Ilustrasi(Dok UGM)
FENOMENA kemunculan puluhan titik api misterius di salah satu rumah penduduk di Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mulai terkuak. Fenomena itu bukan lantaran perihal mistis, melainkan akibat reaksi kimia.
Hal itu terlihat setelah tim peneliti dari Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) nan dipimpin oleh Prof. Ir. Alva Edy Tontowi, Ph.D. turun langsung melakukan tiga kali observasi.
Misteri mulai terkuak saat observasi kedua, Senin (1/6/2026). Bermula dari temuan tim PKPE atas sebuah baju nan terbakar secara spontan di salah satu perspektif rumah.
"Ketika perangkat detektor gas didekatkan, nomor akumulasi hidrogen di titik tersebut melonjak sangat tinggi hingga mencapai 0,40," ungkap Alva.
Tidak hanya di sana, gas nan sangat mudah terbakar ini rupanya juga sudah menyusup ke area lain, ialah di bilik mandi. Pihaknya mencatat gas tersebut mencapai sebesar 0,11, nan tergolong cukup tinggi.
Temuan tersebut menuntun pada sebuah konklusi bahwa gas tersebut merupakan hasil dari proses fermentasi limbah organik dari aktivitas pemotongan ayam di sekitar lokasi.
Untuk membuktikannya, tim menguji sampel air dari beragam titik, mulai dari aliran pipa, sumur, hingga air limbah rumah tangga. Mereka apalagi melakukan penggalian dangkal di beberapa titik lantai pada Kamis (4/6/2026). Langkah itu dilakukan untuk mengukur pergerakan gas tanah tersebut.
Duet Maut Hidrogen dan Gas Fosfin
Dari temuan di lapangan, Prof. Alva menyampaikan teori, Hidrogen memang mudah terbakar, tetapi dia butuh pemantik. Dari sinilah, kecurigaan muncul pada gas berjulukan fosfin (PH3?).
Gas fosfin bisa terbentuk dari material nan kaya fosfat, seperti tulang dan bagian keras dari bulu ayam sisa pemotongan. Gas ini sangat sensitif dan bisa terbakar dengan sendirinya begitu berjumpa dengan oksigen di suhu kamar.
"Sayangnya, gas fosfin tidak mudah terdeteksi dan bakal lenyap terbakar jika berjumpa oksigen. Besar kemungkinan, gas fosfin tersebut nan memicu terbakarnya gas hidrogen ketika muncul bersamaan," terang Alva.
Singkatnya, ketika gas fosfin keluar dari tanah berbarengan dengan hidrogen, fosfin langsung terbakar saat menyentuh udara, lampau "menyulut" hidrogen nan sudah terakumulasi di dalam ruangan. Itulah nan menyebabkan munculnya titik-titik api misterius.
Prof Alva menjelaskan, kajian laboratorium terhadap sampel limbah cair tetap terus berjalan. Di saat bersamaan, tim UGM bergerak sigap memberikan pertolongan pertama bagi pemilik rumah agar musibah serupa tidak terulang.
Langkah pertama nan paling krusial adalah membuka sirkulasi udara selebar-lebarnya dan memasang kipas angin. Dengan itu, rembesan gas nan keluar dari lantai langsung terurai angin dan tidak sempat berkumpul sampai pada kadar nan bisa memicu munculnya api.
Kedua, pemilik rumah juga diminta untuk menyingkirkan barang-barang nan mudah terbakar. Ketiga, Tim UGM bakal membantu melakukan penjenuhan cairan basa (air kapur) pada tanah dan lantai rumah.
Langkah penyiraman air kapur ini dilakukan untuk mengubah tingkat keasaman tanah. Dengan begitu, kuman Clostridium, nan selama ini memfermentasi limbah ayam dan menghasilkan gas hidrogen, tidak lagi nyaman tinggal di sana.
Dengan temuan ini, secara sains, api misterius tersebut akhirnya bisa dijelaskan diredam pula oleh sains.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·