Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok Houthi asal Yaman nan didukung Teheran nekat menyerang empat kota di bagian selatan Arab Saudi, pada hari Selasa. Serangan sadis ini melukai lebih dari 70 orang dan membakar sejumlah instalasi minyak, nan menandai eskalasi besar dalam perang Timur Tengah nan telah berjalan selama enam bulan.
Mengutip Reuters, Selasa (8/9/2026), Houthi nan menguasai sebagian besar wilayah padat masyarakat di Yaman termasuk ibu kota, menyatakan telah meluncurkan operasi luas jauh ke dalam wilayah Saudi. Mereka menggunakan drone dan rudal untuk menyerang pangkalan udara Saudi di kota selatan Khamis Mushait, serta sasaran milik perusahaan minyak negara Arab Saudi di dekat Abha, Najran di perbatasan Yaman, dan Jazan nan merupakan pelabuhan utama Laut Merah.
Otoritas Saudi mengonfirmasi adanya kobaran api di beragam letak dan menyebut bahwa wanita serta anak-anak termasuk di antara 73 orang nan terluka. Laporan tingginya jumlah korban ini menunjukkan bahwa gempuran tersebut merupakan salah satu serangan terbesar terhadap Arab Saudi sejak Amerika Serikat dan Israel memulai perang melawan Iran pada bulan Februari lalu.
Juru Bicara Koalisi ketua Saudi, Kolonel Turki al-Malki, memastikan pihaknya siap mengambil tindakan keras.
"Koalisi bakal mengambil semua langkah operasional nan diperlukan untuk mencegah milisi teroris ini dan dengan tegas menghadapi pendekatan permusuhan mereka," tegas Turki.
Di sisi lain, Juru Bicara Houthi Yahya Saree justru menuduh Riyadh telah memperburuk keadaan dengan meluncurkan serangan udara ke Yaman dan berjanji bakal terus membalasnya.
Setelah sempat tenang di bulan Agustus, pertempuran di area Teluk sekarang kembali berkobar dengan tindakan saling serang antara Iran dan AS. Eskalasi ini langsung mengerek nilai minyak dunia ke level nan belum pernah terlihat sejak Juli, di mana nilai minyak mentah Brent naik lebih dari 2% pada hari Selasa menjadi di atas US$ 99 (Rp 1.752.300) per barel.
Serangan Houthi berpotensi memperburuk akibat ekonomi dunia lantaran mengganggu pasokan daya Timur Tengah di luar Selat Hormuz nan saat ini diblokade. Washington tengah mencoba meningkatkan aliran minyak ke pasar bumi dengan memandu kapal melewati Selat Hormuz, sembari memutus ekspor Iran.
Sebagai balasan, Teheran mengumumkan bakal segera mengungkap rincian "zona eksklusi maritim" nan membentang dari perimeter blokade AS, melewati selat, hingga ke dalam Teluk.
Akhir pekan lalu, pasukan Washington juga menembaki kapal tanker Iran sebagai jawaban atas tembakan Iran ke arah kapal perang AS. Iran mengeklaim telah menggunakan rudal balistik baru nan jauh lebih mumpuni untuk serangan tersebut. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, memberikan ancaman terbuka mengenai pengerahan senjata baru tersebut.
"Dalam beberapa hari terakhir, Washington telah menerima peringatan nan jelas dari rudal baru Iran. Peperangan ekonomi bakal dibalas dengan area eksklusi maritim di seluruh Teluk Persia hingga perimeter blokade. Postur operasional terhadap kapal perang dan pangkalan AS telah dikalibrasi ulang secara fundamental," papar Mohsen.
Meskipun rentetan gempuran AS telah melemahkan kekuatan konvensional dan menghancurkan ekonominya, Iran nyatanya tetap mempunyai persenjataan rudal serta pesawat tak berawak nan dapat menakut-nakuti kapal tanker minyak dan pangkalan militer AS di seluruh kawasan.
Mengingat sekitar seperlima dari pengiriman minyak dunia dan gas alam cair melewati selat tersebut sebelum perang, pertempuran ini langsung memicu krisis pasokan dunia secara akut.
Di AS, nilai satuan rata-rata bahan bakar solar sekarang memecahkan rekor dengan menembus lebih dari US$ 5,90 (Rp 104.430) per galon, nan mulai menakut-nakuti prospek politik bagi Partai Republik jelang pemilu. Di tengah kepanikan tersebut, Presiden AS Donald Trump berupaya meredam gejolak pasar melalui pernyataan di media sosialnya.
"Harga minyak bakal turun drastis, seperti halnya nan lain juga turun (tetapi lebih banyak!), ketika kita MEMENANGKAN perang dengan Iran. US$ 3 (Rp 53.100) per galon, namun pada akhirnya, di bawah US$ 2 (Rp 35.400) per galon. Semuanya bakal terjadi dengan cepat, dan Iran tidak bakal pernah mempunyai Senjata Nuklir," ungkap Trump.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·