Panggung Gedung Ciputra Hall, Surabaya, terasa berbeda pada Minggu (13/9). Pertunjukan balet The Pharaoh’s Daughter nan digelar Center Point Ballet Academy tak hanya menghadirkan puluhan penari, tetapi juga mempertemukan seniman dari beragam latar belakang dalam satu pertunjukan.
Salah satu momen nan mencuri perhatian datang sejak pembukaan pertunjukan. Penari utama Patricia Jane tampil berbareng violist cilik Liam Ian Gunawan (8 tahun) dalam pembukaan The Pharaoh’s Daughter.
Patricia Jane merupakan performing and teaching artist nan saat ini berdomisili di New York City. Ia mempunyai gelar BFA in Theater, Music, and Dance dari Joffrey Ballet dan New Jersey City University (NJCU).
Dalam pementasan ini, Patricia menjadi salah satu penari utama nan membawa karakter dan cerita The Pharaoh’s Daughter ke atas panggung. Kehadirannya sekaligus menjadi bagian dari kerjasama Center Point Ballet Academy dengan seniman nan mempunyai pengalaman di panggung internasional.
Sementara itu, Liam Ian Gunawan datang membawakan bagian Act 3 La Fille du Pharaon dalam pagelaran tersebut. Liam mulai belajar biola sejak usia lima tahun. Dalam dua tahun setelah mulai belajar, dia meraih First Prize dan Best Performance dalam 7th Vienna Virtuoso Festival Music Competition di Berlin sebagai peserta termuda.
Ia juga pernah tampil di sejumlah panggung internasional, termasuk Walt Disney Concert Hall di Los Angeles, Carnegie Hall di New York, dan Esplanade di Singapura.
Pertemukan 130 Penari dalam Satu Panggung
The Pharaoh’s Daughter merupakan karya balet nan mengisahkan Putri Aspicia, putri Firaun, dan Ta-Hor, seorang pemuda Mesir. Keduanya berjumpa ketika sedang berburu dan kemudian menjalin hubungan. Konflik muncul ketika Aspicia dijodohkan dengan Raja Nubian oleh sang ayah.
Dalam pementasan di Surabaya, cerita tersebut diwujudkan melalui perpaduan balet, musik, dan komponen visual.
Sebanyak 130 penari dari beragam usia turut mengambil bagian dalam pertunjukan. Mereka menjalani proses latihan dan persiapan selama sekitar tiga hingga empat bulan untuk mempersiapkan pementasan.
Bagi Center Point Ballet Academy, panggung ini bukan hanya menjadi ruang bagi para penari untuk menunjukkan hasil latihan. Pertunjukan juga menjadi bagian dari proses perkembangan para murid, termasuk graduation and award bagi mereka nan telah menyelesaikan ujian.
Untuk memperkaya pertunjukan, Center Point Ballet Academy juga menghadirkan sejumlah guest artist. Selain Patricia Jane dan Liam Ian Gunawan, terdapat Martina Feiertag, dancer, koreografer, sekaligus co-founder Dimar Dance Theatre.
Pementasan dipimpin oleh Principal and Art Director Center Point Ballet Academy, Ekawati Loekito. Kolaborasi tersebut membikin The Pharaoh’s Daughter tidak hanya menjadi panggung bagi para penari, tetapi juga menjadi ruang pertemuan beragam disiplin seni dan generasi.
Pertunjukan Balet Sekaligus Berbagi
Di kembali pagelaran seni tersebut, Center Point Ballet Academy juga membawa misi sosial.
Melalui The Pharaoh’s Daughter, bantuan disalurkan kepada Biara Karmel OCD Claket dan para korban gempa di NTT melalui Gereja Katolik St. Yakobus Surabaya.
Penyerahan bantuan kepada Biara Karmel OCD Claket dilakukan oleh Ekawati Loekito selaku ketua Center Point Ballet Academy.
Para penari dan seniman nan terlibat tidak hanya membawa kisah Putri Aspicia dan Ta-Hor ke atas panggung, tetapi juga ikut menghadirkan faedah bagi masyarakat melalui aktivitas berbagi.
Melalui pagelaran ini, Center Point Ballet Academy berambisi dapat terus menghadirkan ruang bagi para penari untuk menunjukkan perkembangan mereka sekaligus membuka kesempatan untuk bekerja-sama dan berbagi dengan masyarakat nan membutuhkan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·