Mengapa SUGA BTS dipanggil "Mas Agus"? Fenomena ini menunjukkan produktivitas ARMY Indonesia dalam memaknai budaya Korea.
Pukul sebelas malam, notifikasi di Weverse tiba-tiba muncul di layar ponsel: “SUGA BTS started a LIVE”.
Hanya dalam hitungan detik, ribuan ARMY dari beragam negara memenuhi kolom komentar, di antara banyaknya sapaan berkata Korea, Inggris, Jepang hingga Spanyol, terselip komentar dengan kalimat-kalimat nan sangat unik Indonesia, “Mas Agus, jangan lupa makan ya”, “Mas Agus, Indonesia kangen”, alias “Akhirnya suamiku live!”. Julukan "Mas Agus" untuk SUGA BTS kemudian menjadi salah satu corak produktivitas ARMY Indonesia dalam memadukan budaya Korea dengan budaya lokal.
Bagi orang di luar fandom, sapaan itu mungkin terdengar membingungkan lantaran Agus alias Mas Agus bukan nama panggung Suga. Namun bagi ARMY Indonesia, panggilan itu sudah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari nan berkawan di telinga.
Seperti “Hobi”, “Taetae”, alias “Kookie”, apalagi “Pak Presiden” untuk RM, kocak ya! Julukan-julukan tersebut lahir bukan dari agency mereka, HYBE alias BTS itu sendiri, melainkan lahir dari produktivitas para penggemarnya di Indonesia. Selain julukan bagi idolnya, fandom BTS di Indonesia juga menyebut diri mereka sebagai IndoMy, alias Indonesian ARMY.
Fenomena ini tentu tidak muncul begitu saja, tetapi menunjukkan bahwa hubungan antara BTS dengan ARMY telah berkembang melampaui relasi antara idol dan penggemar.
Musik BTS mungkin memang menjadi titik awal, tapi hubungan nan berjalan setiap hari di ruang digital melahirkan bahasa, kebiasaan, dan identitas baru nan hanya dipahami oleh fandom. Di tangan fans Indonesia, budaya Korea tidak diterima begitu saja, tetapi diolah menjadi sesuatu nan terasa lebih dekat dengan budaya dan kehidupan sehari-hari.
Besarnya pengaruh budaya Korea di Indonesia juga terlihat dari minat masyarakat Indonesia nan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena tersebut juga terlihat dari hasil Global Hallyu Survey 2024 nan diterbitkan oleh Korea Foundation for International Cultural Exchange (KOFICE) bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan.
Sebanyak 86,3% dari responden di Indonesia menyatakan mempunyai persepsi positif terhadap budaya Korea, nomor ini tertinggi di antara negara-negara nan disurvei. K-Pop menjadi gambaran pertama nan paling diingat ketika responden memikirkan Korea Selatan.
Yang menarik bukan lagi tentang ketenaran BTS, tetapi langkah fans memaknai budaya Korea. Mereka tidak lagi sekadar menikmati lagu alias menunggu konser BTS, tetapi bisa mengolah budaya nan datang dari Korea menjadi sesuatu nan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari di Indonesia.
Cara fandom berkomunikasi juga mencerminkan kebiasaan masyarakat Indonesia nan menggunakan sapaan “Mas” sebagai corak penghormatan dan keakraban. Julukan “Mas Agus” alias “Mas Jin” juga lahir lantaran terasa berkawan di telinga masyarakat Indonesia.
Menurut Liu, Volcic, dan Gallois (2023), identitas budaya selalu berkembang melalui hubungan dengan budaya lain. Apa nan dilakukan oleh ARMY Indonesia menunjukkan bahwa menikmati budaya dunia tidak kudu membikin seseorang kehilangan identitas lokalnya, justru keduanya bisa berdampingan dan saling memperkaya khasanah budaya.
Media sosial seperti Weverse akhirnya menjadi lebih besar dari sekadar ruang komunikasi digital antara Idol dan penggemar. Dalam organisasi ARMY, jutaan orang memang dipersatukan oleh BTS, tapi masing-masing fans tetap membawa bahasa dan budaya masing-masing.
Kalau membahas pengaruh BTS memang tidak pernah ada habisnya, ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari para penggemarnya. Tidak berlebihan jika media menyebut BTS sebagai salah satu wajah soft power Korea Selatan. Banyak nan mulai mengenal ramyeon lantaran memandang Jungkook memakannya saat melakukan live di media sosialnya, tidak sedikit juga ARMY nan belajar membaca Hangul setelah mengikuti konten-konten BTS.
Uniknya, budaya tersebut tidak datang dalam corak nan sama dengan negara asalnya. Di Indonesia, ramyeon dinikmati berbareng cabe rawit, kimchi dijadikan pelengkap menu ayam geprek, apalagi banyak menu-menu Korea berdampingan dengan kopi susu di beragam kafe Indonesia. Kreativitas masyarakat Indonesia memang tidak perlu diragukan, lantaran bisa membikin budaya Korea berbaur dengan kebiasaan masyarakat Indonesia.
ARMY Indonesia dapat menjadi contoh bagi fandom-fandom lain lantaran kedekatan ARMY Indonesia dengan BTS tidak hanya berakhir di ruang digital. Terutama setiap seremoni ulang tahun personil BTS, misalnya, organisasi ARMY di beragam kota sering mengadakan aktivitas sosial seperti penggalangan dana, donor darah, berbagi makanan hingga membantu korban musibah menggunakan nama personil BTS.
ARMY Indonesia jelas memperlihatkan bahwa budaya terkenal Korea tidak menggantikan identitas lokal, tapi justru memberi ruang produktivitas bagi anak muda Indonesia untuk tetap bisa mengekspresikan dirinya dan membawa semangat gotong royong unik budaya masyarakat Indonesia.
Pada akhirnya, nan membikin BTS begitu dekat dengan jutaan penggemarnya di Indonesia bukan hanya musik mereka, tetapi kepribadian dan contoh nan diberikan ke para ARMY di seluruh dunia.
Yang BTS tumbuhkan bukan hanya budaya Korea, tapi ruang budaya baru, tempat bertemunya budaya Korea dengan bahasa, kebiasaan, dan nilai-nilai lokal Indonesia. ARMY Indonesia tidak sedang mencoba menjadi “orang Korea”. Namun, mereka justru membuktikan tidak kudu meninggalkan jati diri sebagai orang Indonesia untuk menjadi bagian dari budaya dunia, tapi mereka menghadirkan budaya Korea dengan langkah nan sangat Indonesia.
Daftar Pustaka
Liu, S., Volčič, Z., & Gallois, C. (2023). Introducing Intercultural Communication: Global Cultures and Contexts (4th ed.). Sage.
Korea Foundation for International Cultural Exchange. (2024). Global Hallyu Survey 2024. https://kofice.or.kr
Korea.net – Indonesia Peringkat Tertinggi dalam Persepsi Positif terhadap Hallyu
59 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·