The Grand Old Man dan Warisan bagi Diaspora Indonesia

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Ilustrasi Agus Salim. Foto: Generated by AI

Di tengah banjir info dan hiruk-pikuk media sosial hari ini, Indonesia justru menghadapi satu ironi besar: semakin banyak pejabat berbicara, semakin sedikit nan dipercaya. Kalimat-kalimat publik terdengar cepat, lantang, apalagi viral, tetapi sering kehilangan makna dan kepekaan. Komunikasi menjadi dangkal, reaktif, dan condong mengejar sensasi, bukan substansi.

Dalam situasi ini, sosok The Grand Old Man, Agus Salim, datang sebagai cermin nan tajam, seorang tokoh nan hidup di era tanpa teknologi canggih, tetapi bisa membikin bumi mendengar dan mempercayai Indonesia. Julukan tersebut bukan sekadar penghormatan, melainkan juga pengakuan atas kebijaksanaan, kedalaman intelektual, dan integritasnya sebagai negarawan. Ia bukan sekadar diplomat, melainkan juga simbol gimana komunikasi dapat menjadi perangkat strategis dalam memperjuangkan kepentingan bangsa.

Agus Salim—yang lahir dengan nama Masyudul Haq pada 8 Oktober 1884 di Koto Gadang, Sumatera Barat—merupakan salah satu diplomat dan ahli filsafat paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Ia berasal dari family terdidik, mengenyam pendidikan elite kolonial di HBS (Hogere Burger School), dan dikenal sebagai lulusan terbaik. Kariernya mencerminkan keluasan langkah pandangnya, mulai dari jurnalis, personil Volksraad, tokoh Sarekat Islam, hingga Menteri Luar Negeri di masa awal Republik. Keunggulannya tidak hanya terletak pada penguasaan bahasa asing, tetapi juga pada integritas moral dan kepintaran retorika nan menjadikannya disegani secara global.

Agus Salim menjadikan komunikasi sebagai inti kekuatan diplomasi. Hal ini terlihat jelas dalam misi ke Mesir tahun 1947, sebuah titik kembali krusial dalam sejarah Indonesia. Di tengah upaya Belanda mengisolasi Indonesia, dia membangun pendekatan komunikasi nan tidak hanya faktual, tetapi juga emosional dan kultural. Ia berbincang kepada Mesir sebagai sesama bangsa nan pernah mengalami kolonialisme.

Ilustrasi Mesir Foto: Shutterstock

Hasilnya, pada 10 Juni 1947, Mesir menjadi negara pertama nan mengakui kemerdekaan Indonesia secara de jure. Keberhasilan ini menegaskan bahwa komunikasi nan efektif bukan hanya soal pesan, melainkan juga keahlian membangun kedekatan dan kepercayaan.

Lebih dari itu, Agus Salim memahami komunikasi sebagai seni membangun kepercayaan. Dalam beragam forum, dia menyesuaikan bahasa dan pendekatannya sesuai audien. Ia tidak menyerang dengan emosi, tetapi dengan logika dan ketepatan argumen. Prinsipnya sederhana, “Berbicara itu kudu ada artinya.” Baginya, kata-kata adalah instrumen perjuangan nan bisa membentuk persepsi dunia.

Peran Diaspora Indonesia

Memasuki era globalisasi, peran komunikasi strategis seperti nan dicontohkan Agus Salim tidak lagi dimonopoli oleh negara. Diaspora Indonesia sekarang menjadi tokoh krusial dalam diplomasi publik. Dengan jumlah lebih dari delapan juta orang nan tersebar di beragam negara, diaspora menjadi “wajah bangsa” nan berinteraksi langsung dengan masyarakat internasional. Dalam paradigma diplomasi modern, gambaran negara semakin ditentukan oleh hubungan langsung masyarakat, bukan hanya oleh negara.

Di era digital, peran diaspora apalagi semakin meluas. Media sosial, platform video, hingga jejaring ahli dunia telah mengubah diaspora menjadi digital diplomat nan bisa membentuk persepsi bumi secara real time. Setiap unggahan, opini, dan hubungan di ruang digital menjadi bagian dari narasi tentang Indonesia. Di sinilah komunikasi digital menjadi medan baru diplomasi, cepat, luas, tetapi juga rentan terhadap distorsi. Tanpa strategi nan matang, komunikasi digital justru berpotensi memperkuat stereotip negatif alias menciptakan pesan nan kontradiktif.

