Tokoh Adat Papua Yasinta Moiwend Mengaku Dijebak untuk Terlibat dalam Film 'Pesta Babi'

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Tokoh Adat Papua Yasinta Moiwend Mengaku Dijebak untuk Terlibat dalam Film 'Pesta Babi' Yasinta Moiwend(Dok Istimewa)

TOKOH masyarakat budaya wanita dari Suku Malind Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend, menyatakan dirinya dijebak dan diperdaya oleh oknum lembaga swadaya masyarakat untuk terlibat dalam sebuah produksi movie dokumenter berjudul Pesta Babi. Ia menegaskan tidak pernah memberikan izin alias menandatangani persetujuan resmi apa pun mengenai pembuatan movie tersebut.

Yasinta mengaku terkejut saat mengetahui wajahnya dipajang secara luas, apalagi dijadikan ikon utama dalam poster promosi movie Pesta Babi nan beredar di tengah masyarakat luas.

“Saya kaget, ditampilkan saya di film. Apa saya boneka alias ukiran Asmat, ditampilkan tanpa sepengetahuan saya dan izin saya. Saya kecewa sekali,” kata Yasinta kepada wartawan, Minggu (24/5/2026).

“Saya tidak wawancara, mereka nan buat, ibu tidak tahu. Mama tidak kasih izin, untuk buat movie itu, saya sumpah demi Tuhan, tidak tahu jam berapa mereka buat movie Pesta Babi itu,” sambungnya.

Yasinta membeberkan, duduk perkara bermulai ketika dirinya berbareng golongan masyarakat budaya Marind diajak oleh seorang laki-laki berjulukan Aris untuk menyuarakan aspirasi seputar penolakan pembukaan lahan oleh pemerintah di wilayah Papua. Namun, dalam perjalanannya, dia merasa rumor tersebut dipelintir dan dirinya justru dimanfaatkan demi kepentingan produksi movie sepihak.

“Akhirnya saya sudah terlanjur viral di mana-mana sampai mereka sudah buat movie Pesta Babi tanpa izin dari saya, tanpa sepengetahuan dari saya. Itu nan saya kecewa sekali sekarang dengan mereka LBH," tutur Yasinta.

Ia baru menyadari telah dieksploitasi setelah memandang hasil produksi movie tersebut tidak pernah dibicarakan secara terbuka dengan dirinya sebagai subjek utama. Padahal, sebelumnya Yasinta telah difasilitasi untuk melakukan enam kali penerbangan pulang-pergi rute Merauke–Jakarta dan tiga kali penerbangan Merauke–Makassar tanpa kejelasan tujuan nan konkret.

“Saya diajak ke Jakarta 6 kali. Di atas pesawat saya panik, ini mau apa. Sampai Jakarta, mereka ajak saya demo (Aksi) Kamisan, minta saya bersuara menolak PSN (Proyek Strategis Nasional). Karena terpengaruh, saya ikut saja namun sekarang, saya sadar, saya tidak mau ikut tolak PSN lagi,” jelas Yasinta.

Meski kudu menjalani agenda perjalanan lintas pulau nan sangat padat hingga menguras energinya, Yasinta mengaku tidak pernah mendapatkan kompensasi alias support kesejahteraan nan layak dari pihak penyelenggara. Jangankan support untuk pembaharuan rumah, permohonan sederhana untuk mengganti telepon selulernya nan rusak akibat aktivitas berjalan pun tidak pernah dipenuhi hingga saat ini.

"Yang saya dapat hanya capeknya saja. Mereka fasilitasi, jadi jika mereka akomodasi terus duit duduknya hanya Rp2 juta, Rp1,5 juta itu saja nan kami dapat dari mereka, LBH Pusaka," ungkapnya.

Merasa martabat dan kewenangan atas privasinya sebagai representasi wanita budaya Papua telah dilanggar untuk agenda tertentu, Yasinta secara tegas menuntut agar seluruh pihak mengenai menarik movie tersebut dari ruang publik.

“Saya dijebak, dimanfaatkan oleh mereka. Jadi saya minta movie Pesta Babi untuk dihentikan. Tidak ada izin dan sepengetahuan saya. Harus dihentikan movie itu,” pungkas Yasinta. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia