Tips Membatasi Medsos Remaja dan Data Kesehatan Mental Kemenkes

Sedang Trending 4 jam yang lalu
Tips Membatasi Medsos Remaja dan Data Kesehatan Mental Kemenkes Ilustrasi(magnific)

PSIKOLOG anak dan keluarga, Samanta Clara Elsener, S.Psi, M.Psi, menekankan pentingnya pendekatan persuasif bagi orangtua dalam mengatur penggunaan media sosial (medsos) pada remaja. Menurutnya, kunci utama dalam membujuk remaja menggunakan medsos seperlunya adalah melalui komunikasi dua arah nan setara.

Berbicara di Jakarta pada Selasa (20/10), Samanta menjelaskan bahwa orang tua sebaiknya memulai pembicaraan dengan topik nan relevan alias relate dengan bumi remaja, seperti hal-hal nan mereka sukai alias sedang mereka cari tahu. Setelah hubungan terbangun, barulah orangtua dapat memberikan pengingat singkat mengenai batas lama penggunaan media sosial.

“Remaja tidak suka diberi nasehat panjang berulang kali lantaran mereka butuh merasa mempunyai otoritas terhadap dirinya. Sehingga sebagai orang tua perlu menggunakan cara-cara nan komunikasinya dua arah dibandingkan satu arah,” ujar psikolog nan juga pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) tersebut.

Membangun Keterampilan Sosial Langsung

Samanta menambahkan bahwa kesepakatan mengenai waktu layar (screen time) sebenarnya sudah bisa dimulai sejak anak berumur tujuh tahun. Ia juga mematahkan kekhawatiran bahwa anak nan minim media sosial bakal terkucilkan dari pergaulan.

Menurutnya, keahlian anak untuk tetap terhubung dengan kawan sebaya lebih berjuntai pada keahlian sosial nan dilatih melalui hubungan langsung.

Dengan hubungan tatap muka, anak tetap bisa mendapatkan info relevan dalam pergaulannya sekaligus belajar langkah mengatasi bentrok dan membangun percakapan di bawah pendampingan orang tua.

Lebih lanjut, Samanta memperingatkan bahwa tanpa hubungan nan hangat, anak condong bakal mencari celah untuk mengakses media sosial secara sembunyi-sembunyi, misalnya melalui gawai milik teman. Oleh lantaran itu, pembatasan kudu didasari oleh pemahaman, bukan sekadar patokan kaku.

Urgensi Kesehatan Jiwa Generasi Muda

Pendekatan persuasif ini menjadi krusial mengingat tantangan ruang digital nan semakin besar bagi kesehatan jiwa generasi muda. Berdasarkan laporan APJII 2026, penetrasi internet di Indonesia telah melampaui 80% populasi nan didominasi oleh kaum muda.

Data terbaru dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan kondisi nan mengkhawatirkan mengenai kesehatan mental anak sekolah dan remaja di Indonesia. Berikut adalah ringkasan info indikasi masalah kesehatan jiwa hingga Oktober 2026:

Kategori Data Temuan / Jumlah
Total Penduduk Diperiksa (CKG) 71 Juta Orang
Indikasi Gejala Depresi (Anak & Remaja) > 380.000 Anak
Indikasi Gejala Kecemasan (Anak & Remaja) ~ 380.000 Anak
Perbandingan dengan Dewasa/Lansia 4 Kali Lipat Lebih Tinggi

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, pada Senin (19/10) menyatakan bahwa tingginya nomor indikasi depresi dan kekhawatiran pada golongan usia sekolah ini menjadi sirine bagi semua pihak untuk lebih memperhatikan kesehatan mental anak di era digital. (Ant/Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