Tiba-Tiba Eropa Dekati Taliban, Ada Apa?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Uni Eropa (UE) mulai membuka komunikasi langsung dengan Taliban di tengah meningkatnya tekanan politik soal migrasi. Brussels apalagi berencana mengundang pejabat Taliban ke Belgia untuk membahas pemulangan migran Afghanistan dari Eropa.

Komisi Eropa mengonfirmasi kepada media bahwa pembicaraan teknis dengan otoritas de facto Afghanistan itu bakal digelar dalam waktu dekat di Brussels. Langkah ini dilakukan berbareng Swedia dan menjadi kelanjutan dari dua kunjungan pejabat Eropa sebelumnya ke Kabul.

"Para pejabat saat ini sedang mengupayakan kemungkinan pertemuan lanjutan di tingkat teknis di Brussels dengan otoritas de facto Afghanistan," kata ahli bicara pelaksana UE, seperti dikutip AFP, Selasa (12/5/2026).

Menurut sumber nan mengetahui pembahasan tersebut, surat resmi bakal segera dikirim ke Kabul untuk menentukan agenda kunjungan delegasi Taliban ke ibu kota Belgia itu.

Langkah UE ini menandai perubahan pendekatan nan cukup signifikan terhadap Taliban. Selama ini, golongan tersebut praktis terisolasi dari organisasi internasional sejak kembali berkuasa di Afghanistan pada 2021 dan menerapkan kembali norma Islam jenis ketat.

Meski tidak mengakui Taliban secara resmi, negara-negara Eropa sekarang mulai mencari jalur pragmatis untuk menangani persoalan migrasi, terutama deportasi penduduk Afghanistan nan mempunyai catatan kriminal.

Sekitar 20 negara personil UE diketahui tengah menjajaki langkah memulangkan migran Afghanistan ke negara asal mereka. Dalam surat nan dikirim pada Oktober lalu, sejumlah negara mendesak Uni Eropa mencari solusi diplomatik dan teknis untuk mempercepat proses tersebut.

"Dalam konteks ini, pertemuan teknis berjalan di Kabul pada Januari 2026," ujar ahli bicara Komisi Eropa.

Dorongan untuk membuka komunikasi dengan Taliban dipimpin oleh Jerman. Negara itu telah mendeportasi lebih dari 100 penduduk Afghanistan nan mempunyai catatan pidana sejak 2024 melalui penerbangan charter nan difasilitasi Qatar.

Kebijakan Berlin mengeras setelah serangkaian kasus kekerasan nan melibatkan penduduk Afghanistan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk kejadian penabrakan mobil di Munich tahun lalu.

Austria juga mulai bergerak lebih dulu dengan menerima delegasi Taliban di Wina pada September lalu. Kini, Belgia, Swedia, dan sejumlah negara Eropa lain mulai mempertimbangkan pendekatan serupa.

Namun langkah ini memicu kontroversi besar. Kelompok pembela kewenangan migran mengkhawatirkan potensi penyalahgunaan info oleh Taliban jika komunikasi resmi dengan Eropa semakin terbuka. Mereka takut identitas penduduk Afghanistan di Eropa dapat diketahui dan membahayakan hak-hak dasar para migran.

Meski demikian, sejumlah diplomat Eropa membantah bahwa pembicaraan dengan Taliban merupakan corak pengakuan politik. Menurut mereka, komunikasi dilakukan murni untuk menyelesaikan persoalan teknis deportasi, termasuk publikasi arsip perjalanan dan kesiapan operasional airport Kabul.

(sef/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News