Ilustrasi komunikasi. Foto: Pexels

Untuk itu, diaspora Indonesia perlu mengembangkan strategi komunikasi digital nan efektif dan terarah. Pertama, menjaga konsistensi narasi, ialah memastikan bahwa pesan nan disampaikan mencerminkan nilai, identitas, dan kepentingan Indonesia secara utuh. Kedua, mengedepankan credibility-based communication, ialah menyampaikan info berbasis data, pengalaman autentik, dan perspektif nan dapat dipercaya, bukan sekadar opini emosional.

Ketiga, memanfaatkan storytelling digital, dengan menampilkan kisah nyata tentang Indonesia, budaya, inovasi, maupun kehidupan masyarakat, nan lebih mudah diterima publik dunia dibandingkan pesan formal. Keempat, membangun jejaring digital nan kolaboratif, baik dengan sesama diaspora, lembaga Indonesia, maupun organisasi global, untuk memperkuat jangkauan dan akibat pesan.

Kontribusi diaspora sendiri dapat dipetakan dalam beberapa pilar utama. Pertama, diplomasi budaya dan kuliner melalui festival, restoran, dan organisasi dunia nan meningkatkan daya tarik Indonesia. Kedua, penyebaran Bahasa Indonesia sebagai bagian dari identitas nasional. Ketiga, pengembangan pengetahuan pengetahuan oleh ahli dan akademisi diaspora nan memperkuat reputasi SDM Indonesia. Keempat, jejaring upaya dan investasi nan membuka kesempatan kerja sama ekonomi global. Semua ini memperlihatkan bahwa diaspora bukan hanya simbol, melainkan juga tokoh strategis dalam membentuk gambaran bangsa.

Diaspora juga perlu memahami dinamika algoritma dan ekosistem media digital. Konten nan menarik secara visual, relevan dengan rumor global, dan dikemas dengan bahasa nan inklusif bakal lebih mudah menjangkau audiens internasional. Di sinilah keahlian penyesuaian menjadi kunci, sebuah perihal nan sejak dulu telah dicontohkan oleh Agus Salim dalam menyesuaikan komunikasi dengan audiens nan berbeda. Artinya, prinsip komunikasi strategis tetap sama, hanya mediumnya nan berubah.

Sutan Syahrir (tengah) berbareng Haji Agus Salim (kanan) di konvensi PBB di New York, 14 Agustus 1947. Foto: Keystone/Getty Images

Meski demikian, beragam tantangan tetap membayangi. Salah satunya adalah brain drain, ialah perpindahan SDM unggul ke luar negeri akibat aspek politik, ekonomi, sosial, maupun terbatasnya kesempatan di dalam negeri. Diaspora juga menghadapi persoalan identitas, antara mempertahankan jati diri sebagai orang Indonesia dan beradaptasi dengan lingkungan global.

Keterlibatan diaspora dalam strategi nasional juga tetap belum optimal dan condong terfragmentasi. Tantangan semakin kompleks di era digital, di mana muncul potensi fragmentasi narasi. Tanpa pengelolaan nan baik, beragam bunyi diaspora nan tidak terkoordinasi justru dapat melemahkan konsistensi pesan dan kredibilitas Indonesia di mata dunia.

Di sinilah warisan Agus Salim menemukan relevansinya kembali. Ia mengajarkan bahwa komunikasi tidak sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga membangun makna, kepercayaan, dan hubungan. Dalam konteks ini, diaspora Indonesia dituntut untuk tidak hanya datang sebagai representasi sosial, tetapi juga sebagai komunikator strategis nan bisa mengelola narasi, baik di ruang bentuk maupun digital.

Krisis komunikasi nan dihadapi Indonesia saat ini bukan masalah teknologi, melainkan masalah kualitas narasi dan integritas. Diaspora Indonesia mempunyai kesempatan besar untuk menghidupkan kembali tradisi komunikasi nan berarti tersebut di panggung global. Namun, perihal itu hanya dapat terwujud jika setiap kata, konten, dan interaksi—termasuk di ruang digital—dipahami sebagai bagian dari diplomasi. Dalam semangat itulah, warisan The Grand Old Man tidak sekadar dikenang, tetapi juga dipraktikkan sebagai fondasi komunikasi Indonesia di era global.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan