Tindaklanjuti Arahan Prabowo, BRIN-Rosatom Perkuat Kerja Sama Nuklir Damai

Sedang Trending 59 menit yang lalu

Jakarta - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menerima kunjungan Direktur Jenderal Rosatom Rusia Alexey Likhachev dalam rangka mendalami potensi pengembangan nuklir baik untuk daya maupun non energi. Pertemuan ini tindaklanjut hasil pertemuan Presiden Prabowo Subianto nan lebih dulu menerima Likhachev kemarin di Istana, Jakarta.

Arif menjelaskan bahwa BRIN memang ditugaskan untuk melakukan penjajakan kerjasama pengembangan teknologi nuklir. Rintisan kerjasama RI dengan Rosatom ini sudah dimulai sejak tahun 2006.

"Ini merupakan upaya komprehensif untuk mendalami beragam opsi teknologi maju bagi masa depan. BRIN bekerja memastikan bahwa setiap langkah dalam penjajakan teknologi nuklir ini terkoordinasi dengan baik antar-instansi," kata Arif, dalam keterangannya, Rabu (13/5/2025).

Arif mengatakan konsentrasi utama kerja sama bakal diarahkan pada penguatan lebih lanjut Kelompok Kerja Gabungan (Joint Working Group) untuk penyiapan penerapan daya nuklir berskala besar. Ruang lingkup penjajakan ini mencakup pengembangan peta jalan (roadmap), studi tapak, pemilihan teknologi reaktor, hingga pendalaman mengenai siklus bahan bakar nuklir.

Selain berfokus pada penjajakan daya berbasis nuklir, kerjasama strategis ini turut menyasar sejumlah bagian lainnya. Salah satunya, revitalisasi akomodasi riset, modernisasi akomodasi reaktor riset GA Siwabessy di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie Serpong.

"Hal ini juga mencakup pengelolaan limbah radioaktif dan fabrikasi komponen bakar reaktor," kata Arif.

Lalu, pengembangan teknologi High Temperature Gas-Cooled Reactor (HTGR). Teknologi reaktor jenis ini dapat dimanfaatkan untuk produksi hidrogen, desalinasi air, dan keperluan industri lainnya, selain menghasilkan listrik.

Kemudian pengembangan radioisotop untuk diaplikasikan pada sektor medis dan industri. Ada juga pengembangan teknologi iradiasi dan pemanfaatannya di bagian pangan, medis, serta industri.

"Pengembangan SDM: Penguatan kerja sama pendidikan dan pengembangan kapabilitas SDM di bagian teknologi nuklir. Upaya ini bakal melibatkan koordinasi erat dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)," lanjut Arif.


Arif mengatakan penjajakan teknologi ini melangkah progresif. Ia memberikan catatan tegas bahwa keberhasilan mengambil daya atom di Tanah Air tidak hanya berjuntai pada kecanggihan prasarana semata.

"Penguasaan teknologi nuklir memang mutlak, namun pelibatan disiplin pengetahuan sosial sangat krusial. Pendekatan sosiologis ini vital untuk memetakan tingkat penerimaan publik, memitigasi akibat sosial-ekonomi, serta memastikan bahwa setiap tahap penjajakan daya nuklir di Indonesia melangkah secara transparan, aman, dan humanis," tegasnya

Diketahui, kemitraan teknis antara Indonesia dan Rusia sejatinya mempunyai rekam jejak historis nan solid. Implementasi di tingkat teknis telah melangkah dengan sukses, mencakup kerjasama antara BATAN dan Rosatom pada 2015, BAPETEN dan Rostechnadzor pada 2017, serta Poltek Nuklir (STTN) dan Rosatom Technical Academy pada 2020.

"Sebagai bentuk komitmen nyata, BRIN bakal melanjutkan dan memperkuat kerja sama tersebut," ujarnya. (eva/dek)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News