untuk memudahkan melakukan sensus, maka dibikinlah kelompok-kelompok masyarakat. Ini keluarganya Napiun, semua Napiun semua. Ini Rikin semua, ini Miman semua, agar mudah diketahui berapa banyak sih family besar mereka. Nah, sehingga itu menjadi cikal bakalnya marga," jelas Jacob.
"Maka jika Anda ketemu, misalnya lagi jalan-jalan, di Bandung, ada nan berkenalan, kemudian menyebut namanya Napiun, itu berfaedah orang ini, orang Kampung Sawah alias keturunan orang Kampung Sawah, pasti. Dan pasti Kristen. Karena jika nan sudah mualaf, pindah ke Muslim, itu marganya nggak dipakai, nan dipakai 'bin'," lanjutnya.
Warisan Toleransi Tinggi
Jacob kemudian menjelaskan mengenai tingginya penerapan nilai toleransi orang-orang Betawi di Kampung Sawah meski berbeda kepercayaan. Dia menyebut, orang-orang Betawi di Kampung Sawah sudah sejak lama tidak lagi mempersoalkan perbedaan agama. Menurutnya, urusan perbedaan kepercayaan sudah selesai.
"Semua tokoh-tokoh besar kepercayaan dan masyarakat di Kampung Sawah sudah sepakat untuk memastikan bahwa di Kampung Sawah soal kepercayaan dan berakidah sudah selesai. Tidak ada nan perlu dibahas, tidak ada nan perlu disebut-sebut lagi. Ya, sudah selesai," tuturnya.
Dia mengatakan, orang Betawi Kampung Sawah, ketika berbincang tentang kebersamaan dan kepentingan bersama, sudah tidak lagi membawa embel-embel agama. Sikap tolong-menolong itu pun lahir dengan sendirinya tanpa perlu diingatkan apalagi sampai diberikan teguran.
Contohnya, kata dia, ketika salah satu dari tiga kepercayaan nan ada di Kampung Sawah merayakan hari besar keagamaan, maka dua kepercayaan lainnya bakal secara otomatis berambisi untuk memberikan bantuan. Menurutnya, semua penduduk Betawi di Kampung Sawah sudah merasa seperti saudara.
"Itu sudah menjadi keseharian. Salah satu contoh, besok kelak tanggal 16 malam, kami ada aktivitas nan namanya Sedekah Bumi. nan bakal datang di situ adalah sejumlah tokoh besar agama. Kemudian ada Barisan Muda Lintas Agama, mereka datang di sini, mereka membawa misi masing-masing, mereka menceritakan macam-macam, mereka merasa seperti kerabat dan sebagainya," ungkapnya.
Di sini, ada tiga rumah ibadah nan berdiri saling berdekatan dan antarumat beragamanya pun bisa hidup berdampingan tanpa ada bentrok ataupun gesekan mengenai kepercayaan. (Kurniawan/detikcom)
Kemudian dia juga mencontohkan, ketika umat Islam merayakan Idul Fitri maupun Idul Adha, umat Katolik maupun Protestan sudah otomatis bakal siap membantu menjaga agar penyelenggaraan ibadahnya melangkah lancar. Bahkan, aktivitas makan ketupat berbareng pun tetap terus dilakukan.
"Kalau saya kasih, tunjukin gambar-gambar sih, bahwa setiap Idul Fitri alias Idul Adha, pagi hari pasti, cari saya, adanya di masjid. Kami sudah, saya dengan pasukan saya untuk mengamankan seremoni Idul Adha itu, Idul Fitri itu. Jadi teman-teman nan Katolik mereka sudah tahu, 'pokoknya Pak Yakub kelak kami mau begini-begini', ya sudah mereka ikut sama-sama gitu. Itu nan kami lakukan," ujar Jacob.
"Dan mereka juga ketika kami besok misalnya kelak Natalan, itu nan Muslim juga banyak sekali nan membantu di situ. Dan itu bukan apa ya, kita tidak mengundang mereka, tapi mereka nan datang. Saya pun jika saya ikut membantu pengamanan dan ketertiban di Masjid Agung Al-Jauhar, itu nggak pernah diminta sama Pak Kiai, nggak pernah ditolak sama Pak Kiai, hanya diancam, 'tidak ada nan pulang sebelum makan ketupat Lebaran'," imbuh dia.
Tak lupa, dia juga menyampaikan, tingginya nilai toleransi nan ada di Kampung Sawah, menjadikan wilayah tersebut mempunyai julukan 'Segitiga Emas'. Istilah ini, seingat dia, disematkan oleh Wapres ke-13 RI, Ma'ruf Amin.
"Segitiga itu tadi, mau menjelaskan, mau mengilustrasikan, corak alias tata letak dari tiga rumah ibadah ini seakan-akan membentuk segitiga. Dan 'emas'-nya di mana? Emasnya adalah persaudaraan, kerukunan, toleransi nan Anda katakan, nan rupanya itu menjadi peralatan mahal sekarang. Nah, itulah emasnya," ucap Jacob.
"Dan siapa nan mengatakan pada awalnya Segitiga Emas? Saya agak lupa apakah Arswendo alias Kiai Haji Ma'ruf Amin ketika beliau datang di sini. Saya agak lupa siapa nan menyebut itu, seingat saya jika nggak salah sih Kiai Ma'ruf Amin, jika nggak salah ya, mudah-mudahan nggak salah," pungkasnya.
(kuf/jbr)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·